Thursday, March 12, 2009

Senyum Kecut Sang Veteran di Ujian Filsafat Skolastik

Awal tahun 2009, saya masih di sini, di Cairo, masih dengan status sebagai mahasiswa Universitas Al Azhar. Perkara saya masih di sini tidak menjadi masalah. Persoalannya, status sebagai mahasiswa itulah yang menjadi problem. Sewajarnya sebagai mahasiswa fakultas Ushuluddin Al Azhar angkatan 2004, saya sudah menggondol gelar sarjana S1 tahun lalu. Empat tahun adalah waktu tempuh standar S1 unversitas Al Azhar fakultas Ushuluddin, sebagaimana di kebanyakan perguruan tinggi Mesir. Waktu empat tahun ini terbagi dalam empat firqah (tingkat) dan delapan dawr (semester). Saat ini saya berada di tahun kedua di tingkat keempat shu'bah (jurusan) filsafat. Tiga tingkat sebelumnya terlewati dengan selamat selama tiga tahun.

Persiapan ujian saya di tahun ajaran lalu memang tak keruan. Dan benar, hasil yang saya dapat adalah tidak lulus dengan menyisakan jumlah mata kuliah dalam hitungan yang begitu tragis; tiga! Saya menyebut tragis karena batas maksimal mata kuliah yang bisa dujikan ulang dalam rangka kelulusan adalah dua. Dan tiga adalah sebuah angka yang benar-benar cukup membuat frustrasi.

Selain kelulusan, kenaikan tingkat juga sama, memberikan angka maksimal dua. Setiap mahasiswa yang gagal di satu atau dua mata kuliah berhak naik dengan konsekuensi penambahan jumlah mata kuliah. Sebelumnya saya termasuk dalam kategori berutung ini, selalu naik dengan membawa mata kuliah tambahan. Hanya saja di tingkat empat inilah saya disadarkan agar tidak selalu manja dengan keberuntungan.

Hitung-hitung, saya telah sepuluh tahun menempuh pendidikan S1! Sebelum menginjak bumi Fir’aun, saya telah malang melintang di rimba perkuliahan Yogyakarta selama lima tahun tanpa meraih gelar apapun. Andaikata tahun ajaran ini saya tidak lulus lagi, maka saya berhak meraih sebuah gelar yang sering disebut-sebut oleh kawan-kawan di Yogyakarta dulu sebagai Sepultura, kepanjangan dari sepuluh tahun ra lulus (Jawa: sepuluh tahun tidak lulus).

Secara umum hari-hari saya kini terlewati dengan biasa-biasa saja. Banyak aktifitas di luar kuliah yang cukup menyibukkan saya. Namun ketika harus berurusan dengan kampus, saya merasa bahwa hari-hari saya begitu malang. Pertama kali saya datang ke kampus lagi di tahun ajaran ini adalah dalam rangka urusan administrasi di kantor tata usaha. Saya langsung merasa mual melihat kampus yang seharusnya saya datangi bukan dalam status saya sebagai mahasiswa. Lebih menyesakkan lagi adalah saat berjumpa kawan-kawan satu angkatan yang bukan lagi mengurus kartu tanda mahasiswa, tetapi sedang mengurus ijazah.

Namun selepas hari itu saya semakin terbiasa lagi untuk menerima keadaan, seiring meningkatnya intensitas kehadiran saya di kampus. Beberapa kali saya harus ke kampus untuk mengurus surat keterangan dalam rangka perpanjangan visa dan beasiswa. Kelas mata kuliah yang saya ulang di semester ini tak harus selalu saya ikuti karena kebetulan tidak ada kewajiban absen. Kedatangan saya lebih banyak dalam rangka urusan-urusan administrasi, serta persiapan menghadapi ujian semisal mengecek jadwal serta ruang ujian.

Dan hari itu datanglah, kamis 22 januari 2009. hari ujian saya satu-satunya di semester ini. Mata kuliah yang saya ulang hari itu adalah mata kuliah filsafat kristen Eropa abad pertengahan, atau filsafat Skolastik. Saya memang benar-benar hancur di ujian mata kuliah yang sama tahun lalu. Apologi untuk kegagalan waktu itu adalah hafalan yang terlalu banyak, tokoh yang tak sedikit, perdebatan-perdebatan spekulatif yang membingungkan. Kali ini saya tak mungkin berapologi lagi, dan saya mencoba belajar lebih baik dibanding tahun lalu. Saya mengalami belajar yang bagi saya luar biasa. Buku diktat saya bahkan sampai kotor; penuh coretan dari tahun lalu, plus tambahan corat-coret baru. Walaupun tak sempurna, namun saya kira kualitas belajar tahun ini lebih baik. Dan siap tak siap, hari itu saya harus melewati ujian ini.

Dengan langkah yang dimantap-mantapkan saya melenggang memasuki gerbang kampus. Namun di tengah jalan antara gerbang dan gedung fakultas saya, tiba-tiba perasaan itu muncul kembali. Mual yang dulu pernah melanda kini kembali menggontaikan langkah yang sebelumnya agak gagah. Saya menyurukkan diri di bawah pepohonan, tempat saya dulu biasa melewatkan waktu setiap sebelum jam ujian dimulai. Ringkasan materi ujian hasil tulisan sendiri saya buka kembali. Namun konsentrasi tak sepenuhnya bener-benar tercapai, saya masih dirundung nelangsa yang mendalam.

Tiba saat ujian harus dimulai, para peserta berbondong-bondong memasuki ruangan masing-masing. Di tangga menuju lantai dua tempat ruangan ujian saya berada, seorang teman yang sama-sama gagal lulus terlihat. Saya memanggil namanya, kami bersalaman, mental saya sedikit menguat. Sebuah ruangan kuliah umum berbentuk mirip tribun lengkap dengan bangku berderet-deret adalah tempat yang saya cari. Ternyata di ruang itulah seluruh mahasiswa tingkat akhir jurusan saya dijadikan satu dalam ujian kali ini, entah si mahasiswa itu mengulang atau tidak. Setelah memeriksa sejenak, saya menemukan tempat saya yang akhirnya menjadi ajang reuni para mahasiswa gagal lulus.

Mula-mula suasana masih sepi karena saya termasuk orang yang hadir awal. Satu per satu para veteran datang, dan inilah yang menjadi momen bangkitnya kembali mental saya. Beberapa kawan Indonesia mulai nampak, begitu juga muka-muka asing, dan wajah-wajah lokal Mesir. Kami saling menyapa, bersalaman, dan bertanya kabar. Kami tersenyum dan bercanda, namun dengan senyum kecut. Tetapi justru kegetiran bersama ini yang menjadikan kami kuat karena merasa tidak sendirian. Saya pun kembali bersemangat membuka-buka lagi catatan selagi ujian belum benar-benar dimulai.

Kertas soal dibagikan, saya cukup lega karena soal-soal tak sebanyak dan sesulit tahun lalu. Saya berusaha mengerjakan setiap soal semampu saya. Setiap beristirahat menulis, saya menyapu pandang ke arah sekitar dan lantas tersenyum. Satu per satu kawan-kawan yang sama-sama mengulang terlihat dari bangku saya yang berada di deret paling belakang. Saya melihat si Malaysia yang tahun lalu selalu keluar cepat setiap kali ujian. Saya juga melihat si gila Philipina yang selalu jauh lebih cepat dari si Malaysia tadi. Nampak juga si Cina yang tahun lalu nampak selalu mantap baik saat memasuki maupun keluar dari ruangan. Si Russia yang kemarin saya jumpai sedang berjalan bersama istrinya ternyata nampak juga pagi itu. Dan masih banyak lagi, Dawud dari Pantai Gading yang gagal di tingkat tiga karena harus pulang mengurusi kebun kopi kepunyaan ayahnya juga kelihatan di depan sana. Ahmad Muhammad Mahmud yang asli Mesir, yang selalu rajin bertanya di setiap kuliah ternyata tak selamat juga. Yang paling konyol adalah Muhammad si pemegang paspor bertuliskan Egyptian Passport for Palestinian Refugee. Dia yang di mata saya adalah anak rajin, selalu aktif mencatat dalam setiap kuliah, termasuk orang-orang yang keluar akhir di setiap ujian, ternyata masih harus berada di antara kami. Ternyata banyak juga kawan-kawan yang harus gagal di tahun lalu. Ujian kali ini akhirnya benar-benar saya lewati dengan tersenyum-senyum. Batin saya, kenapa juga mereka harus mengikuti ujian lagi bersama saya. Sebaliknya saya juga berpikir kenapa saya harus mengikuti ujian lagi bersama mereka.

Akhirnya ujian ini saya selesaikan sesuai kemampuan, lalu lembar jawaban saya kumpulkan. Keluar ruangan, saya melenggang dengan perasaan bercampur-campur tak jelas. Sesampai di luar saya memutuskan untuk tidak pulang melalui jalur bus terdekat. Ujian yang hanya satu tak memaksa saya untuk buru-buru pulang dan membuka diktat lagi. Saya melangkahkan kaki untuk mencari lorong-lorong baru di sekitar kampus, yang belum pernah saya lewati. Sepanjang jalan saya berpikir tentang apa yang bisa saya dapatkan di tahun ajaran yang hanya berisi tiga mata kuliah ini. Saya tak menyebutnya sebagai hikmah, karena setiap yang terpilih mempunyai sisi positif, tinggal mampu atau tidak hal itu dieksplorasi.

Saya tersadar, ternyata saya sedang tersesat di sebuah lorong sempit pusat penjualan kain di kawasan Muski. Sambil mencari-cari jalan keluar saya membayangkan St. Augustine, Thomas Aquinas, dan Willian of Ockham sedang berkumpul. Mereka berdebat.


0 Comments: