Wednesday, April 15, 2009

Wacken yang Bergemuruh Setahun Sekali


Siapa saja yang mengaku metalhead (penggemar musik metal), pasti tahu tentang Wacken Open Air (WOA), festival musik metal terbuka yang digelar setiap tahun di Jerman. Kabarnya, festival metal ini termasuk yang terhebat di seantero jagad; setiap edisinya menyertakan rata-rata 70 grup band yang berada di bawah payung genre heavy metal dan extreme metal. Selama tiga hari di musim panas, WOA diselenggarakan di padang rumput pedesaan Wacken, provinsi Schleswig-Holstein yang termasuk bagian wilayah Jerman sebelah utara. Dari popularitasnya, festival metal yang diadakan sejak tahun 1990 ini bisa mendatangkan sekitar 70 000 lebih metalheads dari seluruh penjuru dunia setiap tahunnya.



Dan tanggal 12 januari 2009 lalu adalah saat yang menggembirakan bagi saya terkait ketertarikan dan rasa penasaran saya terhadap WOA. Hari itu tepatnya, pukul tujuh malam, bertempat di Goethe-Institut Cairo, diadakan pemutaran film "Full Metal Village" yang merupakan film dokumenter tentang WOA ini. Dimulai dari jalanan Cairo yang macet serta langkanya angkutan umum, say
a hadir telat sekitar 10 menit di ruang pemutaran film. Namun beruntung, saya masih melewatkan saat tulisan judul film ini keluar. Ternyata saya tidak terlalu terlambat.

Waktu itu kursi-kursi bagian depan telah terisi. Dari kegelapan deretan kursi belakang, saya bisa mengenali tubuh dan suara bule-bule yang berada di depan. Yang cukup mengganggu saya adalah kekhawatiran soal kostum yang seya pakai. Apa pasal? Sebagai metalhead, saya sudah pasti berusaha menyesuaikan kostum saya dengan tema film. Saya memakai busana serba hitam mulai topi sampai sepatu. Cuman saya masih merasa kurang ‘metal’ dengan kaus hitam bertuliskan Metallica yang saya pakai. Saya malu seandainya nanti ternyata banyak kaus penonton yang lebih 'metal' dari sekedar Metallica. Dan sebenarnya pun saya bukan penggila trash metal, aliran yang diusung oleh Metallica. Saya lebih gemar aliran-aliran metal ala daratan Eropa semisal aliran Power Metal, Symphonic Metal, Folk metal atau Viking Metal. Namun semua kekhawatiran saya itu belum terbukti karena ruangan yang terlampau gelap bagi saya untuk sekedar memperhatikan kostum atau aksesoris penonton yang lain. Yang pasti saya masih tenang dengan kostum serba hitam saya, kecuali satu; syal penghangat leher di malam musim dingin, berupa kufiyah ala mendiang Yasser Arafat yang berwarna dominan putih!

Bagian awal film mengetengahkan suasana dan kehidupan sehari-hari 'kota kecamatan' Wacken yang begitu bersahaja. Sung Hyung Cho sutradara wanita Jerman berdarah Korea Selatan ini nampaknya ingin mengeksplorasi bagaimana potret Wacken yang sama sekali
lepas dari WOA, hal yang selama ini identik bagi daerah pertanian ini. Suasana sehari-hari Wacken ditampakkan bersama beberapa tokoh dari berbagai latar belakang usia, dan profesi. Ada petani, ada peternak, ada penjaga minimarket, ada pendeta, ada kakek-kakek, ada pasangan muda, juga ada remaja. Suasana Wacken ditampakkan oleh padang-padang rumput, ladang-ladang, peternakan, jalanan aspal pedesaan. Jalanan dan perumahan di pusat keramaian Wacken tetap nampak begitu sunyi tetapi teratur dan bersih, khas pedesaan Eropa.

Hampir satu jam film ini mengeksplorasi kehidupan Wacken yang sama sekali tidak 'metal'. Nampak sekali Sung Hyung Cho ingin mengkontraskan suasana hening ini dengan hingar bingar WOA yang begitu bergemuruh. Wawancara tentang kehidupan sehari-hari, mulai ihwal peternakan sapi, soal modelling agency, hingga obrolan soal cinta menghiasi bagian awal film ini. Saya yang maniak musik metal sempat dibikin bosan dengan scene-scene awal yang terasa begitu lamban ini. Suasana benar-benar sepi, apalagi dengan iringan musik yang sejak awal hanya berupa ensembel biola, cello dan flute.

Namun demikian, ada juga sedikit obrolan dan adegan yang terkait dengan fenomena WOA dan musik metal pada umumnya. Irma Schaack sebagai seorang nenek yang religius memiliki pandangan miring soal musik metal yang diidentikkan dengan fenomena satanisme. Norbert Venohr dan Birte Venohr, pasangan suami istri yang pernah mengorganisir pagelaran musik metal di masa mudanya bercerita tentang bagaimana ia harus keluar dari dunia itu karena beberapa grup band mulai meminta bayaran. Ann-Kathrin Schaack gadis yang berminat di dunia modelling malah gembira dengan datangnya WOA karena ia akan bebas memakai kostum apapun tanpa harus dipelototi tetangga. Yang cukup 'metal' adalah selingan-selingan scene proses persiapan festival, mulai dari kedatangan truk pengangkut peralatan hingga pendirian panggung. Pemotongan rumput lokasi festival juga telah dilakukan, jalan-jalan dibersihkan, rambu-rambu juga dirapikan.

