Wednesday, March 11, 2009

Bangun

Lalu aku memilih lewat pematang, lurus ke samping rumah. Mungkin karena lebih dekat. Tapi lebih dari itu, aku menapak tilas masa lalu, dulu saat masih belum remaja. Di pertengahan aku berhenti di pintu air, tempat membagi aliran irigasi. Di sinilah dulu aku sering bermain, memasang kincir air mungil dari lidi dan patahan tangkai merah daun ketela. Sehampar sawah di samping rumahku inilah yang membuatku bercita-cita menjadi sarjana pertanian, sejak lama, bahkan sejak di sekolah dasar sekalipun. Keluargaku punya beberapa bidang sawah, namun di sana, di desa tetangga. Ya, sawah dan sawahlah yang menyemangatiku. Dan benar, saat ini aku adalah mahasiswa fakultas teknik pertanian di universitas negeri terbesar di ibukota propinsi.

Sebentar ku menyapu pandang, mengaitkan masa lalu dan saat ini. Dulu semasa SD, aku murid berprestasi, selalu mewakili sekolah di macam-macam lomba. Lalu aku masuk ke SMP di kota kecamatan, masih menjadi murid berprestasi. Sekolah selanjutnya adalah SMA di kota. Tak terlalu berprestasi, mungkin karena persaingan terlalu ketat. Namun yang pasti aku bisa masuk jurusan IPA, dan selepasnya, mampu kuliah di jurusan yang aku inginkan. Tapi kini, mengapa saat semester sembilan seperti ini, kuliahku tak kunjung kelihatan mau usai? Sebenarnya tak sibuk di mana-mana aku ini. Waktuku banyak, namun melompong, habis dilewati begitu saja di rumah kos. Entah apa, sampai lupa apa saja yang kulalukan empat setengah tahun ini. Memang ada hal yang membuatku kurang bersemangat. Ternyata saat ini aku merasa tidak menikmati jurusanku, bahkan menyesali pilihanku ini. Mungkin karena pikiran bahwa jurusan pertanian tak terlalu memberi harapan pekerjaan yang mapan. Aku yang realistis saat ini, sering menertawai pengalaman masa laluku soal semangat yang satu ini. Ternyata aku dulu sangat romantis menjadi seorang anak petani.

Akhir pematang, melewati rimbun bambu, tengah dua empang, sepetak pekarangan, aku telah di depan pintu samping. Daun pintu atas terbuka, daun pintu bawah tertutup, tapi aku bisa membuka ganjalnya. Masih biasa seperti dulu, pintu ini terbuka separuh di siang hari selagi ada orang di dalam, tanpa kecurigaan. Tak berucap salam, aku masuk dan terduduk di salah satu kursi ruang tengah.

Tiba-tiba tirai pintu ke ruang depan tersibak, sesosok muncul, namun langsung terhenyak. Aku malah tertawa. Setelah melewati kekagetan sambil menarik nafas panjang dan menekan dada, ia baru berkata

"Kamu itu, masuk nggak pake kula nuwun. Bikin kaget aja!" Sungutnya.
Aku masih tersenyum.
"Udah lama kamu ? Udah makan belum? Itu ada nasi berkat di lemari dapur." Katanya bertubi.
"Barusan kok. Itu nasi berkat dari siapa, mbak?" Jawabku balik bertanya.
"Itu, pak Salman mantu." Jawabnya lagi
"Oh, si Nana! Dapat mana, mbak?" Tanyaku lagi.
"Orang Jakarta. Eh! Aku berangkat ngajar dulu ya!" Pungkasnya

Itu kakak perempuanku, terpaut tiga tahun dariku. Ia lulusan perguruan tinggi negeri Islam. Sampai saat ini tidak bekerja, tidak pula menikah. Padahal beberapa pria telah menanyakan tentangnya kepada ayah, namun entah, kakkku tak pernah mau. Sehari-hari ia seperti ini, mengurusi rumah, sore pergi ke langgar, menjadi guru mengaji anak-anak. Sejak lulus SD selama enam tahun ia bersekolah di kota, di madrasah negeri sambil mondok di sebuah pesantren kecil.

Terdengar deru sepeda motor makin mengecil. Ah, itu sepeda motor kenangan. Dulu aku sering berebut sepeda motor itu dengan adi lelakiku, untuk ke sekolah, atau sekedar bermain-main. Ayahku malah yang sering mengalah, padahal saat itu ia belum pensiun dari kantor kelurahan. Kini tinggal ayah dan kakakku yang memakainya di rumah. Aku kuliah, adikku kini sedang mengikuti pendidikan di sekolah kepolisian. Sepeda motor itulah yang menghidupi kami. Berapa karung gabah dan beras yang telah dipanggulnya bolak-balik dari sawah, penggilingan, rumah, atau ke tengkulak, aku tak bisa menghitungnya.

Baru sebentar aku menyetel televisi, sosok bayangan muncul di pintu, nampak di ujung mataku. Ayahku. Ia lalu masuk, dengan pakaian kebesarannya setiap pergi ke masjid, yaitu sarung, baju batik lengan panjang yang ujung lengannya selalu dikancing rapi, sebuah songkok hitam. Aku merasa harus berdiri dan menyambutnya. Kucium tangannya, dingin. Lalu ia lepas baju batiknya, duduk di dekatku dengan kaus dalam tanpa lengan.Wajahnya dingin pula, tak banyak kata. Hanya mampu ramai pada saat menonton siaran tinju di televisi.

Kami duduk bersama dalam hening. Ayahku yang dingin ini, seolah tak pernah mau tahu apa yang kulakukan selama ini. Sejauh yang ku ingat, ia tak pernah bertanya tentang nilai-nilaiku di sekolah. Bahkan saat aku memilih jurusan kuliah, ia tak pernah kelihatan ingin tahu. Ya itu memang sifatnya. Bagiku itu bukan ketidakpedulian. Dulu, semasa masih ada ibu, ada orang yang mampu menemani dinginnya. Namun semenjak meninggalnya ibuku dua tahun lalu, aku menjadi kasihan kepada ayahku. Siapa lagi yang akan menemani suasana dinginnya?

"Itu si Munif pulang." Tiba-tiba ia memecah sunyi.
"Sudah lama, pak?" tanyaku.
"Sudah tiga hari." Jawabnya disusul sepi lagi.

Munif adalah anak kiyai Jalal, pemuka agama desaku, sang pemelihara Masjid. Rumahnya pun tepat di samping masjid. Tidak ada pesantren, cuma ada beberapa remaja dan anak muda kampung yang mengaji kepada kiyai Jalal. Kebetulan aku dan Munif sepantar. Kami mengaji bersama kepada ayahnya, dan kami satu sekolah semenjak SD dan SMP. Selepas itu aku bersekolah di kota, ia belajar di pesantren luar kota, sampai sekarang.

Beberapa saat aku dan ayah melewati sepi bersama ramainya televisi sebelum akhirnya aku beranjak. Setelah sembahyang ashar aku masuk kamarku yang dulu. Aku rebah di atas ranjang. Uh! Hari sabtu yang melelahkan. Kuliah kuikuti dari pagi sampai siang. Selepasnya aku tidur sebentar di kamar kos. Di dalam bus pun aku masih sempat tidur. Dan sekarang sepertinya kantuk masih belum hilang.

***

Aku terbangun oleh ketukan pintu. Ternyata aku tertidur, dan sekarang telah gelap. Kulihat ayahku di depan pintu, masih berdiri namun diam, meyakinkan diri kalau aku benar-benar sudah bangun. Kudengar puji-pujian dari pengeras suara masjid, itu tandanya sembahyang jamaah belum mulai. Kuperhatikan ayahku telah hilang, pasti telah berangkat ke masjid. Aku mandi seperlunya, tak mau ketinggalan di masjid.
Masih dalam lari-lari kecil, aku menapak tangga depan masjid. Di dalam jamaah baru mulai. Sampai ke serambi aku dihentikan oleh sebuah tepukan di punggung. Lantas ku menoleh dan kulihat seorang yang sangat kukenal.

"Wooooallahh!! Wong edan!! Sungutku dalam bisik. Munif hanya cekikikan.
"Masih belum berubah, yang punya masjid selalu datang telat" Lanjutku. Munif makin tertawa.

Kami tak bisa bicara lama, kami harus langsung bergabung dengan jamaah.

Selepas jamaah, aku sengaja duduk lama untuk menunggu kiyai Jalal. Jamaah sudah sepi ketika kiyai Jalal beranjak undur. Aku langsung songsong dan salaminya. Ia bilang anaknya pulang dan aku bilang kalau aku sudah tahu bahkan sudah bertemu sebentar. Dan Munif pun masih kelihatan duduk di dalam masjid. Kami berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya aku adan Munif duduk-duduk di tangga depan masid.

Obrolan sehabis maghrib ini hanya berisi cerita-crita terbaru seputar kehidupan kami. Ternyata Munif mendapat ijin pulang dengan alasan menghadiri pernikahan salah satu famili dari ibunya. Kami masih duduk hingga jamaah isya dimulai. Selepas isya obrolan berpindah ke warung kopi seberang masjid.

"Emang kamu kenapa jadi nggak bersemangat kuliah?" Tanya Munif kepadaku.
"Nggak tahu ya, aku merasa salah memilih jurusanku. Hanya mengikuti semangat masa kecil," kataku.
"Kan bagus, bisa mengembangkan pertanian desa ini" Lanjutnya
"Alahh!!" Sahutku
"Lha emang kalau disuruh mengulang, kamu mau milih apa?' Tanyanya lagi.
"Ya…. Apa lah! Ilmu komputer atau teknik yang lain, yang penting bukan teknik pertanian." Paparku
"Kalau akau sih, sebenarnya terpaksa juga masuk pesantren." Sambut Munif ganti bercerita.
"Lha memang kamu sekarang harapan keluarga sebagai pengganti ayahmu kan?" Potongku.
"Itulah! Gara-gara kakak lelakiku satu-satunya malah ikut istrinya, aku jadi korban. Sebenarnya nggak masalah sih bagiku masuk pesantren. Tapi ya sekedar belajar agama, bukan untuk jadi kiyai. Aku sebenarnya ingin jadi pengusaha." Tutur Munif.

***

Malam itu aku berangkat tidur sambil membaca-baca kitab-kitab saat pengajianku dengan kiyai Jalal. Juga beberapa buku satatan sekolah di SMA. Dan paginya, aku terbangun masih dalam keadaan memegang sebuah buku tulis dalam keadaan terbuka.
Hari minggu ini aku sengaja menikmati rumah. Seharian hanya menonton televisi. Cuma saat siang aku keluar ke sembahyang di masjid sekaligus pamitan dengan Munif. Sore ini aku harus berangkat lagi. Munif masih di rumah hingga besok lusa.

Sewaktu ashar aku mulai berkemas. Tasku kini diberati bungkusan salak hasil petikan kebun belakang rumah. Aku tidak ke masjid. Setelah ayah datang dari masjid aku berpamitan. Ia selipkan uang saku di genggaman tangan, seperti biasa. Kucium tangannya, aku pandangi matanya. Kedua mata itu memandang tajam, namun menggetar. Ia diam tapi aku menyimak sesuatu dalam diamnya.

Aku minta diantar kakak perempuanku ke kecamatan. Angkutan pedesaan kadang lama ditunggu. Tak apalah dia terlambat sebentar mengajar di langgar. Aku di depan, kakakku membonceng.

Di tengah jalan aku menyadari sesuatu. Ya. Ayahku, kakakku, adikku, teman-temanku, tetanggaku, pun ibuku saat ini sangat mengharapkanku. Seseorang diharapkan bukan untuk menjdi apa, tapi untuk menyelesaikan persoalan di hadapannya. Tak peduli belajar apa, di mana, yang penting menyelesaikannya. Mau jadi apa kelak, itu urusan nanti.

Aku melewati sepetak sawah. Dulu itu punya kami. Sudah dijual ke orang lain untuk membiayai adikku menjadi polisi. Adik lelakiku itu, walaupun bandel dan banyak mengabiskan uang, tapi ayah kelihatan bangga padanya.

Tiba-tiba aku merasa harus menambah kecepatan laju sepeda motor. Aku ingin segera sampai di rumah kos. Ada makalah yang belum selesai untuk kuliah esok hari.









Oktober 2007






0 Comments: