Wednesday, April 15, 2009

Wacken yang Bergemuruh Setahun Sekali


Siapa saja yang mengaku metalhead (penggemar musik metal), pasti tahu tentang Wacken Open Air (WOA), festival musik metal terbuka yang digelar setiap tahun di Jerman. Kabarnya, festival metal ini termasuk yang terhebat di seantero jagad; setiap edisinya menyertakan rata-rata 70 grup band yang berada di bawah payung genre heavy metal dan extreme metal. Selama tiga hari di musim panas, WOA diselenggarakan di padang rumput pedesaan Wacken, provinsi Schleswig-Holstein yang termasuk bagian wilayah Jerman sebelah utara. Dari popularitasnya, festival metal yang diadakan sejak tahun 1990 ini bisa mendatangkan sekitar 70 000 lebih metalheads dari seluruh penjuru dunia setiap tahunnya.



Dan tanggal 12 januari 2009 lalu adalah saat yang menggembirakan bagi saya terkait ketertarikan dan rasa penasaran saya terhadap WOA. Hari itu tepatnya, pukul tujuh malam, bertempat di Goethe-Institut Cairo, diadakan pemutaran film "Full Metal Village" yang merupakan film dokumenter tentang WOA ini. Dimulai dari jalanan Cairo yang macet serta langkanya angkutan umum, say
a hadir telat sekitar 10 menit di ruang pemutaran film. Namun beruntung, saya masih melewatkan saat tulisan judul film ini keluar. Ternyata saya tidak terlalu terlambat.

Waktu itu kursi-kursi bagian depan telah terisi. Dari kegelapan deretan kursi belakang, saya bisa mengenali tubuh dan suara bule-bule yang berada di depan. Yang cukup mengganggu saya adalah kekhawatiran soal kostum yang seya pakai. Apa pasal? Sebagai metalhead, saya sudah pasti berusaha menyesuaikan kostum saya dengan tema film. Saya memakai busana serba hitam mulai topi sampai sepatu. Cuman saya masih merasa kurang ‘metal’ dengan kaus hitam bertuliskan Metallica yang saya pakai. Saya malu seandainya nanti ternyata banyak kaus penonton yang lebih 'metal' dari sekedar Metallica. Dan sebenarnya pun saya bukan penggila trash metal, aliran yang diusung oleh Metallica. Saya lebih gemar aliran-aliran metal ala daratan Eropa semisal aliran Power Metal, Symphonic Metal, Folk metal atau Viking Metal. Namun semua kekhawatiran saya itu belum terbukti karena ruangan yang terlampau gelap bagi saya untuk sekedar memperhatikan kostum atau aksesoris penonton yang lain. Yang pasti saya masih tenang dengan kostum serba hitam saya, kecuali satu; syal penghangat leher di malam musim dingin, berupa kufiyah ala mendiang Yasser Arafat yang berwarna dominan putih!

Bagian awal film mengetengahkan suasana dan kehidupan sehari-hari 'kota kecamatan' Wacken yang begitu bersahaja. Sung Hyung Cho sutradara wanita Jerman berdarah Korea Selatan ini nampaknya ingin mengeksplorasi bagaimana potret Wacken yang sama sekali
lepas dari WOA, hal yang selama ini identik bagi daerah pertanian ini. Suasana sehari-hari Wacken ditampakkan bersama beberapa tokoh dari berbagai latar belakang usia, dan profesi. Ada petani, ada peternak, ada penjaga minimarket, ada pendeta, ada kakek-kakek, ada pasangan muda, juga ada remaja. Suasana Wacken ditampakkan oleh padang-padang rumput, ladang-ladang, peternakan, jalanan aspal pedesaan. Jalanan dan perumahan di pusat keramaian Wacken tetap nampak begitu sunyi tetapi teratur dan bersih, khas pedesaan Eropa.

Hampir satu jam film ini mengeksplorasi kehidupan Wacken yang sama sekali tidak 'metal'. Nampak sekali Sung Hyung Cho ingin mengkontraskan suasana hening ini dengan hingar bingar WOA yang begitu bergemuruh. Wawancara tentang kehidupan sehari-hari, mulai ihwal peternakan sapi, soal modelling agency, hingga obrolan soal cinta menghiasi bagian awal film ini. Saya yang maniak musik metal sempat dibikin bosan dengan scene-scene awal yang terasa begitu lamban ini. Suasana benar-benar sepi, apalagi dengan iringan musik yang sejak awal hanya berupa ensembel biola, cello dan flute.

Namun demikian, ada juga sedikit obrolan dan adegan yang terkait dengan fenomena WOA dan musik metal pada umumnya. Irma Schaack sebagai seorang nenek yang religius memiliki pandangan miring soal musik metal yang diidentikkan dengan fenomena satanisme. Norbert Venohr dan Birte Venohr, pasangan suami istri yang pernah mengorganisir pagelaran musik metal di masa mudanya bercerita tentang bagaimana ia harus keluar dari dunia itu karena beberapa grup band mulai meminta bayaran. Ann-Kathrin Schaack gadis yang berminat di dunia modelling malah gembira dengan datangnya WOA karena ia akan bebas memakai kostum apapun tanpa harus dipelototi tetangga. Yang cukup 'metal' adalah selingan-selingan scene proses persiapan festival, mulai dari kedatangan truk pengangkut peralatan hingga pendirian panggung. Pemotongan rumput lokasi festival juga telah dilakukan, jalan-jalan dibersihkan, rambu-rambu juga dirapikan.

Suhu film mulai menaik saat adegan di mana Uwe Trede yang merupakan tokoh masyarakat setempat mengundang masyarakat ke peternakannya untuk berembug soal WOA bersama sang kepala polisi. Pertemuan ini berisi briefing bagi orang-orang yang mau
menjadi sukarelawan panitia di ajang WOA mendatang. Sehabis itu suasana film baru benar-benar berubah. “Breaking The Law” kepunyaan Judast Priest menghentak memecah kesunyian film yang sedari tadi 'membekukan' saya. Benar-benar tak tahan rasanya untuk menghentak-hentakkan kaki sambil bernyanyi-nyanyi lirih. Saya perhatikan suasana sekitar, tak ada seorangpun yang ikut menyanyikan lagu Judas Priest ini. Saya pun mengecilkan volume suara agar tak terlalu mengganggu penonton lain.

Itulah awal sepertiga film terakhir, saat scene menyajikan gambaran bagaimana metalheads dari berbagai negara
dan dengan berbagai bahasa mulai membanjiri Wacken yang sebelumnya teramat sunyi. Berbagai kendaraan mulai mobil pribadi, bus, hingga sepeda memenuhi jalanan pedesaan Wacken. Berbagai gaya dan bermacam kegilaan metalheads juga dapat kita saksikan di tengah Wacken yang mulai 'menghitam'. Masyarakat setempat yang menjadi tenaga sukarela memakai seragam bertuliskan steward sibuk mengatur lalu lintas dan menjadi penunjuk jalan. Jalan-jalan telah dipenuhi tanda penunjuk arah, pagar-pagar inpermanen, spanduk-sapanduk selamat datang, serta bendera-bendera. Minimarket laris diserbu pembeli. Seorang bapak tua berdiri di pinggir jalan memberikan salam dua jari, telunjuk dan kelingking, kepada para metalheads yang melintas. Serang bapak tua lain memasang bendera hitam WOA di jendela rumahnya. Bendera ini bergambar lambang WOA, tengkorak banteng bertanduk, yang mungkin diinspirasikan dari susana peternakan sapi di daerah Wacken ini. Norbert Venohr yang adalah metalhead di masa mudanya, dengan bangga berdiri bersama istri dan dua anak laki-laki kecilnya, semuanya lengkap berseragam metal, menyambut setiap metalhead yang lalu lalang.

Dan festival ini dimulailah, dengan pembukaan dan penampilan grup band korps pemadam kebakaran Wa
cken. Lagu-lagu grup ini tidaklah metal sama sekali, tetapi diapresiasi dengan begitu kocak oleh kerumunan brigade rambut gondrong. Ribuan orang mulai menyemut di antara panggung-panggung, mulai dari panggung besar hingga panggung sederhana yang beralas tanah. Ribuan tenda berderet-deret di hamparan padang rumput nampak begitu menarik dipandang dari langit mendung Wacken. Hujan dan tanah becek malah menambah suasana semakin gila. Puluhan band menggoyang massa, mulai dari Kreator dengan lagunya “Pleasure to Kill” hingga band lokal yang menyanyikan “Paranoid” dari Black Sabbath. Semua rekaman suasana ini diambil dari WOA edisi tahun 2005 dan 2006.

Saya belum merasa benar-benar terhentak, namun film harus disudahi dengan secepat itu. Wacken harus kembali dihadirkan dengan begitu sunyi. Scene selanjutnya adalah gambran tentang bagaimana sampah menjadi begitu menumpuk di permukaan padang rumput Wacken. Lagi-lagi Uwe sebagai orang yang dituakan tampil kembali memimpin para sukarelawan yang terdiri dari-anak-anak muda untuk memunguti dan mengumpulkan sampah tersebut. Dengan sepeda motor ATV miliknya, ia tampak mondar-mandir mengawasi jalannya kerja bakti hari itu.

Terhitung sekitar 90 menit sejak awal dimulai, film ini berakhirlah sudah. Lampu ruangan menyala, dan para penonton mulai keluar. Saya memeriksa sekeliling, dan ternyata saya adalah satu-satunya orang berkostum metal malam itu. Beberapa orang berkebangsaan jerman nampak berambut gondrong, namun dengan penampilan yang sama sekali tidak 'metal'. Saya sadar ternyata kebanyakan penonton malam itu adalah orang-orng Jerman yang sedang rindu kampung halamannya, atau muada-mudi Mesir yang ingin mendalami bahasa Jerman melalui film itu. Maka mungkin hanya sayalah penonton malam itu yang hadir karena dorongan spirit of metal.

Sambil berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah saya masih berpikir tentang film barusan. Saya menjadi semakin mengerti tentang betapa dahsyatnya WOA. Kedahsyatan yang tetap menjunjung nuansa perdamaian dan kesatuan atas nama musik metal, yang tak mudah begitu saja harus berakhir rusuh hanya karena sekedar headbanging atau moshing misalnya. Dan yang paling mengesankan adalah bagaimana Wacken yang sunyi serta musik metal yang gemuruh bisa saling berbagi, bekerja sama, dan saling menghormati.






0 Comments: