Friday, March 13, 2009

Safari Ramadan (II); Kaum Difabel, Para Wali, dan Islam yang Tak Seragam.


Masjid Amr As Shahabi, terletak agak jauh dari pusat kota Cairo. Namun demikian, Qubba square tempat mesjid itu berada bukan berarti merupakan daerah sepi. Di areal inilah terdapat taman kepresidenan yang sangat luas. Pertama kali saya tahu masjid ini ketika saya menaiki bis melalui daerah ini. Dengan kubahnya yang sangat tinggi, masjid ini mencolok dan mudah ditandai sebagai masjid dengan umur tua. Dari kubah ini pulalah daerah ini dikenal sebagai maydan Qubba yang berarti bundaran kubah atau Qubba square. Sesampainya di situ saya akhirnya tahu bahwa mesjid ini dibangun pada tahun oleh Amir Yashbak min Mahdi, salah seorang pembesar dinasti Mamluk. Berdasar tuturan seorang penjaga masjid, saya mengerti bahwa masjid ini dibangun oleh Amir Yashbak pada tahun 1479 untuk menandai makam Amr As Shahabi, sahabat nabi Muhammad yang gugur di daerah itu. Yang sempat menarik perhatian teman jalan saya, Joy, adalah keberadaan beberapa orang cacat fisik yang ada di masjid itu. Menurutnya ini persis sekali dengan pemandangan di makam-makam para wali di Indonesia



Masjid Abu al ‘Ila sebenarnya tidak masuk ke dalam daftar tujuan saya. Suatu ketika saya dan Joy berencana berbuka di sebuah Majid di kawasan Zamalek, daerah daratan di tengah sungai Nil. Ternyata kami telah cukup terlambat untuk mendapatkan hidangan buka gratis karena kursi yang disediakan telah penuh. Kami pun balik kanan berjalan menyeberangi sungai Nil, sampai ke daerah Bulaq. Di sekitar pasar baju loak Wekalat el Balah, kami menemukan sebuah kedai untuk berbuka. Di seberang kedai inilah terletak mesjid Abu al ‘Ila, yang sebenarnya pernah saya singgahi sebelumnya, tetapi bukan dalam bulan puasa. Saya berdua dengan Joy berniat melakukan shalat tarawih di masjid itu. Saat kami masuk masjid, kami banyak diperhatikan oleh jamaah yang cukup asing dengan wajah kami berdua. Mesjid ini berkesan sangat tradisional karena dipenuhi orang-orang yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Masyarakat yang berasal dari daerah padat dan kumuh sekitar masjid, para supir taksi, para pedagang baju, para pelayan toko, berbaur jadi satu. Ceramah setelah tarawih dilakukan oleh seorang ulama dengan isi, gaya bicara, serta busana yang khas, mengingatkan kepada masjid-masjid tradisional di Indonesia. Selepas ceramah, banyak orang menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Syeikh Abu al ‘Ila, seorang wali yang wafat di tahun 1485. Untuk menghormati tokoh inilah, maka Ibn al-Qanish al-Burullusi Membangun masjid di komplek makam ini. Sebagaimana sebelumnya, Joy tertarik kepada keberadaan orang-orang cacat di dalam masjid itu.

Satu lagi yang merupakan ketidaksengajaan, adalah waktu saya mampir ke Masjid Attaqwa di daerah Shubra el Kheima. Bermula dari ajakan seorang teman yang butuh ditemani berbelanja di daerah itu, waktu berbuka akhirnya terlewatkan di dalam mesjid ini. Lagi-lagi kami banyak diajak bercanda dan diperhatikan oleh anak-anak kecil yang berbuka di situ. Yang saya pahami, masjid itu adalah pusat peribadatan orang-orang muslim salafi yang berafiliasi kepada partai Ikhwanul Muslimin. Saya bisa menandai dengan banyaknya orang-orang berjubah putih serta memelihara jenggot yang lebat.

Dalam beberapa kesempatan saya tidak sempat melakukan safari di lokasi-lokasi yang jauh sebagaimana biasa. Saya sempat melewatkan tarawih di masjid Quds, di daerah 8th district, tempat di mana saya pernah tinggal , sekitar 4 kilometer dari rumah saya saat ini. Orang asing di masjid ini kebanyakan adalah orang-orang Russia, walaupun ada juga sedikit orang Indonesia. Imam shalat masih seperti saat saya masih tinggal di daerah itu; seorang kulit hitam dari Kamerun, kami anak-anak Indonesia biasa menyebutnya sebagai Eto’o!

Pernah sekali waktu saya punya perlu di Griya Jawa Tengah, markas komunitas Jawa Tengah dan Yogyakarta di kota Cairo. Shalat tarawih malam itu saya lewatkan di sebuah mesjid kecil yang bernama Al Futuh, persis di samping Griya. Mesjid yang lebih pantas disebut mushalla ini tidak seperti pada umumnya. Kalau biasanya mesjid dikelola kementrian wakaf, atau lembaga tertentu, mesjid ini kepunyaan seorang atu beberapa orang. Biasanya mesjid seperti ini hanya melempati sebagian dari lantai bawah sebuah apartemen. Kali ini sang imam adalah orang kulit hitam yang berasal dari Komoro.

Sayang sekali safari saya ini harus terhenti ketika sepertiga kedua Ramadan mulai daitang. Undangan untuk menjadi salah satu penampil di acara kesenian yang diadakaan oleh KBRI Cairo akhirnya menyita waktu saya. Berhubung acara ini berskala besar, diadakan di Cairo Opera House di hadapan para diplomat asing, maka saya bersama grup musik saya harus berlatih satiap hari. Sepertiga kedua Ramadan hanya diisi dengan latihan musik setiap hari hingga hari pentas datang pada tanggal 20.

Selepas itu, saya tidak bisa memulai safari saya lagi. Sepertiga terakhir diwarnai dengan acara-acara buka bersama yang diadakan kawan-kawan Indonesia di sini. Ada juga latihan untuk tampil di sebuah acara dalam skala kecil. Saya tidak lagi sempat menuju ke masjid-masjid yang telah saya ada dalam daftar. Saya hanya bias menikmati suasana Ramadan di masjid-masjid dekat rumah saya seperti masjid As Shahabah atau masjid Ar Rahman.

Beberapa hal yang saya gagal nikmati adalah majelis-majelis tarekat di beberapa mesjid seperti mesjid Ja’fariyyah, masjid Sayyidah Zaynab, serta masjid Sayyidah Nafisah. Saya juga belum sempat mengunjungi masjid Amr bin Ash yang selalu dibanjiri oleh jama’ah di malam 27 dan 29 Ramadan. Saya juga masih penasaran dengan sebuah masjid kecil di kawasan bukit Muqattam, tempat favorit bagi teman-teman saya yang telah hafal Al Quran 30 juz. Menurut mereka, shalat tarawih di masjid itu selesai dalam waktu 3 jam dengan bacaan Quran 3 juz pula! Masih banyak lagi masjid-masjid yang tersisa dalam daftar catatan saya.

Pelajaran yang paling berkesan dalam waktu sepuluh hari itu adalah indahnya perbedaan. Saya telah disadarkan dengan wujud Islam, agama saya, yang begitu warna-warni. Hanya dalam 10 hari saja, hanya di kota Cairo saja, Islam telah mewujud dalam berbagai wajahnya. Tata cara dan tradisi masjid masing-masing yang berbeda menunjukkan tentang Islam yang tak bisa diseragamkan. Ketidakseragaman yang bisa disikapi secara arif merupakan keindahan Islam di kota Cairo ini. Perdebatan soal ibadah misalnya, bukan menjadi isu menarik di sini. Ada masjid dengan delapan raka’at, ada masjid dengan dua puluh raka’at. Tetapi jama’ah tidak ragu di manapun di melakukan shalat Ada satu masjid, shubuh kali ini menyertakan qunut, shubuh besok imam lain memimpin tanpa menggunakan qunut. Jamaah yang yang setiap hari shalat shubuh di masjid itu pun tidak menganggap itu sebagai masalah. Saya menjadi sadar, bagaimanapun agama akan tetap kokoh dengan wujudnya yang warna-warni. Setiap usaha untuk memaksanya menjadi seragam tidak akan pernah berhasil, justru akan merapuhkan agama itu sendiri.

Ramadan telah terlewat sudah. Walaupun hanya sepuluh hari, tetapi agenda jalan-jalan saya telah memberi banyak pelajaran. Dan walaupun harus terhenti karena satu dan lain hal, tak ada penyesalan karena saya yakin akan mendapat pelajaran lain di luar jalan-jalan itu. Dan pastinya, agenda safari yang mangkrak kali ini akan saya teruskan di keempatan yang akan datang. Ramadan memang seharusnya benar-benar berarti secara spiritual, maupun sosial. Dan untuk mencari arti ini, lagi-lagi kita tidak bisa diseragamkan.





0 Comments: