Thursday, March 26, 2009

Berbahasa Jawa dengan Abjad Latin; Aturan Transliterasi yang tak Dipahami Orang Jawa


Sebagai sebuah bahasa daerah, bahasa Jawa lebih dikenal sebagai sebuah bahasa tutur dibanding sebagai bahasa tulis. Penyebabnya adalah aksara Jawa sebagai simbol asli bahasa ini tak lagi digunakan secara umum. Dulu ketika tingkat melek huruf masih rendah, aksara Jawa tak dipahami oleh seluruh masyarakat Jawa, namun hanya dipahami oleh kalangan tertentu semisal kalangan keraton dan para pujangga. Dan kini, ketika akses mempelajari aksara Jawa tak lagi sukar, persoalan baru yang muncul adalah keengganan penggunaannya. Abjad Latin yang lebih sederhana telah lebih mendominasi, dan aksara Jawa pun kembali menjadi eksklusif. Ia hanya didalami oleh orang-orang semisal peneliti manuskrip kuno, dan hanya digunakan oleh pihak-pihak semisal pemerintah kota atau daerah tertentu di Jawa yang menghendaki pelestarian tradisi. Jadilah aksara Jawa kini menjadi semacam sebuah item di dalam etalase cagar budaya Jawa.



Di sisi lain, abjad Latin telah menjadi simbol utama bahasa tulis bangsa Indonesia termasuk masyarakat Jawanya. Dengan demikian bahasa Jawa pun mau tak mau harus mengikuti arus ini, dalam arti harus mampu disampaikan dalam simbol abjad Latin. Maka muncullah aturan transliterasi atau konversi bahasa Jawa ke abjad Latin, untuk mengatur penggunaan bahasa Jawa dalam ranah sastra maupun jurnalistik kontemporer. Usaha ini bukanlah persoalan kemarin, namun telah ada seiring mulai digunakannya abjad Latin oleh bangsa Indonesia

Dan berbarengan dengan berkembangnya teknologi mutakhir, semakin banyak muncul wahana penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa tulis. Tak pelak, bahasa Jawa tulis – dalam abjad Latin – bukan lagi didominasi oleh para pegiat sastra maupun jurnalistik Jawa. Seorang bersuku Jawa di manapun ia berada, dan apapun latar belakang aktifitasnya, tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa bahasa Jawa tak lagi hanya menjadi bahasa tutur saja, tetapi telah pula menjadi bahsa tulis kembali. Ini semua disebabkan semakin meluasnya penggunaan piranti-piranti modern semisal telepon genggam, komputer, televisi, atau media apapun yang mampu menghadirkan bahasa Jawa sebagai bahasa tulis dan visual.

Dengan telepon genggam, orang Jawa menulis pesan singkatnya dalam bahasa Jawa. Di layar komputer, melalui media internet, bahasa Jawa mudah ditemukan dalam e-mail, milist, blog, komentar, atau apapun jenis lainnya. Di televisi orang bisa membaca lirik lagu bahasa Jawa ketika menyanyi di karaoke. Di media-media periklanan juga demikian, bahasa Jawa telah biasa ditulis dalam abjad Latin. Di stiker tempel, di surat undangan, di graffiti tembok-tembok, corat-coret, dan masih banyak lagi, bahasa Jawa dengan tulisan Latin mudah kita temukan.

Nah, karena beberapa wahana tersebut bukan termasuk merupakan wilayah sastra dan jurnalistik, maka semua hasil tulisan sama sekali tidak tunduk pada mekanisme penyuntingan atau editing. Walhasil, jika dinilai berdasarkan aturan konversi aksara Jawa ke abjad Latin, makan tulisan-tulisan tersebut sebagian besar bisa dinilai salah.

Pada umumnya orang Jawa cenderung menulis sesuai bunyi dari kosa kata Jawa yang ia dengar. Maka ia akan menuliskan bunyi itu dengan abjad Latin mana yang sesuai dengan pendengaran. Padahal sebanarnya ada perbedaan karakter yang mendasar antara abjad latin dengan aksara Jawa. Abjad Latin bersifat alphabetic, yaitu memerlukan huruf vokal sebagai pembantu bunyi. Sementara itu aksara Jawa bersifat syllabaric, alias tak melulu membutuhkan bantuan aksara vocal atau sandhangan. Contoh sederhana, aksara ha na ca ra ka dan seterusnya mampu berbunyi walaupun masing –masing hanya berdiri sendiri.

Pada prakteknya, orang bisa menulis ha na ca ra ka dengan ho no co ro ko, karena berpedoman pada bunyinya. Menurut abjad Latin, bunyi tersebut hanya mampu terwakili oleh huruf ő, sebagai huruf vokal. Padahal semestinya, bunyi tersebut merupakan elemen inheren dari masing-masing aksara, tanpa bantuan vokal apapun. Kesalahan yang umum misalnya penulisan kata 'teman' dalam bahasa Jawa sebagai konco, bukan sebagaimana mestinya yaitu kanca. Pada penulisan aksara Jawa, kata kanca ditulis tanpa bantuan vokal apapun. Sedangkan apabila yang tertulis adalah konco, maka logikanya adalah kata tersebut ditulis dengan bantuan vokal taling dan tarung.

Misal silang sengkarut lain adalah penulisan vokal i dalam bahasa Jawa. Berdasarkan bunyi yang terekam, orang sering menulis kata sing (yang) dengan seng. Contoh lain adalah kata wis (sudah) yang sering ditulis dengan wes . Semestinya, kedua kata sing dan wis ditulis dalam aksara Jawa dengan menggunakan bantuan vokal wulu. Apabila kedua kata tersebut ditulis dengan seng atau wes, maka akan terdapat kesalahan dalam konversi balik ke aksara Jawa, yaitu penggunaan bantuan vokal pepet atu taling.

Kesalahan-kesalahan di atas berlaku dalam masyarakat dengan tanpa disadari. Sifat bahasa komunikasi memang tak mengharuskan adanya aturan-aturan ketat dalam soal transliterasi. Pola penulisan berdasar bunyi ini memang telah menjadi fenomena yang jamak ditemui. Apalagi ketika pihak yang bukan si empunya bahasa ikut mengambil peran. Nama-nama resmi daerah di Jawa ditulis menurut aturan pusat yang ditetapkan di Jakarta. Nama kota kelahiran saya contohnya, ditulis sebagai 'Purworejo', bukan sebagaimana seharusnya sesuai aturan transliterasi yaitu Purwareja. Orang Jawa sendiri menyebut ibu kota karesidenan Surakarta dengan bunyi Solo bukan Sőlő sebagaimana mestinya. Ini disebabkan penulisan nama kota ini secara nasional sebagai 'Solo', bukan sebagai Sala. Ada sebagian pihak yang merasa si empunya bahasa Jawa bertindak untuk menyikapi hal ini. Harian Suara Merdeka misalnya, saat ini selalu menuliskan nama kota bengawan ini sebagai Sala, bukan lagi sebagai 'Solo'.

Di mana-mana tempat, konversi bahsa memang problematis. Abjad Latin yang mendunia pun harus termodifikasi ketika berbenturan dengan beragam bahasa lokal. Bahasa Jerman, Turki, Vietnam, dan banyak bahasa lain menyertakan tanda-tanda khusus sebagai penyelaras agar abjad Latin sesuai dengan lahjah lokal. Tak hanya bahasa daerah, bahasa Indonesia juga harus melewati sejarah panjang dalam perumusan konversinya dari bahasa asing.

Bahasa Jawa juga pernah punya pengalaman berbenturan dengan entitas perangkat bahasa lain yaitu huruf Arab. Ketika itu, konversi bahasa Jawa ke huruf Arab melahirkan modifikasi yang disebut sebagai huruf Arab Pégon. Penggunaan huruf ini masih berlangsung sampai sekarang terutama di pesantren-pesantren tradisional Nusantara.

Dan huruf Arab pun pada akhirnya harus memiliki aturan konversi ke abjad Latin. Beberapa huruf yang sama-sama mendapat bantuan vokal fathah juga bisa memiliki bunyi berbeda. Akhirnya muncul perbedaan-perbedaan. Ada yang menulis Allah, ada yang menulis Alloh. Ada yang menulis rahmat, ada yang menulis rohmat. Tulisan bahasa Arab gaul bahkan akhirnya menambah simbol-simbol bantuan yang berupa angka-angka, untuk beberapa konsonan tertentu. Jadilah anak muda Mesir dengan huruf Latin menulis “7asib ya 3amm”, yang berarti “hati-hati, Bung”. Contoh barusan menunjukkan betapa persoalan bahasa dunia dengan berbagai lahjahnya memang sarat problematika.

Dan aksara Jawa sendiri bukan berarti tak problematis. Dalam bunyi vokal contohnya, sebuah aksara Jawa yang berdiri sendiri bisa menjadi ambigu karena mengandung vokal a dan ő. Sebuah taling bisa bermakna rancu karena mengandung bunyi è atau é. Dan sebuah taling tarung bisa membingungkan karena mengandung bunyi o atau ő.

Namun problematika ini bukan diabaikan begitu saja oleh pihak-pihak yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa Jawa. Sejauh ini, Kongres Bahasa Jawa telah dilaksanakan selama empat kali semenjak tahun 1991, dua kali di Semarang, dan masing-masing sekali di Yogyakarta dan Malang. Dan pembicaraan yang diagendakan salah satunya tentu saja adalah persoalan transliterasi.

Memang sebuah persoalan yang perlu dibahas matang. Beberapa kalangan malah memiliki perbedaan metode transliterasi tersebut. Beberapa media berbahasa Jawa dalam sajiannya tidak memberikan spesifikasi pada bunyi taling dengan menggunakan è dan é. Beberapa penerbitan malah lebih kreatif dalam menyikapi kemungkinan bunyi ganda pada vokal a Jawa. Mereka menggunakan huruf a biasa untuk bunyi ő, sementara untuk bunyi a biasa mereka menggunakan huruf a dengan garis bawah (a).


Sementara itu, dalam aspek aplikatif, menggunakan cara penulisan dengan transliterasi yang semestinya justru kadang melahirkan masalah. Orang-orang yang terbiasa menulis berdasarkan bunyi akhirnya malah membaca tulisan ini dengan salah. Yang terdengar justru adalah bunyi berdasarkan logika pembacaan huruf Latin, bukan logika pembacaan aksara Jawa.

Pernah suatu ketika seorang teman melirik sebuah karya sastra Jawa modern yang sedang saya baca. Seketika ia mengatakan bahwa karya tersebut menggunakan gaya bahasa ngapak, entah itu gaya Banyumas atau ala Brebes dan Tegal. Baginya, ketika kata ‘teman’ diterjemahkan dalam bahasa Jawa dengan tulisan kanca, maka kata ini menjadi bagian dari kosa kata ngapak. Apabila mengehendaki bahasa ala Jawa bagian tengah dan timur, penulisan yang tepat baginya adalah konco.

Yang segera muncul di benak saya saat itu adalah betapa bahasa Jawa dalam bentuknya sebagai bahasa tulis belum benar-benar menjadi bagian dari peri kehidupan masyarakat Jawa. Soal aksara Jawa yang tak lagi dipahami secara luas memang perkara lumrah. Tetapi aturan transliterasi aksara Jawa ke Latin yang tidak dipahami sebagian besar masyarakat Jawa memang cukup mengherankan.

Kesalahan-kesalahan penulisan seringkali berbuntut pada kesalahan pembacaan dan makna. Yang terjadi adalah perbedaan logika pada si penulis dan pembaca. Apabila diamati, penulisan huruf konsonan juga menjadi penyebab utama ambiguitas. Orang kadang belum paham perbedaan antara konsonan t dan th, atau antara d dan dh dalam bahasa Jawa tulis.

