Thursday, March 12, 2009

Safari Ramadan (I); Berlomba Mencari Buka Puasa Gratis di Relung Kota Tua.

Datangnya Ramadan kali lalu bersamaan dengan suasana hati yang terasa begitu kering, membutuhkan sedikit siraman rohani. Tahun-tahun lalu, Ramadan begitu saja juga terlewati tanpa meninggalkan jejak spiritual yang membekas. Sudah sejak beberapa hari sebelum bulan itu datang, saya telah memikirkan agenda pribadi guna penyejukan diri.

Biasanya, mahasiswa Indonesia di Mesir melewatkan puasa dengan beberapa kecenderungan perubahan. Ada yang meningkatkan grafik ibadah ritualnya, ada yang sibuk dengan kegiatan-kegiatan seremonial, ada juga yang hanya melewatkan Ramadan di malam harinya saja, selebihnya siang hari digunkaan intuk tidur.

Saya merasa membutuhkan suntikan nilai-nilai spiritual. Tetapi saya merasa apabila hanya dengan beribadah di masjid serta banyak-banyak membaca Qur'an, maka Ramadan akan menjadi biasa saja. Saya berpikir tentang bagaimana nilai ibadah puasa tidak kehilangan pengalaman-pengalaman baru yang menarik.

Berbekal kegemaran melakukan city wandering, terutama di situs-situs sejarah Islam, saya akhirnya
memutuskan untuk melakukan safari ke mesjid-mesjid yang menarik di kota Cairo. Ukuran menarik bagi saya adalah, mesjid itu mempunyai sejarah yang panjang, mesjid itu terletak di daerah-daerah tertentu yang menjadi pusat keramaian, atau mesjid itu mempunyai tradisi yang khas. Syarat satu lagi adalah; jarangnya jamaah yang berasal dari Indonesia. Tetapi dengan semua kriteria ini, bukan menutup kemungkinan sesekali saya sekedar berjalan tanpa tujuan tertentu, kemudian berhenti di sebuah masjid yang saya tidak tahu sebelumnya.

Dari kriteria tadi, saya telah menyusun daftar masjid-masjid yang akan saya kunjungi. Harapannya, saya akan menemukan banyak masjid-masjid yang memiliki arsitektur dan
sejarah menarik, suasana baru yang tidak menjemukan, serta orang-orang baru yang tak pernah saya lihat sebelumnya, pengalaman spiritual pun sosial yang pasti akan sangat inspiratif. Agenda-agenda yang saya bayangkan adalah, berbuka menikmati sajian ma'idaturrahman (menu buka puasa gratis dari pihak masjid) bersama msyarakat umum, membaca Qur’an sepanjang waktu sehabis buka hingga isya, mengikuti shalat tarawih, mendengarkan ceramah agama, serta agenda-agenda tak terduga semisal majelis tilawatil Quran, pembacaan ibtihal (madah dan puji-pujian), atau majelis pembacaan awrad (zikir rutinan) di masjid-masjid yang menjadi basis komunitas tarekat tasawwuf tertentu

Sepertiga Ramad
an awal saya lewatkan di beberapa masjid berbeda; masjid Al Fath di Ramsis square, masjid Al Nour di Abbasea square, masjid Omar Makram di Tahrir square, masjid Al Azhar dan Hussein di kawasan Hussein square. masjid Amr As Shahabi di Qubba square, masjid Abu al 'Ila di daerah Bulaq, masjid Attaqwa di Shubra el Kheima. Karena satu dan lain hal, saya terpaksa juga untuk melewatkan dua hari di beberapa masjid yang berdekatan dengan tempat tinggal saya dan sebagian besar orang Indonesia. Ada masjid Quds di 8th district, dan masjid Al Futuh di 10th district, keduanya Nasr City.

***

Ramsis square adalah area transit terbesar di kota Cairo. Di sini terletak stasiun kereta api terbesar di Mesir. Terdapat pula di sini stasiun kereta bawah tanah, serta stasiun trem listrik. Di sini pula dapat kita dapatkan bus atau angkutan umum lainnya yang menuju ke berbagai jurusan. Praktis masjid Al Fath di bilangan ini dipenuhi jamaah yang sebagian adalah para commuter (penglajo), juga para penumpang angkutan yang berganti kendaraan sepulang bekerja, sekolah, kuliah, atau sekedar bepergian.

Abbasea square di mana mesjid El Nour Berada juga tak kalah ramai dengan Ramsis square. Daerah ini merupakan jalur arteri utama yang menghubungkan pusat kota Cairo di sepanjang sungai Nil dengan daerah Cairo bagian timur. Walhasil masjid El Nour pun selalu penuh dengan jamaah di bulan Ramadan.

Sementara itu,
masjid Omar Makram tidak seramai dua masjid sebelumnya. Walaupun letaknya di pusat kota Cairo yaitu Tahrir square, tapi ia berukuran kecil dan hanya mampu menampung sedikit jama’ah. Mesjid ini lebih terkenal sebagai terkenal sebagai tempat upacara kematian para pejabat dan orang-orang besar Cairo. Yang menarik, ketika saya melewatkan senja di kawsan Tahrir ini adalah saya bisa menyaksikan saat-saat sepinya bundaran ini. Biasanya, Tahrir selalu selalu ramai oleh padat lalu lintas. Dan hanya waktu berbuka puasa Ramadan sajalah yang mampu menjadikannya sunyi. Saya sengaja membawa bekal untuk melewatkan berbuka di sini. Kebetulan juga ketika berjama’ah magrib di masjid Omar Makram saya tidak menemukan ada hidangan berbuka puasa gratis di sana. Yang ada hanya air putih dan korma. Akhirnya selepas magrib saya melewatkan berbuka di rerumputan halaman kantor mugamma’, kantor urusan sipil Cairo. Bangunan kantor mugamma’ yang begitu tinngi besar berarsitektur kolonial, bangunan apartemen, hotel, perguruan tinggi perkantoran, pertokoan, museum, serta masjid, dipadu dengan kelap-kelip lampu kota, plus bundaran yang sangat sepi, membangun sebuah suasana tersendiri. Beberapa orang nampak berbuka di kursi kursi taman sekitar saya, menyantap bekal-masing-masing. Untuk masjid Omar Makram, yang paling saya ingat adalah shalat tarawih yang begitu cepat selesai, sekitar dua puluh menit!. Malah mungkin inilah masjid di Cairo dengan waktu tempuh tarawih yang paling cepat. Di Cairo, walaupun tarawih biasa dilaksanakan dengan delapan raka’at, tetapi biasanya diisi dengan pembacaan ayat-ayat yang begitu panjang, dibaca dengan pelan, sehingga baru selesai dalam waktu lama. Jamaknya, selesai dalam waktu sekitar satu jam.

Mesjid Azhar dan Hussein saya pilih karena sejarahnya yang agung, serta lokasinya yang juga kaya akan sejarah; Cairo Islam. Al Azhar adalah cikal bakal kota Cairo serta cikal bakal dari Universitas Al Azhar, tempat di mana saya terdaftar sebagai
mahasiswa saat ini. Masjid Hussein dihormati oleh para pencinta ahli bait (keturunan) Nabi Muhammad, karena di sinilah dipercaya dimakamkan kepala Sayyidina Hussein yang gugur di medan Karbala. Hussein square sendiri adalah pusat keramaian Cairo sejak lebih dari seribu tahun lalu. Sekarang kawasan ini menjadi pusat tujuan wisata utama kota Cairo.

Di Masjid Azhar saya merasa sangat nyaman dan feel home. Pertama; karena mesjid ini
adalah mesjid dari kampus saya (letaknya bersebelahan), kedua; shalat tarawih di sini dilaksanakan dalam dua puluh raka’at. Saya cukup rindu tarawih dengan hitungan ini yang bukan menjadi tradisi dominan di Cairo. Kebetulan juga imam tarawih di sini tidak sekedar membacakan ayat-ayat Quran dengan cara sebagaimana umumnya. Ayat-ayat Qur’an di sini dibaca dengan bacaan qira’ah ‘asyrah (bacaan sepuluh), yang merupakan variasi dialek Arab dalam bacaan Qur’an, sebagai kekayaan khazanah ilmu qira’ah (ilmu bacaan al Qur’an).

Masjid Hussein juga meninggalkan kesan tersendiri. Selain memberikan kesempatan bagi saya untuk sekedar berziarah ke makam ahli bait, saya juga mendapat kesempatan mengikuti seminar para sarjana Muslim dengan berbagai tema, yang dilaksanakan setiap selesai tarawih di halaman masjid. Saat Ramadan inilah, paying-payung raksasa di halaman masjid dibuka guna keperluan seminar. Pada hari-hari biasa, payung payung ini hanya nampak seperti menara-menara tinggi nan lancip pegitu saja. Di seputaran masjid, ada banyak pilihan untuk berbuka puasa. Mulai dari menu buka tradisional yang dijual simbok-simbok Mesir secara lesehan, sampai café-café dan restoran mahal tempat turis-turis dan orang-orang berduit Mesir biasa menyantap makanannya. Tapi waktu itu saya memilih berbuka murah ala mahasiswa dengan mengikuti maidaturrahman yang diadakan di sebuah gedung dekat masjid. Saya memilih lantai hampir paling atas, di antara sekian banyak lantai tempat berbuka gratis ini. Ada meja kursi berderet-deret dengan santapan yang telah tersedia. Bersama dengan ratusan orang dengan berbagai latar belakang, saya menyantap nasi berlauk daging. Duduk di samping jendela, saya bisa menyaksikan Azhar street, jalan di depan kampus saya, menjadi begitu sepi, berbeda dengan biasanya.





0 Comments: