Salah satu band Cairo yang sempat membuat saya penasaran adalah Wust el Balad. Nama band ini
seringkali muncul dalam jadwal agenda pertunjukan musik di beberapa tempat di Cairo. Lewat sebuah klipnya di salah satu saluran televisi musik lokal, saya mengerti kalau band ini telah berhasil menembus pasaran musik pop Mesir. Biasanya, pasar musik pop di televisi Mesir dan Arab pada umumnya diramaikan oleh para penyanyi solo. Namun kali ini, dengan balutan oriental fusion namun tetap ngepop, Wust el Balad mampu menarik minat para penikmat musik mainstream. Konsep band di dunia musik Arab, apapun itu genrenya, hanya bisa kita nikmati dalam versi audio atau live saja, Sulit sekali kita menikmati karyanya dalam bentuk klip di siaran televisi. Dengan prestasinya di televisi ini, plus omongan seorang teman yang menegaskan bahwa Wust el Balad adalah salah satu band representatif Cairo, saya semakin dibuat penasaran
Dan oktober lalu, tepatnya tanggal 24, saya akhirnya berkesempatan untuk menonton pertunjukan band ini secara live di Saqiat eL Sawy Culturewheel. Pada malam konser itu saya sempat dibuat khawatir ketinggalan pentas, karena sore sebelumnya Cairo diguyur oleh hujan lebat. Petangnya beberapa ruas jalan digenangi banjir sehingga menimbulkan kemacetan di mana-mana. Pukul 20.15, seperempat jam sebelum konser dimulai sesuai jadwal, saya bersama kawan Indonesia saya, Romi, telah berada di depan loket penjualan tiket. Kami membeli tiga karcis dengan harga total 75 pound Mesir, dua untuk kami, satu lagi untuk Joy yang masih dalam perjalanan. Melihat mengalirnya penonton, saya semakin cemas. Penjaga loket mengatakan kalau kursi telah penuh, dan tiket kami adalah tiket masuk tanpa jatah kursi. Agak kecewa sebenarnya. Tapi saya berpikir tak apalah apabila konser malam ini saya lewatkan sambil berdiri. Saat musik mulai terdengar dari panggung, Joy baru datang. Buru-buru kamu bertiga masuk ke arena.
Dan yang saya temukan waktu itu lebih mengagetkan dari apa yang saya bayangkan. Ternyata river hall (qa'at an nahr) yang menjadi lokasi acara telah dibuka penutupnya yang ada di bagian depan. Dan para penonton yang tak dapat masuk hall membanjir sampai ke taman yang berada di depan sebuah kafetaria. Saya agak kesal karena sebelumnya saya menduga bahwa penonton akan dibatasi. Namun hingga beberapa saat setelah konser dimulai, penonton masih berdatangan. Walhasil, kami bertiga, dengan bodi melayu, harus berjinjit-jinjit kaki di tengah kerumunan badan-badan Arab dan bule.
Saya merasa kurang nyaman dengan tempat semula, kemudian bilang ke kedua teman saya kalau saya mau mencari tempat yang lebih longgar. Namun sejauh saya berjalan mengitar, tak ada tempat yang lowong. Saya kembali ke tempat semula namun tak berhasil menemukan kedua teman saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari sendiri tempat menonton saya.
Saya benar-benar membuktikan bahwa Wust el Balad benar-benar sebuah grup musik berkelas. Penonton yang melimpah, hampir semuanya hafal lagu-lagu kepunyaan grup ini. Ada delapan orang punggawa Wust el Balad, yang mencolok di antaranya bagi saya adalah Hany Adel, vokalis sekaligus gitaris, Adham el Said pada vokal, dan Ahmad Omran si pemain oud. Lagu-lagu yang sebagian besar diciptakan oleh Hany Adel memuat nuansa beragam, dari blues, jazz, rock and roll hingga country. Adham el Said, pria yang menyandang cacat kaki, adalah sang penuang rasa oriental dari lagu-lagu malam itu dengan suara tinggi dan cengkok khas Arab yang begitu dikuasainya. Sementara Ahmad Omran benar-benar mencengangkan, karena memainkan semua interlude solo dari lagu dari awal sampai akhir, semua menggunakan oud. Saya bertanya-tanya, kenapa harus oud yang dibebani semua solo, padahal masih ada dua pemain gitar lagi yaitu Ismail Fawzy dan Asaan Nessim. Sementara itu tiga pemain Wust el Balad yang lain adalah Ahmed Omar pada bass, serta Mohammed ‘Mizo’ Gamal el Din dan Ehab ‘Bob” Abd el Hameed di bagian perkusi.
Semua lagu malam itu menggunakan bahasa Arab. Namun lagi-lagi Hany Adel bisa begitu cerdas menuangkannya dalam irama-irama barat. Ia bahkan menunjukkan kemampuannya dalam membunyikan beatbox khas music acapella dalam lagu Ya ‘Amm Sam. Nomor-nomor lain yang begitu rancak benar--benar mampu menggoyang seluruh ruangan. Sementara itu tema lagu yang maneka warna, cukup menyegarkan telinga saya yang terbiasa mendengarkan lagu pop Arab bertema cinta. Lagu yang sangat berkesan bagi saya malam itu adalah Segrat Gawava, yang dimulai dengan irama pelan, namun menghentak dalam bait reffrain. Pengaturan lampu yang tepat, menghadirkan susana tersendiri. Ketika ruangan gelap, tiba-tiba berubah benderang seiring alunan reffrain yang dipadu dengan goyangan penonton. Ruangan sebesar itu serasa bergetar saja dibuatnya.
Pasca jeda, penampilan dibuka lagi dengan sebuah lagu yang sentimentil dan dan relijius. Qul Li dimainkan dengan tanpa iringan perkusi plus sorot lampu redup yang memberikan hawa syahdu. Di lagu inilah Ahmed Omar mulai menunjukkan skill yang sebelumnya saya kira bisa-biasa saja. Dia memainkan gimbri sebuah alat musik petik tradisional yang tabung resonansinya berbentuk persegi panjang, biasa digunakan oleh kelompok sufi Gnawa dari Maroko. Di nomor Kan ‘Andina Salam bahkan seolah tak terima dengan perkiraan saya atasnya tadi. Sebuah interlude dipercayakan padanya dan diisi dengan solo bass yang penuh teknik, mulai slap hingga hammering. Cowok hitam keturunan Eritrea ini nampak tertawa puas di atas panggung.
Namun kenikmatan konser malam itu sempat terganggu oleh ngadatnya sebuah salon di dekat kerumunan tempat saya berada. Apabila dibesarkan volumenya, suaranya akan terasa sangat kencang, namun apabila dikecilkan, suara akan terdengar terlalu lirih. Daripada memekakkan telinga, akhirnya pantia memilih untuk mengecilkan suara salon. Sayang sekali, saya menjadi kurang puas mendengar petikan oud Ahad Omran. Suara oud yang dimainkan oleh satu-satunya personel Wust el Balad yang berlatar belakang pendidikan musik akademis ini terasa begitu saja tenggelam oleh suara-suara panggung yang lain.
Satu lagi yang bagi saya kurang bagi Wust el Balad, yaitu alat-alat perkusi yang hanya berupa perkusi tradisional Arab plus conga, tanpa menyertakan drum. Memang semua perkusi ini adalah elemen pengental dari rasa Arab band ini, namun saya yakin suara drum tidak akan mengalahkan porsi dari alat-alat perkusi itu. Bagi saya, lagu-lagu Wust el Balad yang berirama rancak, akan semakin mengegetarkan dengan tambahan instrumen drum.
Ada peristiwa menarik saat jeda konser. Waktu itu saya yang baru saja duduk di depan kafetaria tiba-tiba dipanggil oleh seseorang dalam bahasa Inggris. "Indonesian?" Tanya dia, dan saya jawab dengan kata yes. Sejurus kemudian, meluncur kata-kata dari mulutnya yang intinya seputar kekecewaan atas konser malam itu. Pertama dia kecewa dengan harga tiket yang mahal namun tidak disertai fasilitas kursi yang memadai. "Twenty five pounds is twenty five thousands in my country”, ujarnya. Ia juga mengkritik gaya para penonton yang terkesan western habis. Di mata dia para anak-anak muda ini tak punya masa depan yang cerah.
Setelah saya tahu jika ternyata dia berasal dari Yaman, saya baru mafhum. Pakainnya yang tidak terlalu trendy, kemudian sentimen dia terhadap anak-anak muda Mesir benar-benar meyakinkan saya bahwa dia adalah orang Yaman. Dia ternyata bisa menebak bahwa saya adalah orang Indonesia karena dia pernah punya seorang kawan akrab dari Indonesia.
Obrolan berlanjut, sesekali dengan bahasa Arab. Saya bisa memahami sentimen dia sebagai warga dari sebuah negara Arab yang cukup miskin. Saya memanasi saja obrolan kali itu dengan beberapa penilaian miring saya tentang orang Mesir, dan dia pun makin bersemangat. Dia mengaku sebagai seorang jurnalis, dan berencana meneruskan studi magisternya di Cairo. Malam itu, rencananya ia ingin menyaksikan sebuah konser di sebuah pusat kebudayaan. Namun nampaknya konser ini tidak seberbudaya yang ia harapkan.
Obrolan saya geser ke permasalahan kesulitan ekonomi negara masing-masing. Lalu kami mendiskusikan tentang pemikiran beberapa tokoh semisal Karl Marx dan Thomas Hobbes. Saya bertanya tentang komoditas utama perdagangan di Yaman. ia pun menjawab, "gad". Ia mengucapkan kata itu seraya menggelembungkan pipi kirinya. Saat itu saya telah tahu bahwa gad (tulisan aslinya qat, namun orang Yaman terbuasa membunyikan vocal q dengan suara g) adalah salah satu tanaman candu yang tidak memabukkan. Para pecandu biasa mengunyah tanaman ini dalam jumlah banyak hingga pipinya menggelembung. Saya lirik gigi-gigi pria ini, nampak bercak-bercak coklat. Rupanya orang ini pengunyah gad juga!
Malam itu konser ditutup dengan sebuah lagu berjudul sama dengan nama band yaitu Wust el Balad. Saya, Romi. dan Joy sudah tidak kuat menahan badan sedari tadi untuk tidak bergoyang. Akhirnya kami melompat-lompat, sembari meneriakkan kata-kata "wust el balad", kata-kata yang termuat dalam reffrain lagu. Dan si Yaman nampaknya tak kuat juga; akhirnya kami berempat pun bergoyang bersama. Ayo menari, lupakan Marx, lupakan gad, lupakan dollar yang menggila!
seringkali muncul dalam jadwal agenda pertunjukan musik di beberapa tempat di Cairo. Lewat sebuah klipnya di salah satu saluran televisi musik lokal, saya mengerti kalau band ini telah berhasil menembus pasaran musik pop Mesir. Biasanya, pasar musik pop di televisi Mesir dan Arab pada umumnya diramaikan oleh para penyanyi solo. Namun kali ini, dengan balutan oriental fusion namun tetap ngepop, Wust el Balad mampu menarik minat para penikmat musik mainstream. Konsep band di dunia musik Arab, apapun itu genrenya, hanya bisa kita nikmati dalam versi audio atau live saja, Sulit sekali kita menikmati karyanya dalam bentuk klip di siaran televisi. Dengan prestasinya di televisi ini, plus omongan seorang teman yang menegaskan bahwa Wust el Balad adalah salah satu band representatif Cairo, saya semakin dibuat penasaranDan oktober lalu, tepatnya tanggal 24, saya akhirnya berkesempatan untuk menonton pertunjukan band ini secara live di Saqiat eL Sawy Culturewheel. Pada malam konser itu saya sempat dibuat khawatir ketinggalan pentas, karena sore sebelumnya Cairo diguyur oleh hujan lebat. Petangnya beberapa ruas jalan digenangi banjir sehingga menimbulkan kemacetan di mana-mana. Pukul 20.15, seperempat jam sebelum konser dimulai sesuai jadwal, saya bersama kawan Indonesia saya, Romi, telah berada di depan loket penjualan tiket. Kami membeli tiga karcis dengan harga total 75 pound Mesir, dua untuk kami, satu lagi untuk Joy yang masih dalam perjalanan. Melihat mengalirnya penonton, saya semakin cemas. Penjaga loket mengatakan kalau kursi telah penuh, dan tiket kami adalah tiket masuk tanpa jatah kursi. Agak kecewa sebenarnya. Tapi saya berpikir tak apalah apabila konser malam ini saya lewatkan sambil berdiri. Saat musik mulai terdengar dari panggung, Joy baru datang. Buru-buru kamu bertiga masuk ke arena.
Dan yang saya temukan waktu itu lebih mengagetkan dari apa yang saya bayangkan. Ternyata river hall (qa'at an nahr) yang menjadi lokasi acara telah dibuka penutupnya yang ada di bagian depan. Dan para penonton yang tak dapat masuk hall membanjir sampai ke taman yang berada di depan sebuah kafetaria. Saya agak kesal karena sebelumnya saya menduga bahwa penonton akan dibatasi. Namun hingga beberapa saat setelah konser dimulai, penonton masih berdatangan. Walhasil, kami bertiga, dengan bodi melayu, harus berjinjit-jinjit kaki di tengah kerumunan badan-badan Arab dan bule.
Saya merasa kurang nyaman dengan tempat semula, kemudian bilang ke kedua teman saya kalau saya mau mencari tempat yang lebih longgar. Namun sejauh saya berjalan mengitar, tak ada tempat yang lowong. Saya kembali ke tempat semula namun tak berhasil menemukan kedua teman saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari sendiri tempat menonton saya.
Saya benar-benar membuktikan bahwa Wust el Balad benar-benar sebuah grup musik berkelas. Penonton yang melimpah, hampir semuanya hafal lagu-lagu kepunyaan grup ini. Ada delapan orang punggawa Wust el Balad, yang mencolok di antaranya bagi saya adalah Hany Adel, vokalis sekaligus gitaris, Adham el Said pada vokal, dan Ahmad Omran si pemain oud. Lagu-lagu yang sebagian besar diciptakan oleh Hany Adel memuat nuansa beragam, dari blues, jazz, rock and roll hingga country. Adham el Said, pria yang menyandang cacat kaki, adalah sang penuang rasa oriental dari lagu-lagu malam itu dengan suara tinggi dan cengkok khas Arab yang begitu dikuasainya. Sementara Ahmad Omran benar-benar mencengangkan, karena memainkan semua interlude solo dari lagu dari awal sampai akhir, semua menggunakan oud. Saya bertanya-tanya, kenapa harus oud yang dibebani semua solo, padahal masih ada dua pemain gitar lagi yaitu Ismail Fawzy dan Asaan Nessim. Sementara itu tiga pemain Wust el Balad yang lain adalah Ahmed Omar pada bass, serta Mohammed ‘Mizo’ Gamal el Din dan Ehab ‘Bob” Abd el Hameed di bagian perkusi.
Semua lagu malam itu menggunakan bahasa Arab. Namun lagi-lagi Hany Adel bisa begitu cerdas menuangkannya dalam irama-irama barat. Ia bahkan menunjukkan kemampuannya dalam membunyikan beatbox khas music acapella dalam lagu Ya ‘Amm Sam. Nomor-nomor lain yang begitu rancak benar--benar mampu menggoyang seluruh ruangan. Sementara itu tema lagu yang maneka warna, cukup menyegarkan telinga saya yang terbiasa mendengarkan lagu pop Arab bertema cinta. Lagu yang sangat berkesan bagi saya malam itu adalah Segrat Gawava, yang dimulai dengan irama pelan, namun menghentak dalam bait reffrain. Pengaturan lampu yang tepat, menghadirkan susana tersendiri. Ketika ruangan gelap, tiba-tiba berubah benderang seiring alunan reffrain yang dipadu dengan goyangan penonton. Ruangan sebesar itu serasa bergetar saja dibuatnya.
Pasca jeda, penampilan dibuka lagi dengan sebuah lagu yang sentimentil dan dan relijius. Qul Li dimainkan dengan tanpa iringan perkusi plus sorot lampu redup yang memberikan hawa syahdu. Di lagu inilah Ahmed Omar mulai menunjukkan skill yang sebelumnya saya kira bisa-biasa saja. Dia memainkan gimbri sebuah alat musik petik tradisional yang tabung resonansinya berbentuk persegi panjang, biasa digunakan oleh kelompok sufi Gnawa dari Maroko. Di nomor Kan ‘Andina Salam bahkan seolah tak terima dengan perkiraan saya atasnya tadi. Sebuah interlude dipercayakan padanya dan diisi dengan solo bass yang penuh teknik, mulai slap hingga hammering. Cowok hitam keturunan Eritrea ini nampak tertawa puas di atas panggung.
Namun kenikmatan konser malam itu sempat terganggu oleh ngadatnya sebuah salon di dekat kerumunan tempat saya berada. Apabila dibesarkan volumenya, suaranya akan terasa sangat kencang, namun apabila dikecilkan, suara akan terdengar terlalu lirih. Daripada memekakkan telinga, akhirnya pantia memilih untuk mengecilkan suara salon. Sayang sekali, saya menjadi kurang puas mendengar petikan oud Ahad Omran. Suara oud yang dimainkan oleh satu-satunya personel Wust el Balad yang berlatar belakang pendidikan musik akademis ini terasa begitu saja tenggelam oleh suara-suara panggung yang lain.
Satu lagi yang bagi saya kurang bagi Wust el Balad, yaitu alat-alat perkusi yang hanya berupa perkusi tradisional Arab plus conga, tanpa menyertakan drum. Memang semua perkusi ini adalah elemen pengental dari rasa Arab band ini, namun saya yakin suara drum tidak akan mengalahkan porsi dari alat-alat perkusi itu. Bagi saya, lagu-lagu Wust el Balad yang berirama rancak, akan semakin mengegetarkan dengan tambahan instrumen drum.
Ada peristiwa menarik saat jeda konser. Waktu itu saya yang baru saja duduk di depan kafetaria tiba-tiba dipanggil oleh seseorang dalam bahasa Inggris. "Indonesian?" Tanya dia, dan saya jawab dengan kata yes. Sejurus kemudian, meluncur kata-kata dari mulutnya yang intinya seputar kekecewaan atas konser malam itu. Pertama dia kecewa dengan harga tiket yang mahal namun tidak disertai fasilitas kursi yang memadai. "Twenty five pounds is twenty five thousands in my country”, ujarnya. Ia juga mengkritik gaya para penonton yang terkesan western habis. Di mata dia para anak-anak muda ini tak punya masa depan yang cerah.
Setelah saya tahu jika ternyata dia berasal dari Yaman, saya baru mafhum. Pakainnya yang tidak terlalu trendy, kemudian sentimen dia terhadap anak-anak muda Mesir benar-benar meyakinkan saya bahwa dia adalah orang Yaman. Dia ternyata bisa menebak bahwa saya adalah orang Indonesia karena dia pernah punya seorang kawan akrab dari Indonesia.
Obrolan berlanjut, sesekali dengan bahasa Arab. Saya bisa memahami sentimen dia sebagai warga dari sebuah negara Arab yang cukup miskin. Saya memanasi saja obrolan kali itu dengan beberapa penilaian miring saya tentang orang Mesir, dan dia pun makin bersemangat. Dia mengaku sebagai seorang jurnalis, dan berencana meneruskan studi magisternya di Cairo. Malam itu, rencananya ia ingin menyaksikan sebuah konser di sebuah pusat kebudayaan. Namun nampaknya konser ini tidak seberbudaya yang ia harapkan.
Obrolan saya geser ke permasalahan kesulitan ekonomi negara masing-masing. Lalu kami mendiskusikan tentang pemikiran beberapa tokoh semisal Karl Marx dan Thomas Hobbes. Saya bertanya tentang komoditas utama perdagangan di Yaman. ia pun menjawab, "gad". Ia mengucapkan kata itu seraya menggelembungkan pipi kirinya. Saat itu saya telah tahu bahwa gad (tulisan aslinya qat, namun orang Yaman terbuasa membunyikan vocal q dengan suara g) adalah salah satu tanaman candu yang tidak memabukkan. Para pecandu biasa mengunyah tanaman ini dalam jumlah banyak hingga pipinya menggelembung. Saya lirik gigi-gigi pria ini, nampak bercak-bercak coklat. Rupanya orang ini pengunyah gad juga!
Malam itu konser ditutup dengan sebuah lagu berjudul sama dengan nama band yaitu Wust el Balad. Saya, Romi. dan Joy sudah tidak kuat menahan badan sedari tadi untuk tidak bergoyang. Akhirnya kami melompat-lompat, sembari meneriakkan kata-kata "wust el balad", kata-kata yang termuat dalam reffrain lagu. Dan si Yaman nampaknya tak kuat juga; akhirnya kami berempat pun bergoyang bersama. Ayo menari, lupakan Marx, lupakan gad, lupakan dollar yang menggila!
0 Comments:
Post a Comment