Friday, March 13, 2009

Safari Ramadan (I); Toleransi, Kemurahan Hati, dan Lemparan Kurma dalam Ramadan di Mesir

Pertama kali saya menghirup hawa Mesir, saat itu adalah malam hari di bulan puasa. Seketika pada paginya, saya sudah diajak keluar oleh seorang kerabat, yang juga senor saya, untuk melihat kampus tempat kuliah nanti. Banyak hal yang bisa diceritakan tentang pengalaman hari itu; tentang rasa heran terhadap hal-hal baru, tentang pengalaman lucu, atau pembuktian terhadap imajinasi saya tentang Mesir, tentang Cairo, dan tentang Al Azhar. Salah satu hal menarik adalah kesan pertama tentang bagaimana Ramadan dilewatkan oleh masyarakat negeri ini .



Pagi itu kami mencegat bus di sebuah halte terdekat dari flat kerabat saya, yang terletak di daerah kebanyakan orang-orang Indonesia tinggal. Banyak muka-muka Asia yang nampak pula menunggu angkutan di halte itu. Minubus seukuran dengan Toyota Hi-Ace banyak sekali melintas di depan kami. Para kernet menawarkan tumpangan dengan teriakan-teriakan yang masih kedengaran aneh dan lucu bagi saya. Namun bagaimanapun, gaya tawaran model berteriak-teriak ini masih hampir mirip dengan apa yang saya temui di tanah air. Sama-sama negara dunia ketiga, sistem mata pencahariannya tak beda jauh, pikir saya.

Tiba-tiba ada hal yan
g benar-benar mencuri perhatian saya. Seorang kernet berteriak-teriak di pintu minibusnya yang melaju pelan di hadapan kami, dengan rokok mengepul dan segelas teh di genggaman tangan. Saya sontak mengamati sekeliling, memandang orang-orang, baik yang berkerumun di sekitar halte, atau yang menumpang di minibus itu. Tak ada muka tak wajar, semua biasa, sesuai standar muka para penunggu dan penumpang angkutan umum. Saya mulai berani mengambil kesimpulan dalam keadaan ini. Mungkin kernet angkutan tadi adalah orang kristen Koptik, pikir saya. Dan saya berasumsi bahwa orang-orang di Mesir ini mempunyai budaya toleransi tinggi, sehingga tidak masalah jika seseorang yang tidak berpuasa secara eksplisit menunjukkan statusnya.

Yang kami tunggu datang; sebuah bus tua berukuran besar yang sebagian tempat duduknya telah terisi. Bus melaju, dan seterusnya penumpang makin bertambah, hingga tempat duduk tak muat lagi. Saya kembali merekam pemandangan; seorang membaca Qur’an, beberapa perempuan belasan tahun dengan seragam sekolah bercanda penuh tawa, seorang memutar tasbihnya, seorang membaca koran, di tengah hiruk-pikuk penumpang lain. Beberapa minibus melintas di sekitar, di dalamnya banyak orang-orang membaca Qur’an. Lagi-lagi saya berpikir tentang toleransi. Orang boleh membaca Qur’an atau memutar tasbihnya tanpa takut dicibir, dipandang tajam, karena terkesan sok religius. Orang yang bercanda tertawa-tawa, membaca koran, membaca buku, atau sekedar melamun pun bebas melakukan apapun pilihannya itu.

Kebebasan dan toleransi ini makin hari ma
kin saya rasakan dengan semakin bertambah lamanya saya tinggal di sini. Orang melakukan shalat di manapun ia mau juga biasa. Selagi masih ada tempat suci, orang tak harus bingung untuk mencara tempat tertutup saat waktu shalat datang. Orang-orang lewat di sekitarnya bersikap biasa tanpa merasa terganggu. Pernah juga saya melihat dua remaja putri, satu berjilbab, satu lagi berkalung salib, berjalan akrab bergandeng tangan. Memang benar ada beberapa kasus konflik antar agama di Mesir yang hanya diekspos oleh media-media oposisi. Tetapi saya berani menilai bahwa dalam hubungan umat beragama di Mesir ini, konflik antar agama bukanlah menjadi isu yang sentral. Toleransi masih menjadi kecenderungan yang dominan.

Beberbekal dengan pengalaman satu hari Ramadan tadi, saya semakin tertarik untuk menyelami f
enomena Ramadan lain yang ada di Mesir ini. Pertama saya mencari gebyar tradisi seremonial Ramadan seperti yang kita temui di Indonesia. Masjid sangat ramai di saat shalat terutama isya yang diteruskan dengan tarawih. Sepuluh hari terakhir masjid juga dipenuhi para jama'ah i'tikaf. Beberapa usaha bisnis semisal restoran, hotel, atau bahkan penyedia layanan selular juga memberikan paket Ramadan. Kantor-kantor, instansi-instansi serta sekolah-sekolah mengurangi jam aktifnya. Televisi mengadakan perubahan program disesuaikan dengan suasana Ramadan. Dagangan berupa lampu-lampu fanus khas Ramadan bergelantungan di emperan toko kelontong, atau toko yang memang khusus dibuka di bulan puasa ini untuk menjual lampu-lampu ini. Lentera Ramadan ini dapat kita temui dengan berbagai ukuran dan warna, baik produk lokal maupun made in China. Di toko-toko roti atau warung dadakan, kita bisa membeli kue-kue khas Ramadan semisal kunafah dan qathayef, atau bahan minuman buah apricot yang biasa disebut qamaruddin. Saat sahur tiba, musakkharat (orang yang bertugas membangunkan sahur) akan berkeliling memikil-mukul panci atau benda-benda logam. Musakhhatrat ini biasanya bekerja sebulan penuh selama Ramadan dan dibayar secara patungan oleh penduduk kampung di mana dia bertugas.

Bagi saya, gebyar Ramadan di Mesir masih kalah jauh dengan kebiasaan orang-orang muslim Indonesia dalam menyambut bulan ini. Anggapan ini senada dengan apa kata orang-orang Indonesia di Mesir yang saya mintai pendapatnya. Bagi orang Indonesia di sini, Ramadan masih kurang ‘terasa’, apalagi ditambah dengan tradisi Mesir yang tidak terbiasa menyambut Idul Fitri secara meriah. Selepas shalat Ied, jalanan akan kembali penuh dengan kendaraan dan angkutan umum, toko-toko juga buka seperti biasa. Paling-paling, orang-orang bersama keluarganya melepaskan libur sehari itu di taman-taman umum. Tapi jangan tanya apabila Idul Adha datang. Hari raya kurban ini adalah hari raya sebenaranya bagi orang Mesir. Libur yang panjang, angkutan umum yang sedikit, toko-toko yang ditinggal mudik pemiliknya akan membuat kami merasa kesepian apabila Idul Adha tiba.

Meskipun Ramadan dan Idul Fitri tak seramai di tanah air, bukan berarti masa-masa ini tidak memberikan kesan apapun bagi saya dan teman-teman Indonesia di sini. Di saat itulah kemurahan hati, kebersamaan, beserta toleransi seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, adalah inti dari betapa begitu menariknya Ramadan di sini. Di bulan inilah, para orang kaya menunjukkan kedermawaannya. Donasi dari mereka akan dikelola oleh masjid-masjid untuk penyediaan hidangan buka puasa gratis yang disebut maidaturrahman. Hampir setiap masjid di Mesir menyediakan sajian ini sepanjang bulan Ramadan. Ada beberapa masjid yang bahkan menyediakannya di luar Ramadan, khusus pada hari senin dan kamis.

Selain itu, donasi dikelola juga oleh masji-masjid atau lembaga tertentu untuk memberikan santunan berupa uang yang ditujukan kepada fakir miskin atau para pelajar asing. Beberapa kawan Indonesia bahkan ada begitu aktif mencari santunan ini hingga sering disebut sebagai pemburu musa'adah (santunan). Di jalan-jalan, orang-orang sibuk menyiapkan makanan dan minuman ringan untuk orang-orang yang melewatkan magrib di jalan. Di keramaian jalan dekat rumah mereka, para pemuda dan anak-anak menuang muniman manis di gelas-gelas plastik. Saat magrib hampir menjelang, mereka menyodorkan gelas-gelas itu ke arah kendaraan yang berlalu lalang. Demikian pula buah-buahan, sebungkus kurma, mereka bagi-bagikan kepada para musafir. Saya punya pengalaman di sebuah petang bulan Ramadan. Saya yang sedang berada di dalam bis, tiba-tiba dilempar sesuatu oleh seseorang dari luar. Seluruh penumpang kaget. Setelah saya amati, ternyata benda yang dilemparkan barusan itu adalah sebungkus plastik kurma!

Beberapa lembaga besar bahkan membagikan paket buka puasa yang lebih mewah di jalan-jalan. Pembagian ini dilakukan oleh muda-mudi yang sekilas tampak berasal dari kalangan menengah ke atas. Komunitas Indonesia ikut kecipratan suasana murah hati ini. Beberapa organisasi mahasiswa Indonesia disuplai paket hidangan berbuka dalam jumlah besar, tak jarang dalam waktu sebulan penuh.

Selanjutnya, hal yang begitu mengesankan bagi saya adalah suasana kebersamaan terutama pada saat magrib telah datang. Beberapa kali saya melewatkan waktu berbuka datang di jalan-jalan atau malah di dalam kendaraan. Ketika kita berada di jalanan, kita pasti akan dengan mudah mendapatkan minuman atau sekedar kurma secara gratis. Apabila kita menemukan masjid, kita bisa mampir untuk shalat dan makan dengan kenyang. Nah ketika di dalam kendaraan umum, tak usah merasa kebingungan apabila tak ada yang menyodorkan minuman dan makanan kecil dari luar. Biasanya sang supir telah siap dengan sajian ringannya, sekedar untuk membatalkan puasa. Beberapa kali saya mendapati sang supir mengulurkan makanan atau minuman untuk digilir secara estafet oleh seluruh penumpang.

Pernah sekali waktu ketika magrib datang, kendaraan umum yang saya naiki tiba-tiba dipepet oleh sebuah sedan yang ditumpangi oleh dua pria muda. Ternyata mereka berusaha membatalkan puasa dengan mengisap rokok, tetapi mereka tidak membawa korek api. Kepada sopir kendaraan kami, dua orang pemuda itu meminjam korek dan menyulut rokok mereka. Asap mengepul, terimakasih dan salam, sedan itu melaju kencang lagi. Betapa semua yang saya lihat ini memberikan gambaran baru tentang bagaimana cara memaknai Ramadan.

Lima kali Ramadan telah saya lewati di sini. Ramadan terakhir adalah yang paling berkesan bagi seya. Sebelum-sebelumnya bulan puasa saya lewati begitu saja. Namun untuk yang kali ini, saya sengaja berusaha meramaikan Ramadan saya dengan beberapa agenda pribadi. Sepertiga bulan yang awal saya lewati dengan mengadakan jalan-jalan Ramadan, sepertiga kedua disibukkan oleh latihan plus penampilan saya sebagai musisi amatir di sebuah even. Sementara sepertiga terakhir banyak saya lewatkan dengan acara-acara seremonial bersama komunitas Indonesia.

Satu agenda rutinan saya setiap hari Ramadan adalah menonton televisi setelah shubuh. Tontonan yang menarik saat itu bagi saya adalah film-film dokumenter Ramadan yang disiarkan oleh saluran favorit saya Al Jazeera Wathaiqeyya (Al Jazeera Documentary). Khusus selama Ramadan, saluran ini telah menyiapkan program dengan tema Ramadan and the Cities yang berisikan rekaman suasana masyarakat muslim di berbagai penjuru dunia dalam bulan Ramadan. Lewat acara inilah saya dipuaskan dengan liputan tentang Ramadan yang berwarna-warni, mulai dari ujung barat Maroko hingga ujung timur Indonesia. Saya begitu merasa sejuk dengan Islam yang begitu damai, diartikulasikan melalui tradisi masing-masing di tempat-tempat berbeda. Nilai-nilai Islam tidak menjadi kaku dan bisa begitu luwes melebur dalam kehidupan berbagai masyarakat Islam dunia dengan kulturnya masing-masing.

Pengalaman adalah guru terbaik dan paling bijaksana. Beberapa Ramadan dan tahun telah terlewati di sini dengan banyak pelajaran. Semoga bukan sekedar pelajaran, namun menjadi pelecut bagi saya agar semakin paham akan arti kemanusiaan kita.



0 Comments: