Sunday, April 12, 2009

Oud dan Gaza dalam konser " Au Francais” oleh Mohammad Abozekry


Karena ketertarikan terhadap musik Arab klasik, saya mulai menggemari sebuah alat musik khas timur tengah, oud. Alat musik petik tanpa fret dan berbentuk gembung ini lebih dikenal di Indonesia dengan nama gambus. Transmisi Arab-Islam ke Indonesia melalui jalur Yaman membawa pula aspek kesenian dan kebudayaan Arab ala Yaman ini. Di masa lalu ,alat musik petik gambus (berasal dari kata asli qanbus yang dibaca dengan dialek Arab teluk menjadi gambus) adalah representasi dari alat musik petik dari negeri Yaman. Tetapi alat musik ini lama-kelamaan digeser keberadaannya oleh oud yang penggunaanya lebih populer di negar-negara Timur Tengah lainnya. Dibanding dengan gambus, oud memiliki neck yang lebih sempit, tetapi mempunya tabung resonansi yang lebih tebal. Namun karena yang lebih dahulu dikenal adalah gambus, maka alat musik oud juga dikenal pula sebagai gambus di Indonesia.




Semenjak di
tanah air saya telah mengenal keberadaan oud ini, tetapi tidak disertai ketertarikan untuk mengetahui seluk beluknya lebih dalam. Baru ketika berada di Cairo inilah saya gemar menikmati permainan oud dalam berbagai gaya dan oleh berbagai pemain baik dari Timur Tengah, persia, Turki, Andalusia, atau negara-negara Eropa mediteran lainnya.

Di Mesir, oud jelas memiliki peran penting dalam sejarah dan perkembangan musiknya. Musik Arab di negeri ini baik dalam konsep klasik maupun modern tidak akan pernah menafikan keberadaan oud sebagai elemennya. Oud karya para perajin mesir juga merupakan salah satu dari karya terbaik di antara oud-oud bikinan negara-negara lain. Dan yang paling penting, Mesir juga memiliki bayt al oud arabi (rumah oud arab) sebagai cagar preservasi salah satu khazanah instrumen musik arab ini.

Bayt Oud Arabi
(Rumah Oud Arab) bertempat di sebuah rumah tua yang didirikan pada tahun 1731, yang dikenal dengan nama bayt Harawi. Ia terletak persis di belakang
komplek kampus di mana saya kuliah yaitu Universitas Al Azhar. Rumah ini menampung banyak murid dari berbagai negara yang berniat mempelajari seluk beluk alat musik oud. Saya bahkan sempat berniat untuk mendaftar menjadi salah satu murid dari institut musik ini, namun niat ini saya urungkan karena ongkos belajar yang masih terlampau tinggi bagi saya.Hal yang menarik bagi saya adalah bahwa institut ini dikelola di bawah supervisi Naser Shamma, seorang virtuoso oud dari Iraq yang sekarang berhijrah di Cairo karena alasan keamanan. Ia adalah salah satu sosok pemain oud kenamaan dan terkenal dengan inovasi teknik one-handed dalam permainan alat musik oud.

Selain
Naser Shamma, ada satu lagi sosok menarik dari Bayt Oud Arabi yaitu Mohammad Abozekry. Dia menjadi terkenal di dunia musik Arab karena dia mempelajari alat musik oud di bawah Asuhan Nasser Shamma pada usia 10 tahun. Dan hebatnya lagi, saat ini ketika dia baru berumur 15 tahun, ia sudah mendapatkan predikat sebagai pengajar. Konon dengan predikat ini ia dinobatkan sebagai instruktur oud termuda di dunia pada saat ini.

Dan pada kamis malam tanggal 15 januari lalu saya beruntung mendapatkan kesempata
n untuk menyaksikan penampilan sang guru termuda ini. Waktu itu ia tampil di ajang pertunjukan musik yang diadakan di CFCC (Centre Français de Culture et de Coopération), pusat kebudayaan Perancis di kota Cairo. Seperti biasanya CFCC memang selalu aktif menampilkan konser musika secara gratis di samping pertunjukan, pameran maupun even-even lainnya. Dan sesuai jadwal, konser malam ini adalah konser tunggal yang bakal menjadi ajang permainan 'habis-habisan' Abozekry.

Malam itu saya sempat duduk-duduk sebentar di lobi CFCC sembari menunggu pukul delapan malam datang, saat pertunjukan akan di mulai. Di salah satu kursi saya menemukan seorang remaja berwajah mirip Abozekry. Saya agak ragu-ragu apakah dia benar-benar Abozekry atau tidak. Pikir saya Abozekry tidak akan berwajah semuda ini saat berusia 15 tahun. Dan saya membiarkan keraguan itu dengan tanpa berusaha bertanya kepada anak muda ini, apakah dia benar Abozekry atau sekedar salah satu kerabatnya.

Ruangan pertunjukan malam itu benar-benar penuh oleh penonton, baik orang Perancis, Mesir atau dari negara-negara lain. Malam jumat adalah malam liburan, maka tak heran kalau penonton membludak bahkan sebagian dari mereka yang harus rela berdiri. Acara dikonsep dengan santai, dibuka oleh pembawa acara melalui dua bahasa, Arab dan perancis. Selepas pembukaan ini panggung sepenuhnya diserahkan kepda si empunya konser.

Dan yang ditungu-tunggu muncullah. Mohammad Abozekry ini ternyata memang bukan anak muda yang saya lihat di lobi tadi. Abozekry saat itu adalah sesosok yang telah nampak makin dewasa, sama sekali berbeda dengan sosok kecilnya sewaktu tampil di sebuah acara televisi yang pernah saya tonton. Ia membungkuk kepada penonton kemudian langsung membuka konser malam itu dengan sebuah taqsim (permainan tunggal)

Selepas nomor pertama ia mulai membuka komunikasi dengan penonton. Pertama kali ia menggunakan bahasa Arab, dan setelah kalimat Arab itu selesai, salah satu penonton dari Perancis berteriak, " au Francais!" Dan Abozekry pun berbicara menggunakan bahasa Perancis dengan fasihnya. Dan selanjutnya, dalam setiap kesempatan berbicara, ia selalu menggunakan dua bahasa yaitu Arab dan Perancis. Abozekry benar-benar menunjukkan bahwa dia memang telah siap menjadi seorang musisi profesional. Kemampuannya berkomunikasi dengan penonton sebagai salah satu ketrampilan seorang performer telah ia miliki, di samping ketrampilan permainan musik yang prima.

Ada dua belas nomor yang ia mainkan malam itu. Beberapa adalah karya musisi atau penyanyi lawas Arab seperti Muhammad Abdul Wahhab atau Fairuz. Beberapa komposisi lain adalah karya sang guru, Nasser Shamma, dan beberapa yang lain adalah gubahan orisinil Abozekry.

Saya benar-benar membuktikan kehebatan sang maestro muda di pertunjukan malam itu. Nomor-nomor taqsim yang ia mainkan menyertakan berbagai maqam (skala) mulai dari bayyati hingga hijaz. Sementara skala diatonik-kromatis yang dalam terma musik Arab dikenal sebagai skala ajam juga dengan apik ia mainkan, baik itu dalam tangga nada mayor maupun minor. Dalam satu nomor ia beranjak dari sebuah irama melankoli, sontak menuju nada lagu kebangsaan Mesir "Biladi, Bilady" yang berirama allegretto; sebuah kejutan yang memberikan efek sensasional bagi penonton.

Teknik-teknik permainan oud dalam aneka bentuknya disajikan dengan sangat renyah oleh Abozekry. Tenik slide, vibrato, tremolo sebagai menu wajib permainan oud jelas tidak ketinggalan. Lebih dari itu, teknik-teknik yang tak jamak ditemukan dalam permainan oud pada umumnya mampu mampu disuguhkan pula oleh Abozekry dan berhasil memukau penonton. Layaknya memainkan gitar, ia memetik oud dengan teknik harmoni juga dengan dinamik cepat ala teknik shredding pada gitar elektrik. Yang memukau saya secara pribadi adalah bagaimana Abozekry bisa memainkan chord pada permainan oud, bukan melulu melodi seperti yang sebelumya saya tahu. Sayang sekali, teknik one-handed inovasi Nasser Shamma yang begitu saya nantikan hanya sebentar sekali dimainkan oleh Abozekry.

Dan Abozekry tak selalu sendirian dalam konser ini. Ada Sharif serta Khalid yang masing-masing tampil sebagai pemain gitar dan pemain perkusi. Dengan porsi tepat, Sharif dan khalid tidak dimainkan pada nomor-nomor taqsim yang memang ditampilkan dalam rangka menonjolkan kekuatan permainan Abozekry. Sementara di beberapa nomor lain dua pemain tambahan ini tampil untuk membantu membangun suasana irama dari nomor yang ditampilkan. Salah satu nomor yang beriraama ala Spanyol menjadi begitu hidup dengan iringan gitar akustik Sharif. Sementara satu nomor lain yang berirama bossanova menjadi lengkap dengan pukulan conga yang disajikan oleh Khalid. Gitar dan perkusi juga begitu membantu pada saat sebuah irama pelan harus begitu kentara ketukannya, sebagaimana membantu pada saat irama cepat harus begitu terasa bersemangat.

Bagaimanapun sang maestro dalam kematangan permainannya malam itu masih begitu menampakkan sisi kepribadian belianya. Ia seringkali tersenyum-senyum sedikit malu pada setiap kesempatan berbicara. Dengan polosnya ia akan mengibas-ngibaskan telapak tangan kananya yang mungkin kelelahan menggenggam risha (batang pemetik oud) dalam setiap nomor. Ia juga tanpa ragu meminta penonton menunggu tatkala ia menyetem oud yang akan ia mainkan. Tetapi semua kepolosan ini malah menjadi daya tarik dan sumber kerenyahan konser. Komunikasi antara ia dan penonton menjadi begitu cair. Tetapi sayang sekali, mikrofon untuk Abozekry berbicara mengalami gangguan sehingga penonton harus begitu teliti mengamati setiap kata-kata yang meluncur dari mulut Abozekry. Dari awal hingga satu nomor sebelum terakhir mirofon yang tak beres ini menjadi pengganggu kenikmatan jalannya konser.

Hingga saat jeda sebelum nmor terakhir, Abozekry yang nampaknya sudah tidak tahan, meminta sang pengatur tata suara untuk mengeraskan volume mikrofon yang bermasalah itu. "Karena ini yang terakhir," tutur Abozekry disusul tawa para penonton. Selain ucapan terimakasih, Abozekry menjelaskan bahwa nomor terakhir adalah komposisi karyanya sendiri, yang ia persembahkan bagi para korban konflik Gaza, yang masih saja berlangsung hingga malam itu. Nomor terakhir ini berupa sebuah komposisi dengan perubahan tempo dari pelan menuju cepat, demikian berulang-ulang. Mungkin ini adalah empati terhadap perasaan para korban konflik Gaza yang begitu campur aduk; dari pasrah menuju kemarahan, kembali pasrah, lalu menuju kemarahan, demikian berulang-ulang. Dan mungkin juga kostum hitam-hitam lengkap dengan kufiyah (kain surban khas Palestina) yang dikenakan tiga pemanggung adalah wujud simpati dan duka mereka karena konflik tersebut.

Malam itu konser berakhir dengan tepuk tangan panjang para penonton dan berkali kali bungkuk badan dari pemanggung. Para penonton nampak puas sebagaimana puasnya sang musisi muda beserta keluarganya yang khusyuk menyimak konser sedari tadi di barisan depan. Dan seorang bocah mirip Abozekry yang saya lihat sebelum konser tadi ternyata adalah adik dari sang maestro. Mereka nampak berpelukan erat, nampak gembira dengan suksesnya konser malam itu.

Di luar, tak jauh dari gedung pertunjukan, saya melihat sebuah rumah sakit yang dipenuhi poster serta dipadati beberapa wartawan. Poster-poster itu berisi gambar-gambar tentang konflik Gaza serta bertuliskan kalimat li ajliki ya Ghazzah (karena engkau oh Gaza). Dan beberapa wartawan tersebut ternyata sedang mewawancarai seseorang yang saya pikir mungkin adalah salah satu dokter di rumah sakit itu.

Saya kira, simpati itu bisa berbeda-beda bentuknya.



0 Comments: