Doyan makan merupakan perkara yang berpotensi menjadi masalah. Seperti saya yang bisa dikategorikan sebagai orang yang doyan makan ini, memiliki kebiasaan makan dengan intensitas serta kuantitas lebih, plus kebiasaan jajan. Menu sekali makan pun kerap kali berupa makanan dengan aneka ragam. Kebiasaan di atas tentu bermasalah, karena menyebabkan gangguan kesehatan dan pemborosan. Kesehatan terganggu karena peningkatan kandungan lemak tubuh, boros karena seharusnya anggaran pengeluaran bisa ditekan dengan masak dan makan di rumah sendiri.
Namun ada hal menarik ketika istilah wisata kuliner menjadi begitu populer di tanah air beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, fenomena wisata kuliner hanya terbatas pada kalangan yang berkompeten, dengan popularitas yang belum meledak. Nah, setelah fenomena ini berkembang luas di masyarakat dari berbagai kalangan, saya merasa mendapat angin segar. Seolah mempunyai alibi, saya menemukan justifikasi diri atas kebiasaan doyan makan dan jajan saya sebagai aktifitas positif yang menarik dan penuh tantangan. Maka apabila saya sedang makan dengan menu beraneka ragam, atau sedang makan di luar rumah, dalam hati saya berkata kepada orang-orang bahwa saya ini sedang melakukan aktifitas petualangan kuliner. Padahal di sisi lain, saya juga membatin lesu tentang perut yang makin buncit ini, tentang dompet yang makin langsing ini.
Kendati demikian, dengan apologi wisata kuliner ini, paling tidak muncul pola yang cukup menghambat – walaupun sedikit – problem perut dan dompet di atas. Ketika memilih jenis makanan, saya mulai mengatur diri menghindari macam makanan yang pernah saya coba. Otomatis, perhatian dan kepuasan lebih terarah pada kebaruan menu bukan pada kualitas atau kuantitas menu. Pada tataran praktis, saya malah seringkali makan dengan kuantitas sedikit, karena takut apabila sebuah menu baru kurang lezat menurut selera. Beberapa kali pula kuantitas makan per hari berkurang karena tersitanya waktu demi memburu sebuah menu baru. Lain halnya apabila menggemari jenis menu tertentu, kita akan cenderung mengulangi konsumsinya dengan mengejar kepuasan kuantitas dan kualitas demi kenikmatan makan.
Negeri tempat saya tinggal sekarang ini, Mesir, memiliki menu makanan yang begitu beraneka ragam. Relasi peradaban Mesir dengan peradaban wilayah yang begitu tinggi nampak pula dalam persoalan kuliner. Menu-menu yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat negeri ini menampilkan perpaduan nuansa kuliner Arab, Levant, Badui, Barber, Turki, Eropa, maupun tradisi lokal turun-temurun.
Pada awalnya saya berpikir tentang minimnya keanekaragaman menu di sini, dibanding dengan begitu beranekanya menu makanan di tanah air. Tetapi ketika saya mulai menggemari aktifitas wisata kuliner, saya baru merasa bahwa menu makanan Mesir ternyata melimpah pula. Paling tidak indikasinya adalah makanan baru yang belum pernah saya cicipi masih begitu banyak dan serasa tak habis-habis. Padahal saya hanya mengkhususkan diri pada makanan yang berharga murah saja. Jika sajian yang berharga mahal dimasukkan ke dalam daftar perburuan, entah berapa banyak menu yang belum saya coba.
Pada umumnya masyarakat Indonesia di Mesir enggan untuk menyelami lebih dalam dunia kuliner Mesir. Mereka kebanyakan merasa cukup dengan mengonsumsi menu-menu ala Indonesia. Apabila kita menginginkan masakan karya sendiri, tidak ada kerepotan sama sekali untuk menemukan beras, bahan makanan, sayuran, atau bumbu-bumbu seperlunya di toko, pasar, maupun supermarket kepunyaan orang pribumi. Jika ingin bahan-bahan lebih, banyak orang Indonesia maupun rumpun Melayu lainnya yang memproduksi, menanam dan menjual dagangan berupa serai, bayam, tahu, tempe, hingga kerupuk. Untuk bumbu-bumbu lain orang-orang yang datang dari tanah air terbiasa membawa bumbu-bumbu khas yang tak ada di Mesir semisal kemiri, daun salam, lengkuas, kencur, atau keluak dalam jumlah banyak untuk persediaan dalam waktu lama. Apabila kita tidak menghendaki masak sendiri, warung makan ala Nusantara telah begitu banyak jumlahnya di sini, menyediakan beraneka menu, mulai pecel, nasi goreng, empek-empek, soto, bakso, hingga sate. Jadilah, apabila kita begitu Nusantara minded dalam soal makanan, kita dijamin tak bakal kelaparan selama di negeri piramida ini.
Persoalan selera inilah yang menjadi penyebab utama minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia di Mesir mengenai menu makanan lokal. Cita rasa Mesir memang begitu khas dan berbeda dengan cita rasa tanah air. Orang bilang makanan Mesir terlalu kecut, kurang pedas, bumbunya kurang beraneka, sehingga rasanya kurang begitu menggigit. Orang Indonesia yang baru tiba di sini, bahkan harus melalui proses adaptasi yang memakan waktu lama. Malah ada pula yang telah bertahun-tahun di sini, tetapi sama sekali tidak doyan makanan lokal.
Pada kenyatannya, secara umum orang Indonesia di sini tetap doyan makanan Mesir. Yang menjadi masalah adalah tingkat diversifikasi yang begitu rendah serta intensitas konsumsi yang begitu jarang. Dari beberapa kelompok dan kategori menu, masing-masing hanya terdapat sedikit macam makanan yang biasa disantap orang Indonesia. Walhasil, jika seorang Indonesia berada di sebuah kedai makanan berkategori tertentu, dapat dipastikan ia akan memesan makanan “itu-itu saja”. Sementara di kedai makanan berkategori yang lain, dapat dipastikan ia akan memesan makanan “ini-ini saja”. Lebih menarik lagi, di sebuah kedai kategori tertentu, orang Indonesia bahkan memesan makanan dengan komposisi yang tak dikenal sama sekali sebelumnya oleh orang Mesir.
Selain perkara selera, faktor utama penyebab fenomena ini adalah masalah harga. Apabila kita melakukan survey harga atas makanan Mesir yang “itu-itu saja” atu “ini-ini saja” tadi, kita akan menemukan bahwa Makanan tersebut masuk ke dalam kategori berharga murah. Kesimpulannya adalah bahwa faktor keterjangkauan begitu mempengaruhi pengalaman kuliner orang Indonesia di sini. Apalagi kebanyakan orang Indonesia di sini adalah mahasiswa dan pelajar, maka tak heran kalau kebanyakan mereka mesti berhemat mengingat uang saku yang pas.
Namun lebih dari itu, orang Indonesia yang sebenarnya mempunyai selera terbuka dan berkantong tebal pun kadang juga tak berpengalaman lebih dalam urusan makanan lokal Mesir. Kebudayaan dominan lah yang menjadikannya ikut-ikutan untuk tak berani berpetualang lebih jauh. Beberapa keyakinan yang beredar di kalangan orang Indonesia di sini adalah bahwa makanan Mesir adalah tidak enak, macamnya sedikit, bumbunya minim, diproses seadanya, kotor dan sebagainya. Hal ini menjadi mitos yang kuat mengakar, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa kebuadayaan orang Mesir secara umum seringkali dirasa tak memberikan kenyamanan bagi orang Indonesia. Di mata orang Indonesia, orang Mesir mendapat cap keras kepala, sembarangan, kotor dan sebagainya. Penilaian-peniliaian ini ternyata pada akhirnya berimbas pada penilaian atas persoalan kuliner juga.
Sebenarnya, apabila orang Indonesia mau menyingkirkan asumsi-asumsi buruk tersebut sementara waktu, ia akan bisa menyelami lebih dalam kebudayaan Mesir dan berbagai kecenderungannya. Mungkin ada benarnya juga penilaian-penilaian miring tersebut. Tetapi apabila masyarakat Indonesia di Mesir sadar bahwa kebanyakan mereka tinggal di kawasan pemukiman murah yang kadang kumuh dan tak aman, atau sadar bahwa Mesir adalah negara dunia ketiga seperti Indonesia, maka mereka akan lebih sedikit merasa “menerima” Mesir, termasuk soal menu makanannya.
Dan saya, yang katakanlah cukup “menerima” Mesir bagaimanapun keadaannya, juga yang doyan makan dan jajan, begitu menikmati petualangan kuliner di negeri seribu menara ini. Karena aktifitas ini pula, saya menjadi doyan beberapa bahan makanan yang sebelumnya tidak saya gemari ketika masih di tanah air, semisal ikan, cumi, daging kambing, atau jeroan. Maka setiap selesai menyantap makanan baru, saya merasa begitu puas baik karena petualangannya, atau karena kenyang dan nikmatnya. Tetapi dalam hati saya masih terus membatin; “ini perut kapan tipisnya, ini kantong kapan tebalnya?”
Namun ada hal menarik ketika istilah wisata kuliner menjadi begitu populer di tanah air beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, fenomena wisata kuliner hanya terbatas pada kalangan yang berkompeten, dengan popularitas yang belum meledak. Nah, setelah fenomena ini berkembang luas di masyarakat dari berbagai kalangan, saya merasa mendapat angin segar. Seolah mempunyai alibi, saya menemukan justifikasi diri atas kebiasaan doyan makan dan jajan saya sebagai aktifitas positif yang menarik dan penuh tantangan. Maka apabila saya sedang makan dengan menu beraneka ragam, atau sedang makan di luar rumah, dalam hati saya berkata kepada orang-orang bahwa saya ini sedang melakukan aktifitas petualangan kuliner. Padahal di sisi lain, saya juga membatin lesu tentang perut yang makin buncit ini, tentang dompet yang makin langsing ini.
Kendati demikian, dengan apologi wisata kuliner ini, paling tidak muncul pola yang cukup menghambat – walaupun sedikit – problem perut dan dompet di atas. Ketika memilih jenis makanan, saya mulai mengatur diri menghindari macam makanan yang pernah saya coba. Otomatis, perhatian dan kepuasan lebih terarah pada kebaruan menu bukan pada kualitas atau kuantitas menu. Pada tataran praktis, saya malah seringkali makan dengan kuantitas sedikit, karena takut apabila sebuah menu baru kurang lezat menurut selera. Beberapa kali pula kuantitas makan per hari berkurang karena tersitanya waktu demi memburu sebuah menu baru. Lain halnya apabila menggemari jenis menu tertentu, kita akan cenderung mengulangi konsumsinya dengan mengejar kepuasan kuantitas dan kualitas demi kenikmatan makan.
Negeri tempat saya tinggal sekarang ini, Mesir, memiliki menu makanan yang begitu beraneka ragam. Relasi peradaban Mesir dengan peradaban wilayah yang begitu tinggi nampak pula dalam persoalan kuliner. Menu-menu yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat negeri ini menampilkan perpaduan nuansa kuliner Arab, Levant, Badui, Barber, Turki, Eropa, maupun tradisi lokal turun-temurun.
Pada awalnya saya berpikir tentang minimnya keanekaragaman menu di sini, dibanding dengan begitu beranekanya menu makanan di tanah air. Tetapi ketika saya mulai menggemari aktifitas wisata kuliner, saya baru merasa bahwa menu makanan Mesir ternyata melimpah pula. Paling tidak indikasinya adalah makanan baru yang belum pernah saya cicipi masih begitu banyak dan serasa tak habis-habis. Padahal saya hanya mengkhususkan diri pada makanan yang berharga murah saja. Jika sajian yang berharga mahal dimasukkan ke dalam daftar perburuan, entah berapa banyak menu yang belum saya coba.
Pada umumnya masyarakat Indonesia di Mesir enggan untuk menyelami lebih dalam dunia kuliner Mesir. Mereka kebanyakan merasa cukup dengan mengonsumsi menu-menu ala Indonesia. Apabila kita menginginkan masakan karya sendiri, tidak ada kerepotan sama sekali untuk menemukan beras, bahan makanan, sayuran, atau bumbu-bumbu seperlunya di toko, pasar, maupun supermarket kepunyaan orang pribumi. Jika ingin bahan-bahan lebih, banyak orang Indonesia maupun rumpun Melayu lainnya yang memproduksi, menanam dan menjual dagangan berupa serai, bayam, tahu, tempe, hingga kerupuk. Untuk bumbu-bumbu lain orang-orang yang datang dari tanah air terbiasa membawa bumbu-bumbu khas yang tak ada di Mesir semisal kemiri, daun salam, lengkuas, kencur, atau keluak dalam jumlah banyak untuk persediaan dalam waktu lama. Apabila kita tidak menghendaki masak sendiri, warung makan ala Nusantara telah begitu banyak jumlahnya di sini, menyediakan beraneka menu, mulai pecel, nasi goreng, empek-empek, soto, bakso, hingga sate. Jadilah, apabila kita begitu Nusantara minded dalam soal makanan, kita dijamin tak bakal kelaparan selama di negeri piramida ini.
Persoalan selera inilah yang menjadi penyebab utama minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia di Mesir mengenai menu makanan lokal. Cita rasa Mesir memang begitu khas dan berbeda dengan cita rasa tanah air. Orang bilang makanan Mesir terlalu kecut, kurang pedas, bumbunya kurang beraneka, sehingga rasanya kurang begitu menggigit. Orang Indonesia yang baru tiba di sini, bahkan harus melalui proses adaptasi yang memakan waktu lama. Malah ada pula yang telah bertahun-tahun di sini, tetapi sama sekali tidak doyan makanan lokal.
Pada kenyatannya, secara umum orang Indonesia di sini tetap doyan makanan Mesir. Yang menjadi masalah adalah tingkat diversifikasi yang begitu rendah serta intensitas konsumsi yang begitu jarang. Dari beberapa kelompok dan kategori menu, masing-masing hanya terdapat sedikit macam makanan yang biasa disantap orang Indonesia. Walhasil, jika seorang Indonesia berada di sebuah kedai makanan berkategori tertentu, dapat dipastikan ia akan memesan makanan “itu-itu saja”. Sementara di kedai makanan berkategori yang lain, dapat dipastikan ia akan memesan makanan “ini-ini saja”. Lebih menarik lagi, di sebuah kedai kategori tertentu, orang Indonesia bahkan memesan makanan dengan komposisi yang tak dikenal sama sekali sebelumnya oleh orang Mesir.
Selain perkara selera, faktor utama penyebab fenomena ini adalah masalah harga. Apabila kita melakukan survey harga atas makanan Mesir yang “itu-itu saja” atu “ini-ini saja” tadi, kita akan menemukan bahwa Makanan tersebut masuk ke dalam kategori berharga murah. Kesimpulannya adalah bahwa faktor keterjangkauan begitu mempengaruhi pengalaman kuliner orang Indonesia di sini. Apalagi kebanyakan orang Indonesia di sini adalah mahasiswa dan pelajar, maka tak heran kalau kebanyakan mereka mesti berhemat mengingat uang saku yang pas.
Namun lebih dari itu, orang Indonesia yang sebenarnya mempunyai selera terbuka dan berkantong tebal pun kadang juga tak berpengalaman lebih dalam urusan makanan lokal Mesir. Kebudayaan dominan lah yang menjadikannya ikut-ikutan untuk tak berani berpetualang lebih jauh. Beberapa keyakinan yang beredar di kalangan orang Indonesia di sini adalah bahwa makanan Mesir adalah tidak enak, macamnya sedikit, bumbunya minim, diproses seadanya, kotor dan sebagainya. Hal ini menjadi mitos yang kuat mengakar, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa kebuadayaan orang Mesir secara umum seringkali dirasa tak memberikan kenyamanan bagi orang Indonesia. Di mata orang Indonesia, orang Mesir mendapat cap keras kepala, sembarangan, kotor dan sebagainya. Penilaian-peniliaian ini ternyata pada akhirnya berimbas pada penilaian atas persoalan kuliner juga.
Sebenarnya, apabila orang Indonesia mau menyingkirkan asumsi-asumsi buruk tersebut sementara waktu, ia akan bisa menyelami lebih dalam kebudayaan Mesir dan berbagai kecenderungannya. Mungkin ada benarnya juga penilaian-penilaian miring tersebut. Tetapi apabila masyarakat Indonesia di Mesir sadar bahwa kebanyakan mereka tinggal di kawasan pemukiman murah yang kadang kumuh dan tak aman, atau sadar bahwa Mesir adalah negara dunia ketiga seperti Indonesia, maka mereka akan lebih sedikit merasa “menerima” Mesir, termasuk soal menu makanannya.
Dan saya, yang katakanlah cukup “menerima” Mesir bagaimanapun keadaannya, juga yang doyan makan dan jajan, begitu menikmati petualangan kuliner di negeri seribu menara ini. Karena aktifitas ini pula, saya menjadi doyan beberapa bahan makanan yang sebelumnya tidak saya gemari ketika masih di tanah air, semisal ikan, cumi, daging kambing, atau jeroan. Maka setiap selesai menyantap makanan baru, saya merasa begitu puas baik karena petualangannya, atau karena kenyang dan nikmatnya. Tetapi dalam hati saya masih terus membatin; “ini perut kapan tipisnya, ini kantong kapan tebalnya?”

0 Comments:
Post a Comment