Bermula dari ketertarikan saya untuk membeli dan belajar biola sekitar tiga tahun lalu, akhirnya saya dipertemukan dengan dua orang Indonesia di Cairo yang sama-sama ‘débutant’ dalam urusan biola. Mereka adalah Solah yang berasal dari Lombok, dan Susan yang berasal asli Jawa Timur. Susan yang memang paling pertama belajar biola di antara kami iseng-iseng menamakan kumpulan kami sebagai ‘The Fiddles’.
Awal Ramadan lalu, tiba-tiba kami bertiga diajak tampil bareng oleh sebuah grup musik gambus kepunyaan GAMAJATIM (Keluarga Masyarakat Jawa Timur di Mesir). Menurut Susan yang pertama kali dihubungi, kami diperbantukan kepada grup gambus ini untuk mengisi posisi pemain oud dan biola yang saat itu kosong. Saya dan Susan rencananya akan dipasang sebagai pemain biola, sementara Solah yang bisa memainkan beberapa alat musik itu akan dipasang sebagai pemain oud..
Pada latihan pertama kali kami baru tahu jika kami bertiga akan tempil bersama grup gambus GAMAJATIM ini di even ‘Featuring Ramadan in Indonesia’ yang diadakan di Cairo Opera House pada malam ramadan ke-20. Even ini diselenggarakan atas kerja sama antara KBRI Cairo dengan Cairo Opera House, utuk menampilkan art performance yang erat kaitannya dengan tradisi Ramadan di Indonesia.
Pada awalnya saya agak ragu untuk menerima ajakan itu karena saya telah memiliki agenda pribadi di Ramadan kali ini. Rencanaya saya akan melakukan safari spiritual ke masjid-masjid berbeda di Cairo sepanjang bulan suci itu. Saya pikir apabila saya menerima tawaran tampil bersama ini, maka hari-hari Ramadan pasti akan tersita untuk latihan hingga pada saat tampil nanti. Agenda safari yang telah saya canangkan pastilah akan terbengkalai. Namun setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran itu demi sebuah pengalaman baru. Memainkan musik gambus khas Arab pasti akan menjadi pengalaman menarik dan sangat berharga.
Para personel gambus telah menyiapkan sebuah lagu yang akan dimainkan nanti. Mereka telah menyiapkan sebuah lagu berjudul Ma Yazal Gad yang berirama khas khaliji (irama musik negara-negara Arab teluk). Sementara itu Solah dan Susan juga tak mau kalah, dan mengusulkan sebuah lagu yang berjudul Ya Rayah. karya Rachid Taha Lagu kedua ini termasuk dalam genre music Rai yang begitu popular di Aljazair, tempat Rachid berasal. Yang menarik, lagu Ya Rayah ini dinyanyikan dalam bahasa India dengan judul Kaali Nagin Ke Jaisi dalam film Mann. Saya bahkan pernah mendengar cover version dari lagu ini yang dinyanyikan oleh sebuah grup shalawat di Indionesia, tetapi dengan lirik lain, tapi masih berbahasa Arab!
Terhadap dua pilihan lagu ini, saya menerima begitu saja, karena saya merasa belum tahu banyak tentang lagu-lagu Arab. Terlebih lagi, masing-masing pihak yang menawarkan paling tidak telah sedikit menguasai lagu-lagu yang ditawarkan itu, dengan demikian, latihan akan berjalan lebih efisien. Namun yang pasti, dua lagu yang disepakati ini berbeda dilihat dari iramanya, maupun dari dialek bahasa liriknya.
Hampir setiap malam Ramadan kami lalui dengan latihan. Rasa sungkan saya pribadi karena merasa sekedar sebagai additional player yang bukan orang asli Jawa Timur kian lama hilang. Ini semua karena sikap hangat dan bersahabat yang ditunjukkan oleh teman-teman personel gambus. Terlebih lagi, mereka selalu melakukan latihan dengan gembira dan penuh canda, namun tanpa kehilangan semangat dan keseriusan.
Siang hari sebelum malam pentas kami telah berada di lokasi acara untuk melakukan gladi resik. Sore harinya kami menuju KBRI untuk berbuka bersama dan kembali ke lokasi lengkap dengan kostum pentas. Selain kami, beberapa grup yang akan tampil adalah grup marawis, grup nasyid acapella, grup rebana hadrah, ensembel angklung, serta grup tari Saman, yang semuanya berasal dari komunitas Indonesia-Mesir. Dari KBRI semua penampil telah mengenakan kostum masing-masing, dan kami dari grup Gambus pun telah mengenakan pakaian kebesaran kami; batik.
Tamu-tamu yang kebanyakan adalah para anggota korps diplomatik berbagai negara telah memenuhi Small Hall di Cairo Opera House, tempat pertunjukan malam itu. Pukul sembilan malam tepat acara dimulai dengan sambutan duta besar Indonesia di Mesir. Grup gambus kami terjadwal manggung di urutan keempat. Sebagian besar pementas berlatih di lorong belakang panggung. Lucunya, mereka akhirnya harus berhenti berlatih karena salah satu personel grup orkestra yang sedang berlatih di hall sebelah mengajukan protes karena suara mereka yang bising. Saya malah lebih banyak menghabiskan waktu di lorong samping panggung.
Lelah yang telah seharian terkumpul membuat saya sangat nyaman di lorong samping panggung itu. Suasananya sangat gelap. Ada dua pembawa acara yang bersembunyi, ada beberapa kru panggung, dan ada seorang penjaga tali tirai panggung. Saya melepaskan baju batik saya dan merebahkan diri di atas sebuah tumpukan kain tirai berukuran besar. Di samping sebuah grand piano Yamaha, saya melepas penat sambil melicinkan penggosok biola dengan rosin. Menerawang, saya membayangkan jika hidup dari panggung ke panggung. Akan sering mendapatkan suasana seperti ini, pikir saya. Di depan saya adalah orang Mesir si penjaga tali tirai. Saat sebuah lagu dari atas panggung selesai, dia dengan bersemangat sekali bertepuk tangan. Kami saling bertatap mata dan berisyarat muka dalam keremangan. Dalam hati saya berbangga; ia yang orang Mesir, ternyata memberi apresiasi juga terhadap karya seni anak Indonesia.
Saat giliran tiba, kami buru-buru menuju panggung. Dalam keadaaan tertutup tirai, kami mengatur posisi dan menyiapkan semua alat dibantu oleh kru panggung. Saya dan Susan berharap-harap cemas dengan persiapan itu. Ada sedikit masalah pada amplifier di mana dua pickup kami tersambung. Yang saya sesalkan adalah pihak penyelengggara KBRI yang terkesan memburu-buru proses gladi resik sore sebelumnya. Pihak Cairo Opera House juga nampaknya tak mau tahu dengan kebutuhan grup kami yang menyertakan banyak alat musik. Walaupun bukan pemusik profesional, tetapi semestinya kami mendapatkan porsi gladi resik yang cukup dan kelengkapan yang memadai pula. Tidak cuma kami berdua, beberapa personel juga kebingungan dengan alat-alat mereka. Mulai dari kabel yang tak cukup panjang, takaran suara yang belum pas, posisi yang tidak nyaman dan sebagainya. Tapi kami telah berada di atas panggung, dan layar pun telah terkembang. Saya dan Susan hanya berharap kepada satu standing microphone yang kami pakai untuk berbagi, Andaikata pickup kami tak cukup mempan, microphone ini bisa mungkin bisa menolong.
Dua lagu kami mainkan. Para penonton bersorak dan bertepuk tangan. Saya sempat melirik beberapa penonton barisan depan yang merupakan orang-orang Arab. Mereka tampak berbisik tersenyum dan berbinar matanya. Mungkin mereka cukup terkesan dengan wajah-wajah Asia kami yang begitu kontras dengan musik kami yang begitu Arab. Ditambah dengan tari zapin tiga vokalis kami, tidak hanya mereka yang orang Arab, melainkan hampir seluruh penonton bersorak. Bagaimanapun, penampilan gambus kami termasuk paling semarak di antara beberapa penampilan malam itu. Hanya grup kamilah yang instrumennya tidak terbatas berupa alat perkusi. Kami menyertakan dua keyboard, satu gitar bass, tiga alat perkusi, dua biola dan satu oud. Di tengah penampilan, saya sudah mulai tersenyum. Bagaimanapun keadaan kami, tapi semua bisa bermain dengan tanpa beban dan saling menutupi kekurangan masing-masing. Kami telah menunjukkan kerja tim yang baik.
Selepas acara, saya mendengar kasak-kusuk para penonton tentang pentas barusan. Para diplomat asing nampak begitu puas, para diplomat Indonesia nampak begitu bangga, dan para pementas pun nampak begitu lega. Kami saling menyapa, saling bersalaman, dan berfoto bersama. Saya tertarik untuk khusus menanyakan bagaimana permainan biola kami berdua di atas panggung tadi. Menurut beberapa teman, suara biola kami kurang begitu masuk, namun penampilan gambus secara umum tetap menarik. Seorang teman juga bilang jika ada sedikit nada-nada sumbang di permainan biola kami di awal lagu pertama. Saya malah jadi berharap, semoga sound system yang tidak berfungsi seratus persen tadi bisa menutupu sumbangnya permainan biola kami!
Walhasil, pentas malam itu sangat mengesankan bagi semua pihak yang terlibat dan juga bagi saya pribadi. Memang pentas kali ini tak akan bebas dari kritik sama sekali. Tetapi bukan berarti pentas ini juga tidak memberi pelajaran sama sekali.
Awal Ramadan lalu, tiba-tiba kami bertiga diajak tampil bareng oleh sebuah grup musik gambus kepunyaan GAMAJATIM (Keluarga Masyarakat Jawa Timur di Mesir). Menurut Susan yang pertama kali dihubungi, kami diperbantukan kepada grup gambus ini untuk mengisi posisi pemain oud dan biola yang saat itu kosong. Saya dan Susan rencananya akan dipasang sebagai pemain biola, sementara Solah yang bisa memainkan beberapa alat musik itu akan dipasang sebagai pemain oud..
Pada latihan pertama kali kami baru tahu jika kami bertiga akan tempil bersama grup gambus GAMAJATIM ini di even ‘Featuring Ramadan in Indonesia’ yang diadakan di Cairo Opera House pada malam ramadan ke-20. Even ini diselenggarakan atas kerja sama antara KBRI Cairo dengan Cairo Opera House, utuk menampilkan art performance yang erat kaitannya dengan tradisi Ramadan di Indonesia.
Pada awalnya saya agak ragu untuk menerima ajakan itu karena saya telah memiliki agenda pribadi di Ramadan kali ini. Rencanaya saya akan melakukan safari spiritual ke masjid-masjid berbeda di Cairo sepanjang bulan suci itu. Saya pikir apabila saya menerima tawaran tampil bersama ini, maka hari-hari Ramadan pasti akan tersita untuk latihan hingga pada saat tampil nanti. Agenda safari yang telah saya canangkan pastilah akan terbengkalai. Namun setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran itu demi sebuah pengalaman baru. Memainkan musik gambus khas Arab pasti akan menjadi pengalaman menarik dan sangat berharga.
Para personel gambus telah menyiapkan sebuah lagu yang akan dimainkan nanti. Mereka telah menyiapkan sebuah lagu berjudul Ma Yazal Gad yang berirama khas khaliji (irama musik negara-negara Arab teluk). Sementara itu Solah dan Susan juga tak mau kalah, dan mengusulkan sebuah lagu yang berjudul Ya Rayah. karya Rachid Taha Lagu kedua ini termasuk dalam genre music Rai yang begitu popular di Aljazair, tempat Rachid berasal. Yang menarik, lagu Ya Rayah ini dinyanyikan dalam bahasa India dengan judul Kaali Nagin Ke Jaisi dalam film Mann. Saya bahkan pernah mendengar cover version dari lagu ini yang dinyanyikan oleh sebuah grup shalawat di Indionesia, tetapi dengan lirik lain, tapi masih berbahasa Arab!
Terhadap dua pilihan lagu ini, saya menerima begitu saja, karena saya merasa belum tahu banyak tentang lagu-lagu Arab. Terlebih lagi, masing-masing pihak yang menawarkan paling tidak telah sedikit menguasai lagu-lagu yang ditawarkan itu, dengan demikian, latihan akan berjalan lebih efisien. Namun yang pasti, dua lagu yang disepakati ini berbeda dilihat dari iramanya, maupun dari dialek bahasa liriknya.
Hampir setiap malam Ramadan kami lalui dengan latihan. Rasa sungkan saya pribadi karena merasa sekedar sebagai additional player yang bukan orang asli Jawa Timur kian lama hilang. Ini semua karena sikap hangat dan bersahabat yang ditunjukkan oleh teman-teman personel gambus. Terlebih lagi, mereka selalu melakukan latihan dengan gembira dan penuh canda, namun tanpa kehilangan semangat dan keseriusan.
Siang hari sebelum malam pentas kami telah berada di lokasi acara untuk melakukan gladi resik. Sore harinya kami menuju KBRI untuk berbuka bersama dan kembali ke lokasi lengkap dengan kostum pentas. Selain kami, beberapa grup yang akan tampil adalah grup marawis, grup nasyid acapella, grup rebana hadrah, ensembel angklung, serta grup tari Saman, yang semuanya berasal dari komunitas Indonesia-Mesir. Dari KBRI semua penampil telah mengenakan kostum masing-masing, dan kami dari grup Gambus pun telah mengenakan pakaian kebesaran kami; batik.
Tamu-tamu yang kebanyakan adalah para anggota korps diplomatik berbagai negara telah memenuhi Small Hall di Cairo Opera House, tempat pertunjukan malam itu. Pukul sembilan malam tepat acara dimulai dengan sambutan duta besar Indonesia di Mesir. Grup gambus kami terjadwal manggung di urutan keempat. Sebagian besar pementas berlatih di lorong belakang panggung. Lucunya, mereka akhirnya harus berhenti berlatih karena salah satu personel grup orkestra yang sedang berlatih di hall sebelah mengajukan protes karena suara mereka yang bising. Saya malah lebih banyak menghabiskan waktu di lorong samping panggung.
Lelah yang telah seharian terkumpul membuat saya sangat nyaman di lorong samping panggung itu. Suasananya sangat gelap. Ada dua pembawa acara yang bersembunyi, ada beberapa kru panggung, dan ada seorang penjaga tali tirai panggung. Saya melepaskan baju batik saya dan merebahkan diri di atas sebuah tumpukan kain tirai berukuran besar. Di samping sebuah grand piano Yamaha, saya melepas penat sambil melicinkan penggosok biola dengan rosin. Menerawang, saya membayangkan jika hidup dari panggung ke panggung. Akan sering mendapatkan suasana seperti ini, pikir saya. Di depan saya adalah orang Mesir si penjaga tali tirai. Saat sebuah lagu dari atas panggung selesai, dia dengan bersemangat sekali bertepuk tangan. Kami saling bertatap mata dan berisyarat muka dalam keremangan. Dalam hati saya berbangga; ia yang orang Mesir, ternyata memberi apresiasi juga terhadap karya seni anak Indonesia.
Saat giliran tiba, kami buru-buru menuju panggung. Dalam keadaaan tertutup tirai, kami mengatur posisi dan menyiapkan semua alat dibantu oleh kru panggung. Saya dan Susan berharap-harap cemas dengan persiapan itu. Ada sedikit masalah pada amplifier di mana dua pickup kami tersambung. Yang saya sesalkan adalah pihak penyelengggara KBRI yang terkesan memburu-buru proses gladi resik sore sebelumnya. Pihak Cairo Opera House juga nampaknya tak mau tahu dengan kebutuhan grup kami yang menyertakan banyak alat musik. Walaupun bukan pemusik profesional, tetapi semestinya kami mendapatkan porsi gladi resik yang cukup dan kelengkapan yang memadai pula. Tidak cuma kami berdua, beberapa personel juga kebingungan dengan alat-alat mereka. Mulai dari kabel yang tak cukup panjang, takaran suara yang belum pas, posisi yang tidak nyaman dan sebagainya. Tapi kami telah berada di atas panggung, dan layar pun telah terkembang. Saya dan Susan hanya berharap kepada satu standing microphone yang kami pakai untuk berbagi, Andaikata pickup kami tak cukup mempan, microphone ini bisa mungkin bisa menolong.
Dua lagu kami mainkan. Para penonton bersorak dan bertepuk tangan. Saya sempat melirik beberapa penonton barisan depan yang merupakan orang-orang Arab. Mereka tampak berbisik tersenyum dan berbinar matanya. Mungkin mereka cukup terkesan dengan wajah-wajah Asia kami yang begitu kontras dengan musik kami yang begitu Arab. Ditambah dengan tari zapin tiga vokalis kami, tidak hanya mereka yang orang Arab, melainkan hampir seluruh penonton bersorak. Bagaimanapun, penampilan gambus kami termasuk paling semarak di antara beberapa penampilan malam itu. Hanya grup kamilah yang instrumennya tidak terbatas berupa alat perkusi. Kami menyertakan dua keyboard, satu gitar bass, tiga alat perkusi, dua biola dan satu oud. Di tengah penampilan, saya sudah mulai tersenyum. Bagaimanapun keadaan kami, tapi semua bisa bermain dengan tanpa beban dan saling menutupi kekurangan masing-masing. Kami telah menunjukkan kerja tim yang baik.
Selepas acara, saya mendengar kasak-kusuk para penonton tentang pentas barusan. Para diplomat asing nampak begitu puas, para diplomat Indonesia nampak begitu bangga, dan para pementas pun nampak begitu lega. Kami saling menyapa, saling bersalaman, dan berfoto bersama. Saya tertarik untuk khusus menanyakan bagaimana permainan biola kami berdua di atas panggung tadi. Menurut beberapa teman, suara biola kami kurang begitu masuk, namun penampilan gambus secara umum tetap menarik. Seorang teman juga bilang jika ada sedikit nada-nada sumbang di permainan biola kami di awal lagu pertama. Saya malah jadi berharap, semoga sound system yang tidak berfungsi seratus persen tadi bisa menutupu sumbangnya permainan biola kami!
Walhasil, pentas malam itu sangat mengesankan bagi semua pihak yang terlibat dan juga bagi saya pribadi. Memang pentas kali ini tak akan bebas dari kritik sama sekali. Tetapi bukan berarti pentas ini juga tidak memberi pelajaran sama sekali.

0 Comments:
Post a Comment