Friday, March 13, 2009

Bait-bait Syadziliyah dan Odd Time Signature





Bagi saya, bulan puasa lalu adalah saat-saat yang mengesankan. Justru di bulan yang disucikan itulah saya didatangi semacam perasaan kekeringan spiritual. Saya pun mencoba-coba mencari wahana untuk penyejukan suasana hati. Dan yang akhirnya saya temukan adalah jalan-jalan dengan tema safari Ramadan, serta menyaksikan beberapa konser musik spiritual.

Salah satu agenda yang memang saya nantikan saat itu adalah Sufi Jazz Tour yang diusung oleh Eftekasat, salah satu band Cairo beraliran jazz oriental. Bersama beberapa kawan Indonesia, kami sepakat untuk menghadiri satu dari tiga jadwal pentas tur itu, Kami memilih hari kamis tanggal 18 september 2008 di mana Eftekasat berencana manggung di Saqiat El S
awy Culturewheel. Selebihnya tur ini diselenggarakan pada tanggal 25 september di Bait Harawy Cairo, dan tanggal 26 bulan yang sama di Jesuit Cultural Center, Alexandria.

Dari beberapa info yang saya kumpulkan beberapa hari sebelum konser, saya mendapatkan bahwa tur ini akan menghadirkan bintang tamu Ruba Saqr, seorang penyanyi wanita dari Jordania. Saat itu saya telah sedikit tahu tentang seluk beluk Eftikasat, tetapi tentang siapa itu Ruba Saqr, saya masih belum tah
u apa-apa..

Hari kamis malam selepas buka, saya berangkat menuju lokasi acara bersama tiga orang kawan. Loket tampak cukup padat. Wajar saja, mengingat malam itu adalah malam jumat, malam hari libur Mesir. Karena kami belum terdaftar sebagai anggota dari Saqiat El Sawy Culturewheel kami harus membayar tiket masing-masing sebesar 20 pound Mesir, berbeda dari anggota yang hanya dikena
kan 15 pound Mesir.

Konser diada
kan di Wisdom Hall (Qa'at al Hikmah), satu di antara beberapa venue yang dimiliki El Sawy. Dan benar, setelah kami menemukan tempat duduk sesuai nomor, ternyata penonton makin membanjir. Pukul 21.00 pentas dimulai, didahului dengan sebuah prakata dari pihak El Sawy. Kami pun dibuat semakin penasaran.

Para pemain pun muncullah. Ada Amro Salah sang pemain keyboard yang merupakan ‘otak’ dari Eftekasat. Samer George sang pemain bass, begitu pula Hany Bedair si perkusionis telah pula nampak. Posisi gitar dan nay (seruling Arab) masih kosong. Saya berpikir si gitaris Mohamed Lotfy dan pemain nay Hany Badry akan muncul belakangan.

Di posisi drum ada Ahmad Hesham, yang bukan pemain asli Eftekasat. Pikir saya, mungkin Amro Khairy sang drummer asli sedang berhalangan. Ada juga dua orang additonal player malam itu, menempati posisi biola dan oud (gitar Arab). Si penggesek biola malam itu, Mohamad Medhat, memang biasa bermain sebagai additional play
er Eftekasat. Tetapi oud malam itu tidak dimainkan oleh Naseer Shamma, sang additional player biasanya.

Pentas diawali dengan beberapa nomor instrumental. Amro Salah adalah kunci dari nuansa jazz yang muncul malam itu, sementara nuansa oriental dihadirkan oleh Mohamad Medhat melalui gesekan biolanya. Setelah beberapa nomor yeng mampu menghipn
otis para penonton dimainkan, muncullah Ruba Saqr sang vokalis tamu. Suasana spiritual mulai benar-benar terasa. Ruba Saqr mulai melantunkan tembang-tembang sufi (anashid as shufiyyah) dengan lirik-lirik yang begitu kontemplatif. Saya pribadi merasa terbang malam itu, entah kawan-kawan saya dan penonton yang lain. Saya menggerakkan kaki dan tangan saya sepanjang pentas, sementara kedua mata saya seringkali terpejam untuk beberapa lama.

Dalam sebua
h jeda, Ruba mulai menyapa penonton. Dia bertutur bahwa bait-bait puji-pujian yang dia suguhkan dalam tur kali ini adalah puji-pujian yeng turun-temurun ditembangkan oleh para pengikut tarekat sufi Syadziliyah. Tarekat ini merupakan ajaran dari Syekh Syadzili yang bermula dari daerah Afrika Utara dan berkembang ke berbagai wilayah di dunia. Dan kebetulan keluarga Ruba dari garis ibu adalah para pengikut tarekat ini. Dari pengaruh lingkungan keluarganya inilah akhirnya ia mencoba menggali khazanah tasawuf klasik untuk ia artikulasikan dalam bahasa dia yaitu musik. Dan Eftekasat adalah band yang ia pilih untuk bekerjasama mengusung tur jazz sufi ini.

Seperti jamaknya, syair-syair Arab klasik ditulis dalam bentuk bait-bait yang mengikuti kaidah ilmu ‘arudl atau prosodi. Kaidah ini mengatur agar bait-bait ditulis dan dinyanyikan dalam rima tertentu dari awal sampai akh
ir. Apabila kita komparasikan dengan lagu-lagu sat ini, bait Arab klasik terkesan monoton karena tidak menyertakan bridge ataupun reffrain. Semua nada sama saja dari awal hingga akhir. Tetapi dalam penampilan malam itu, bait-bait klasik tersebut bisa ditampilkan dengan begitu menarik dan tidak membosankan. Vokal Ruba berhasil menyuguhkan rangkaian pitch yang terkontrol, dan lebih dari itu, karakter suaranya terasa sangat cocok dengan konsep lagu spiritual.

Bait-bait yang saya pikir monoton bisa disiasati sangat baik melaui permainan drum Ahmad Hesham. Ia menampilkan sinkopasi, pergantian beat-beat yang variatif, berganti-g
anti dalam sebuah lagu. Yang lebih menggemaskan lagi bagi saya adalah odd time signature yang dimainkan Hesham Ketukan-ketukan menggantung ini begitu membuat renyah setiap ujung bait yang dinyanyikan Ruba. Odd time signature memang salah satu hal yang sangat saya gemari. Ketukan-ketukan anomali ini bagi saya sangat misterius, eksotik, kadang membuat penasaran. Ketukan model ini saya kenal pertama kali lewat grup-grup metal progresif semisal Dream Theater, Shymphony X, atau Circus Maximus. Saya memang jauh lebih dahulu menggemari musik metal sebelum saya mulai kenal musik jazz fusion seperti yang dimainkan Eftikasat ini.

Malam itu Amro Salah juga benar-benar cerdas memainkan jazz scale, birama khas aliran jazz. Walhasil, dua entitas, sufi dan jazz, benar-benar bisa berpadu tanpa harus kehilangan substansinya. Perkusi juga dengan beres dimainkan Hany Bedair yang berganti-ganti memainkan conga dan beberapa intstrumen perkusi Arab yaitu darbukah, riqq, maupun bandir.

Untuk bass, Samer George telah berhasil menjaga beat tiap nomor. Sayang sekali dia tidak diberi kesempatan lebih untuk sekedar menunjukkan skil yang ia miliki lebih jauh. Ia hanya tampil kalem dan tidak atraktif, seolah sekedar bertugas menggembala personel-personel lain yang bertingkah-polah. Lebih saya sayangkan lagi adalah permainan oud yang benar-benar hilang malam itu. Si pemain oud telah memainkan alatnya dari awal sampai akhir pentas, tetapi saya tak berhasil merasakan permainannya karena suara tidak benar-benar masuk ke sound system. Sayang sekali, irama oriental yang disuguhkan biola seharusnya akan makin kental jika didukung oleh permainan oud. Praktis, malam itu suara oud hanya terdengar lamat-lamat dari awal sampai akhir.

Yang lebih membuat kecewa hati saya adalah tidak munculnya pemain gitar dan nay hingga akhir pentas. Belakangan saya tahu kalau ternyata Eftekasat mengalami pergantian pemain di bagian gitar dan nay. Mungkin malam itu adalah masa transisi bagi Eftekasat sebelum akhirnya mendapatkan pemain gitar baru Sherif Watson dan pemain nay baru Mohamad Farag. Selebihnya Ahmed Hesham yang malam itu menjadi pemain drum pengganti, serta Mohamad Medhat yang malam itu menjadi additional player bagian biola, saat ini keduanya telah tercatat sebagai personel resmi Eftekasat.

Walau demikian, malam itu Eftekasat benar-benar membuktikan diri sebagai grup jazz professional. Ruba Saqr juga membuktikan kesuksesannya melakukan artikulasi ulang khazanah tasawuf klasik. Semua ini didukung dengan El Sawy yang menyuguhkan tata cahaya yang amat apik. Tak aneh jika banyak penonton yang harus berdiri karena tak dapat tempat duduk pun tak mau beranjak hingga akhir pentas. Walhasil pengalaman Ramadan malam itu cukup menyejukkan bagi saya pribadi.



0 Comments: