Thursday, March 12, 2009

Sudah Timur, Masih Rock Pula; Jazz Fusion ala Fathy Salama

15 Desember 2008, seperti biasa di setiap medio Desember di Cairo, hawa telah benar-benar dingin. Kalau Oktober dan November saja sudah cukup dingin, kali ini jelas lebih dingin. Masih pukul 6 petang tapi sudah sangat gelap, maklum magrib telah datang pukul 5 petang kurang. Sedikit bercakap-cakap dengan seorang teman melalui telepon genggam, perjalanan pun dimulailah.

Malam itu sesuai jadwal di beberapa media yang sudah saya verifikasi, adalah saat penampilan Fathy Salama, salah seorang komposer dan musisi jazz Mesir, yang akan manggung bersama ensembelnya yaitu Sharkiat, di Cairo Opera House. Menariknya, dalam konser bertajuk Oriental Rock ini, Fathy bersama Sharkiat-nya akan berkolaborasi dengan grup Screwdriver, salah satu band yang cukup masyhur di scene music rock Cairo. Menggelitik, pikir saya. Fathy dan Sharkiat yang sejauh saya tahu memainkan musik oriental jazz fusion nan lembut, sementara Screwdriver adalah band rock yang sudah pasti cadas.

Saya menumpa
ng angkutan umum menuju ke lokasi konser. Tetapi berhubung kemacetan rutin Cairo di jam pulang kerja, saya turun di dekat sebuah stasiun kereta bawah tanah untuk berganti tumpangan. Dan mendingan, meski penuh sesak pula, tapi tak mungkin lah kalu kereta pun harus terjebak macet.

Di tempat yang
telah kami sepakati, saya menjumpai teman saya Joy telah duduk menunggu. Joy adalah teman Indonesia akrab saya di Cairo, khusus dalam beberapa urusan termasuk hal ihwal musik baerbau jazz, musik sufi, maupun musik yang masuk kategori world music. Urusan lainnya bersama dia adalah semisal city walking, atau sekedar wisata kuliner. Kami berdua beranjak menuju venue tempat pertunjukan yaitu di open air theatre, satu di antara 3 venue yang ada di Cairo Opera House. Khawatir kehabisan tiket, kami buru-buru menuju ke loket, dan ternyata penjaga loket bilang bahwa tak ada nomor kursi. Berarti harus masuk cepat-cepat, gumam kami.

Pukul 19.00 pas, ka
mi mengintip panggung, melihat keadaan karena ingin cepet-cepat masuk. Tapi kami lihat Fathy dan kawan-kawan masih melakukan check sound, kursi penonton masih melompong. Ternyata masih ada waktu untuk kami bersantai sebelum acara yang memang terjadwal akan dimulai satu jam ke depan. Kami keluar menuju pinggir jalan, nongkrong di samping sebuah kios kaki lima (orang mesir menyebutnya 'kishk', dari bahasa Perancis 'kiosk'). Kios ini adalah tempat di mana orang-orang bisa membeli makanan, minuman, atau rokok.

Jam 20.00 kurang sedikit, kamu memasuki venue. Open air theater ini seharusnya tak beratap, teta
pi berhubung musim dingin, bagian yang seharusnya bolong ditutup dengan tenda kain. Penonton mulai berdatangan, namun hingga lima belas menit lebih dari waktu seharusnya, konser belum dimulai. “Jam karet juga”, bisik Joy, dan saya pun terkekeh.

Di panggung telah be
rjejer berbagai instrumen. Seperangkat keyboard, gitar bass, dan seperangkat perkusi tradisional Arab pasti punya Sharkiat kira saya. Sementara gitar elektrik dan drum kit saya kira adalah kepunyaan Screwdriver.

Dan pada 20.30, konser baru dimulai. Fathy bersama Sharkiat memulai aksinya dengan nomor-nomor instrumental jazz oriental. Sesuai perkiraan, ada Fathy di keyboard, satu pemain bass, dan dua pemain perkusi. Dan yang instrumennya belum sempat ditata di panggung adalah si pemain akordion dan pemain 'shagat', sebuah simbal mini yang merupakan alat musik idiofon khas Timur Tengah. Si pemain 'shagat' ini, Ahmed el Gazar, menjadi bagian menarik tersendiri dari Sharkiat. Berbusana jubah 'galabeyya' khas daerah Mesir selatan, ia memadukan keterampilan permainan instrumen dengan koreografi yang khas. Alat musik yang ia mainkan itu kerap juga disebut dengan zill, dan biasa dimainkan oleh penari perut kala bergoyang. Dan dalam sebuah nomor, Ahmad bahlan diberi kesempatan khusus untuk menunjukkan kebolehannya melakukan tarian tradisional orang-orang sha’id (Mesir selatan)..

Nampaknya Fathy benar-benar ingin menonjolkan nuansa etnik Mesir dalam penampilannya. Karena walaupun nuansa Timur Tengah telah dibangun dengan aransem
en musiknya, tapi Timur Tengah Masih terlalu luas. Dan Ahmad malam itu bertugas menjadi duta Mesir dengan pakaiannya yang berbeda, serta dengan tariannya yang khas.

Paruh kedua adalah kolaborasi antara Sharkiat dan Screwdriver. Bukan dalam formasi lengkapnya, Screwdriver hanya menampilkan satu pemain drum, satu pemain gitar, dan seorang vokalis. Beberapa nomor lagu Screwdriver yang berbahasa Inggris diaransemen ulang oleh Fathy sehingga terasa lebih 'timur'. Ada juga beberapa nomor khusus yang sengaja diolah bersama-sama secara khusus untuk pertunjukan kali ini.

Secara umum Fathy berhasil menunjukkan kapabilitasnya sebagai seorang musisi jazz profesio
nal. Pria berumur 39 tahun ini telah mengasah kemampuan bermusiknya di Amerika Serikat dan di benua Eropa. Di negerinya sendiri ia telah merilis banyak komposisi termasuk mengaransemen album beberapa penyanyi pop Mesir semisal Amr Diab, serta Ali al Haggar. Berkat aransemen Fathy pulalah album musik sufi Youssou N'dour, salah seorang penyayi Senegal, yang berjudul Egypt (2004) berhasil meraih Grammy Award dan BBC Award di tahun 2005.

Malam itu pula Sharkiat berhasil memperkaya irama lagu-lagu rock kepunyaan Screwdiver. Permainan akordion Saleh el Artist pun patut diacungi jempol. Ia tetap dengan apik m
emunculkan nada-nada quarter tone khas Timur Tengah di tengah dentuman drum dan raungan distorsi gitar elektrik.

Yang mengecewakan bagi saya dan Joy adalah si Sheehab Kasseb, sang vokalis Screwdriver yang sama sek
ali tidak berhasil menguasai penonton. Suaranya yang rocky tidak diimbangi dengan bahasa panggung yang luwes. Dia malah seringkali sibuk berkomunikasi dengan personel lain sehingga terkesan melupakan penonton. Mungkin saja dia masih terlalu nervous untuk tampil di depan para penonton yang bisa dikatakan cukup 'diam'. Mungkin saja, dia lebih nyaman bernyanyi di depan para 'headbanger' yang hingar bingar. Sesekali ia mencoba mengajak penonton menyanyi bersama, namun selalu gagal.

Hal lain yang nampak mengganggu adalah pengaturan sound system. Fathy harus beberapa kali memberikan isyarat kepada soundman untuk menaik-turunkan volume beberapa instrumen. Konsep panggung open air theatre yang digunakan malam ini juga menyisakan ganjalan. Lorong di mana para pemain bersiap menjadi satu dengan lorong menuju ko toilet. Walhasil penonton yang hendak menuju toilet harus berseliweran di antara para pemain yang bersiap naik ke panggung. Tata cahaya panggung yang terlalu sederhana juga tidak berhasil mengangkat suasana panggung.

Namun demikian, saya dan Joy tetap melenggang puas sepulang menyaksikan konser kali ini. 20 pound Mesir nampaknya cukup impas untuk membayar satu tiket pertunjukan tadi.


0 Comments: