Setelah konser Sufi Jazz Tour, saya masih menyisakan satu agenda tontonan musik satu lagi di bulan Ramadan lalu. Yang pasti, tontonan ini tetap bernuansa spiritual, sesuai dengan suasana puasa. Agenda ini adalah penampilan musik sufi dalam format ensembel sufi tradisional Mesir. Seperti diketahui, Mesir adalah daerah di mana tradisi sufi berkembang pesat. Dan salah satu khazanah sufistik Mesir yang menarik untuk saya nikmati adalah musik sufi tradisional
Syeikh Ahmad el Tuni, adalah seorang munsyid, pelantun lagu-lagu sufi, di antara beberapa tokoh serupa yang ada di Mesir. Dialah yang akan tampil pada malam itu tanggal 28 sep
tember 2008 di Saqiat El Sawy Culturewheel. Dan malam itu juga saya bersama beberapa teman sudah berada di luar el Sawy, setengah jam sebelum acara dimulai sesuai jadwal, jam 22.00. Dua orang teman yang berangkat terpisah dengan saya – mereka berdua juga menonton konser sufi jazz yang lalu – saya dapati berada di luar pintu masuk. Salah satu dari mereka bilang kalau kami tak usah buru-buru masuk, karena sang penampil juga masih berada di luar.
Saya memeriksa sekeliling, dan ternyata benar. syeikh Tuni beserta para personel ensembelnya masih duduk santai di luar gerbang el Sawy. Sambil mengisap rokoknya dalam-dalam, syeikh el Tuni duduk begitu santainya. Dengan galabeyya (jubah) khas daerah sha'idi (kadang dimaknai sebagai Mesir kampung), plus 'imamah (tutup kepala) yang juga terkesan 'kampung', ia nampak sangat sederhana. Kalau saja belum tahu tentangnya, pasti orang tidak bakal tahu kalau inilah orang yang akan tampil di atas pentas malam ini. Dengan kostumnya itu, plus wajahnya yang keriput, ia memang persis dengan orang-orang urban Cairo dari pedalaman Mesir yang bekerja sebagai tukang sayur atau sekedar tukang batu freelance.
Momen ini saya manfaatkan bersama teman-teman untuk berfoto bersama sang bintang. Selain itu, saya juga memperkenalkan siapa kami, serta mengabarkan bahwa kami akan menonton penampilannya malam itu. Dengan renyahnya ia menjawab, “ahlan wa sahlan”.
Tiket masuk telah kami beli dengan harga cukup murah, 15 pound Mesir (untuk anggota el Sawy 10 pound Mesir). Dan kami pun mendapati tempat duduk masih banyak yang kosong. Namun saya tidak heran kalau tempat duduk malam itu akan tidak dipenuhi penonton. Konser musik sufi tradisional menang tidak begitu menarik bagi anak muda Cairo kebanyakan, ditambah lagi jadwal konser yang diadakan di malam senin yang bukan merupakan malam liburan. Walhasil, tiket dijual dengan cukup murah, dan banyak kursi yang kosong malam itu.
Di panggung nampak beberapa kursi tertata. Yang saya perhatikan adalah sebuah gelas kaca yang berada di atas panggung, ditaruh begitu saja di bawah mikrofon utama. Saya tersenyum, karena saya tahu bahwa gelas itulah yang bakal menjadi amunisi musik bagi syeikh Tuni.
Konser dimulai, ada
pemain biola, oud, nay, dan beberapa pemain perkusi yang memainkan darbukah, riqq, dan bendir. Pertama adalah sebuah nomor instrumental. Selepasnya, baru syeikh Tuni memasuki panggung dengan dituntun oleh seorang anak muda. Puji-pujian sufi mulai dilantunkan. Walaupun kentara sekali jika suaranya telah dimakan usia, namun saya kagum dengan kemampuannya untuk mencapai pitch-pitch yang tinggi.
Sebagaimana mus
ik Arab tradisional, terutama Mesir, ensembel dimainkan dalam seguah konsep yang dinamakan tharab. Ensembel inilah yang mendominasi dunia panggung musik Arab sebelum warna-warna barat mempengaruhi dengan instrumen-instrumen baru dan konsep-konsep baru. Dengan beberapa instrumen yang berupa oud (alat music petik) kamangg atau biola (alat music gesek) nay (alat music tiup) qanun (alat musik petik semacam kecapi) dan alat perkusi, tharab menjadi konsep musikal yang cukup mapan di dunia Arab masa lalu.