Sejauh ini, pelajaran bahasa Jawa diajarkan di jenjang sekolah baik di Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Yogyakarta. Tentunya materi pelajaran ini memuat penulisan dengan menggunakan metode transliterasi. Dalam dunia jurnalistik, media-media baik yang memang total menggunakan bahasa Jawa atau hanya menyertakan rubrik bahasa Jawa secara berkala pun banyak bertebaran. Dari Jawa Tengah ke Jawa Timur kita menemukan majalah Mekarsari, Jaka Lodhang, hingga Panjebar Semangat. Harian Suara Merdeka serta Kedaulatan Rakyat juga memiliki sajian khusus berbahasa Jawa, dengan transliterasi pastinya.

Nah, jika persoalan transliterasi bahasa Jawa masih minim dipahami, atau bahkan tak dikenal oleh masyarakatnya sendiri, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa media pengajaran bahasa Jawa baik secara akademis maupun jurnalistik tidak benar-benar mendapat tempat di mata orang Jawa. Seperti di mana-mana tempat di seluruh dunia ini, orang cenderung malas mengikuti pelajaran bahasa sendiri. Pun demikian di tanah Jawa, pelajaran bahasa Jawa sekedar merupakan pelengkap, sementara pelajar tak begitu mementingkan pelajaran ini. Media berbahasa Jawa juga demikian, seolah menjadi museum barang antik saja.

Sebenarnya, perkara transliterasi ini tdak perlu diperdebatkan jika bahasa tulis hanya menargetkan pemahaman bahasa. Yang penting paham, tanpa perlu mengikuti aturan yang ketat, demikian kira-kira maksud utama dari bahasa tulis sederhana tanpa transliterasi. Namun apabila orang Jawa sendiri sadar betapa ranah tulis bahasa Jawa adalah sangat penting, maka tetek-bengek konversi dan transliterasi ini menjadi penting pula. Saat ini bahasa Jawa mampu menjadi pilihan media komunkasi dan ekspresi. Bahasa Jawa yang tertulis dengan abjad Latin dapat ditemui di mana-mana, dalam format macam-macam. Media cetak dan elektronik, buku-buku, mengangkat tulisan dalam bahasa Jawa. Bentuk tulisan ini bermacam-macam, mulai dari berita, opini, cerita cekak, geguritan, tembang dan lain-lain.

Ironis sekali jika terjadi kasus seorang Jawa tidak baham mekanisme baca tulis bahasa Jawa dengan abjad Latin, padahal ada seorang dari negara lain misalnya, mampu memahaminya dengan semestinya. Kasus yang semisal dengan kenyataan bahwa ada seorang Jawa yang lebih mengerti aturan baca dan tulis bahasa Arab dibanding seorang pribumi Arab.

Pada saat seorang mulai melirik media-media di atas sebagai alternatif, kemampuan menulis dengan aturan transliterasi mutlak diperlukan. Tulisan yang hendak disajikan, mesti melalui proses penyuntingan yang seksama, oleh editor yang tak sembarangan pula.

Di luar mekanisme ini, seiring kemajuan teknologi, orang mulai tampil sendiri melalui media independen yang bahkan tanpa harus disunting oleh orang lain. Sudah semestinya sang penulis juga mampu mengaplikasikan aturan-aturan penyuntingan standar terhadap tulisan karya sendiri.

Dengan kemampuan ini, orang Jawa akan paham mana di antara dua kalimat di bawah ini yang tertulis dengan benar menurut logika konversi aksara Jawa. Pertama; konco-konco seng wes podo mangan, ayo to ndang mlebuo! Ojo podo tetek neng kene. Kedua; kanca-kanca sing wis padha mangan, ayo ta ndang mlebua! Aja padha thèthèk ning kéné.


1 comment:

  1. Ironis, Siapa yang akan melestarikan Budaya Jawa kita? Sungguh sangat ironis, saya sendiri sebagai orang Jawa juga kurang faham dengan bahasa Jawa , apa lagi aksara Jawa...

    ReplyDelete