Dan syeikh Tuni bersama ensembelnya malam itu menyuguhkan konsep tharab ini. Saya gembira karena saat ini cukup susah untuk menyaksikan konser musikal Arab dengan konsep seperti ini. Sayangnya malam itu saya tidak berhasil menemukan satu pemain qanun di atas panggung.
Lagu-lagu yang dimainkan penuh diwarnai oleh lirik, pelafalan, serta gestur syeikh Tuni yang begitu membawa kepada suasana ekstase. Sesekali ia mengulang-ulang sebuah kata, memanjangkannya, dengan disertai naik-turunnya nada. Ia beberapa kali juga menggerakkan tangan secara menghentak-hentak sambil menengadahkan kepala serta memejamkan mata.
Dan seperti
biasa, lagu-lagu tradisional Arab banyak menyisipkan interlude yang memberikan kesempatan kepada para pemain musik untuk lebih eksposif. Pada saat bait dilafalkan, musik akan cenderung melembut. Bila bait selesai dinyanyikan, musik akan naik kembali. Solo bergantian dimainkan oleh pemain biola, oud, dan nay, sementara para pemain perkusi semakin menjadi-jadi dengan pukulannya. Nah, pada saat interlude inilah syeikh Tuni tak mau tinggal diam; ia mengangkat tinggi gelas kaca yang telah disiapkan, ia pukul dengan menggunakan tasbih kesayangannya dengan ketukan yang ritmis. Setelah interlude selesai, bait kemudian dilantunkan kembali.
Suasana ekstase bukan merupakan hal aneh dalam fenomena musik sufi. Di beberapa wilayah persebaran tasawuf seperti Afrika Utara dan Selatan, wilayah Levant, Turki, Persia, Eropa Timur, Asia tengah, Selatan, dan Tenggara, musik sufi memiliki kecenderungannya masing-masing. Namun kecenderungan yang berbeda-beda ini seringkali sama-sama menunjukkan kecenderungan ke arah ketenggelaman spiritual. Beberapa istilah yang berkisar kepada ketenggelaman ini adalah semisal ekstase, trance, syathahat
Dan ketika syeikh Tuni dengan gayanya yang khas menembangakan puji-pujian sufi, saya teringat pula kepada Nusrat Fateh Ali Khan. Ia yang menjadi ikon musik qawalli, musik sufi ala Pakistan, juga mempunyai gaya khas dalam melantunkan lagu-lagunya. Sebagaimana Tuni, Nusrat juga selau menyanyikan lagu-lagunya dengan pelafalan dan lompatan-lompatan nada yang 'memabukkan'. Secara spiritual, konser malam itu cukup menyejukkan bagi saya. Namun saya bingung kenapa masih ada satu hal yang mengganjal, dan saya tak berhasil menemukan penyebabnya.
Kami keluar dari arena dan menemukan kembali para bintang sudah beristirahat di tempat yang sama sebagaimana sebelum acara tadi. Saya mengamati mereka dengan lebih seksama. Setahu saya, mereka telah memiliki jam terbang cukup tinggi dalam dunia pertinjukan. Mereka juga telah melakukan konser di beberapa Negara, pun telah merilis album mereka. Namun di mata saya mereka masih terlalu sangat sederhana secara kasat mata. Dengan gaya mereka yang 'kampungan' mereka begitu berbeda dengan lalu lalang para anak muda kota malam itu.
Mereka bercakap-cakap, beristirahat, mengisap rokok mereka, di depan kotak alat-alat musik yang lusuh. Sang pemain nay yang berkostum galabeyya melenggang menenteng setumpuk nay yang berukuran besar-besar, serta dicat dengan pewarnaan yang norak. Salah satu pemain riqq menenteng sebuah poster pertunjukan malam itu yang ia minta dari pihak panitia, poster bergambar syeikh Tuni yang sedang tengadah dan memejamkan mata. Poster dengan desain grafis kontemporer ini terasa amat kontras dengan style si pemain riqq ini.
Saya membayangkan betapa tidak seberapa penghasilan yang mereka dapatkan dari sebuah dunia lain ini; dunia musik sufi tradisional. Saya lantas berbisik ke salah seorang teman, “mereka telah memilih jalan hidupnya.”
Sesampai di rumah, saya baru menemukan jawaban atas sesuatu yang masih mengganjal tadi. Setelah saya cermati kembali, saya sadar jika permainan musik tadi menjadi sangat monoton karena dua hal. Pertama; hanya satu maqam (skala musikal) yang digunakan dalam konser tadi, yaitu maqam rast, kedua; syeikh Tuni mengambil satu nada dasar yang sama dari setiap lagunya. Tetapi saya cukup maklum karena mungkin para pemain itu belajar musik secara otodidak, tanpa kenal ini itu soal teori musik. Bagi mereka, bermusik adalah sebuah wahana spiritual. Mereka tulus bermusik untuk mengejar sebuah kesejukan hati, tanpa tetek bengek perdebatan yang lain. Dan mereka berhasil.
Saya lantas membatin, “malam ini, benar-benar banyak pelajaran.”
Syeikh Ahmad el Tuni, adalah seorang munsyid, pelantun lagu-lagu sufi, di antara beberapa tokoh serupa yang ada di Mesir. Dialah yang akan tampil pada malam itu tanggal 28 sep
tember 2008 di Saqiat El Sawy Culturewheel. Dan malam itu juga saya bersama beberapa teman sudah berada di luar el Sawy, setengah jam sebelum acara dimulai sesuai jadwal, jam 22.00. Dua orang teman yang berangkat terpisah dengan saya – mereka berdua juga menonton konser sufi jazz yang lalu – saya dapati berada di luar pintu masuk. Salah satu dari mereka bilang kalau kami tak usah buru-buru masuk, karena sang penampil juga masih berada di luar.Saya memeriksa sekeliling, dan ternyata benar. syeikh Tuni beserta para personel ensembelnya masih duduk santai di luar gerbang el Sawy. Sambil mengisap rokoknya dalam-dalam, syeikh el Tuni duduk begitu santainya. Dengan galabeyya (jubah) khas daerah sha'idi (kadang dimaknai sebagai Mesir kampung), plus 'imamah (tutup kepala) yang juga terkesan 'kampung', ia nampak sangat sederhana. Kalau saja belum tahu tentangnya, pasti orang tidak bakal tahu kalau inilah orang yang akan tampil di atas pentas malam ini. Dengan kostumnya itu, plus wajahnya yang keriput, ia memang persis dengan orang-orang urban Cairo dari pedalaman Mesir yang bekerja sebagai tukang sayur atau sekedar tukang batu freelance.
Momen ini saya manfaatkan bersama teman-teman untuk berfoto bersama sang bintang. Selain itu, saya juga memperkenalkan siapa kami, serta mengabarkan bahwa kami akan menonton penampilannya malam itu. Dengan renyahnya ia menjawab, “ahlan wa sahlan”.
Tiket masuk telah kami beli dengan harga cukup murah, 15 pound Mesir (untuk anggota el Sawy 10 pound Mesir). Dan kami pun mendapati tempat duduk masih banyak yang kosong. Namun saya tidak heran kalau tempat duduk malam itu akan tidak dipenuhi penonton. Konser musik sufi tradisional menang tidak begitu menarik bagi anak muda Cairo kebanyakan, ditambah lagi jadwal konser yang diadakan di malam senin yang bukan merupakan malam liburan. Walhasil, tiket dijual dengan cukup murah, dan banyak kursi yang kosong malam itu.
Di panggung nampak beberapa kursi tertata. Yang saya perhatikan adalah sebuah gelas kaca yang berada di atas panggung, ditaruh begitu saja di bawah mikrofon utama. Saya tersenyum, karena saya tahu bahwa gelas itulah yang bakal menjadi amunisi musik bagi syeikh Tuni.
Konser dimulai, ada
Sebagaimana mus
ik Arab tradisional, terutama Mesir, ensembel dimainkan dalam seguah konsep yang dinamakan tharab. Ensembel inilah yang mendominasi dunia panggung musik Arab sebelum warna-warna barat mempengaruhi dengan instrumen-instrumen baru dan konsep-konsep baru. Dengan beberapa instrumen yang berupa oud (alat music petik) kamangg atau biola (alat music gesek) nay (alat music tiup) qanun (alat musik petik semacam kecapi) dan alat perkusi, tharab menjadi konsep musikal yang cukup mapan di dunia Arab masa lalu.Dan syeikh Tuni bersama ensembelnya malam itu menyuguhkan konsep tharab ini. Saya gembira karena saat ini cukup susah untuk menyaksikan konser musikal Arab dengan konsep seperti ini. Sayangnya malam itu saya tidak berhasil menemukan satu pemain qanun di atas panggung.
Lagu-lagu yang dimainkan penuh diwarnai oleh lirik, pelafalan, serta gestur syeikh Tuni yang begitu membawa kepada suasana ekstase. Sesekali ia mengulang-ulang sebuah kata, memanjangkannya, dengan disertai naik-turunnya nada. Ia beberapa kali juga menggerakkan tangan secara menghentak-hentak sambil menengadahkan kepala serta memejamkan mata.
Dan seperti
Suasana ekstase bukan merupakan hal aneh dalam fenomena musik sufi. Di beberapa wilayah persebaran tasawuf seperti Afrika Utara dan Selatan, wilayah Levant, Turki, Persia, Eropa Timur, Asia tengah, Selatan, dan Tenggara, musik sufi memiliki kecenderungannya masing-masing. Namun kecenderungan yang berbeda-beda ini seringkali sama-sama menunjukkan kecenderungan ke arah ketenggelaman spiritual. Beberapa istilah yang berkisar kepada ketenggelaman ini adalah semisal ekstase, trance, syathahat
Dan ketika syeikh Tuni dengan gayanya yang khas menembangakan puji-pujian sufi, saya teringat pula kepada Nusrat Fateh Ali Khan. Ia yang menjadi ikon musik qawalli, musik sufi ala Pakistan, juga mempunyai gaya khas dalam melantunkan lagu-lagunya. Sebagaimana Tuni, Nusrat juga selau menyanyikan lagu-lagunya dengan pelafalan dan lompatan-lompatan nada yang 'memabukkan'. Secara spiritual, konser malam itu cukup menyejukkan bagi saya. Namun saya bingung kenapa masih ada satu hal yang mengganjal, dan saya tak berhasil menemukan penyebabnya.
Kami keluar dari arena dan menemukan kembali para bintang sudah beristirahat di tempat yang sama sebagaimana sebelum acara tadi. Saya mengamati mereka dengan lebih seksama. Setahu saya, mereka telah memiliki jam terbang cukup tinggi dalam dunia pertinjukan. Mereka juga telah melakukan konser di beberapa Negara, pun telah merilis album mereka. Namun di mata saya mereka masih terlalu sangat sederhana secara kasat mata. Dengan gaya mereka yang 'kampungan' mereka begitu berbeda dengan lalu lalang para anak muda kota malam itu.
Mereka bercakap-cakap, beristirahat, mengisap rokok mereka, di depan kotak alat-alat musik yang lusuh. Sang pemain nay yang berkostum galabeyya melenggang menenteng setumpuk nay yang berukuran besar-besar, serta dicat dengan pewarnaan yang norak. Salah satu pemain riqq menenteng sebuah poster pertunjukan malam itu yang ia minta dari pihak panitia, poster bergambar syeikh Tuni yang sedang tengadah dan memejamkan mata. Poster dengan desain grafis kontemporer ini terasa amat kontras dengan style si pemain riqq ini.
Saya membayangkan betapa tidak seberapa penghasilan yang mereka dapatkan dari sebuah dunia lain ini; dunia musik sufi tradisional. Saya lantas berbisik ke salah seorang teman, “mereka telah memilih jalan hidupnya.”
Sesampai di rumah, saya baru menemukan jawaban atas sesuatu yang masih mengganjal tadi. Setelah saya cermati kembali, saya sadar jika permainan musik tadi menjadi sangat monoton karena dua hal. Pertama; hanya satu maqam (skala musikal) yang digunakan dalam konser tadi, yaitu maqam rast, kedua; syeikh Tuni mengambil satu nada dasar yang sama dari setiap lagunya. Tetapi saya cukup maklum karena mungkin para pemain itu belajar musik secara otodidak, tanpa kenal ini itu soal teori musik. Bagi mereka, bermusik adalah sebuah wahana spiritual. Mereka tulus bermusik untuk mengejar sebuah kesejukan hati, tanpa tetek bengek perdebatan yang lain. Dan mereka berhasil.
Saya lantas membatin, “malam ini, benar-benar banyak pelajaran.”
0 Comments:
Post a Comment