Suhu film mulai menaik saat adegan di mana Uwe Trede yang merupakan tokoh masyarakat setempat mengundang masyarakat ke peternakannya untuk berembug soal WOA bersama sang kepala polisi. Pertemuan ini berisi briefing bagi orang-orang yang mau
menjadi sukarelawan panitia di ajang WOA mendatang. Sehabis itu suasana film baru benar-benar berubah. “Breaking The Law” kepunyaan Judast Priest menghentak memecah kesunyian film yang sedari tadi 'membekukan' saya. Benar-benar tak tahan rasanya untuk menghentak-hentakkan kaki sambil bernyanyi-nyanyi lirih. Saya perhatikan suasana sekitar, tak ada seorangpun yang ikut menyanyikan lagu Judas Priest ini. Saya pun mengecilkan volume suara agar tak terlalu mengganggu penonton lain.

Itulah awal sepertiga film terakhir, saat scene menyajikan gambaran bagaimana metalheads dari berbagai negara
dan dengan berbagai bahasa mulai membanjiri Wacken yang sebelumnya teramat sunyi. Berbagai kendaraan mulai mobil pribadi, bus, hingga sepeda memenuhi jalanan pedesaan Wacken. Berbagai gaya dan bermacam kegilaan metalheads juga dapat kita saksikan di tengah Wacken yang mulai 'menghitam'. Masyarakat setempat yang menjadi tenaga sukarela memakai seragam bertuliskan steward sibuk mengatur lalu lintas dan menjadi penunjuk jalan. Jalan-jalan telah dipenuhi tanda penunjuk arah, pagar-pagar inpermanen, spanduk-sapanduk selamat datang, serta bendera-bendera. Minimarket laris diserbu pembeli. Seorang bapak tua berdiri di pinggir jalan memberikan salam dua jari, telunjuk dan kelingking, kepada para metalheads yang melintas. Serang bapak tua lain memasang bendera hitam WOA di jendela rumahnya. Bendera ini bergambar lambang WOA, tengkorak banteng bertanduk, yang mungkin diinspirasikan dari susana peternakan sapi di daerah Wacken ini. Norbert Venohr yang adalah metalhead di masa mudanya, dengan bangga berdiri bersama istri dan dua anak laki-laki kecilnya, semuanya lengkap berseragam metal, menyambut setiap metalhead yang lalu lalang.

Dan festival ini dimulailah, dengan pembukaan dan penampilan grup band korps pemadam kebakaran Wa
cken. Lagu-lagu grup ini tidaklah metal sama sekali, tetapi diapresiasi dengan begitu kocak oleh kerumunan brigade rambut gondrong. Ribuan orang mulai menyemut di antara panggung-panggung, mulai dari panggung besar hingga panggung sederhana yang beralas tanah. Ribuan tenda berderet-deret di hamparan padang rumput nampak begitu menarik dipandang dari langit mendung Wacken. Hujan dan tanah becek malah menambah suasana semakin gila. Puluhan band menggoyang massa, mulai dari Kreator dengan lagunya “Pleasure to Kill” hingga band lokal yang menyanyikan “Paranoid” dari Black Sabbath. Semua rekaman suasana ini diambil dari WOA edisi tahun 2005 dan 2006.

Saya belum merasa benar-benar terhentak, namun film harus disudahi dengan secepat itu. Wacken harus kembali dihadirkan dengan begitu sunyi. Scene selanjutnya adalah gambran tentang bagaimana sampah menjadi begitu menumpuk di permukaan padang rumput Wacken. Lagi-lagi Uwe sebagai orang yang dituakan tampil kembali memimpin para sukarelawan yang terdiri dari-anak-anak muda untuk memunguti dan mengumpulkan sampah tersebut. Dengan sepeda motor ATV miliknya, ia tampak mondar-mandir mengawasi jalannya kerja bakti hari itu.

Terhitung sekitar 90 menit sejak awal dimulai, film ini berakhirlah sudah. Lampu ruangan menyala, dan para penonton mulai keluar. Saya memeriksa sekeliling, dan ternyata saya adalah satu-satunya orang berkostum metal malam itu. Beberapa orang berkebangsaan jerman nampak berambut gondrong, namun dengan penampilan yang sama sekali tidak 'metal'. Saya sadar ternyata kebanyakan penonton malam itu adalah orang-orng Jerman yang sedang rindu kampung halamannya, atau muada-mudi Mesir yang ingin mendalami bahasa Jerman melalui film itu. Maka mungkin hanya sayalah penonton malam itu yang hadir karena dorongan spirit of metal.

Sambil berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah saya masih berpikir tentang film barusan. Saya menjadi semakin mengerti tentang betapa dahsyatnya WOA. Kedahsyatan yang tetap menjunjung nuansa perdamaian dan kesatuan atas nama musik metal, yang tak mudah begitu saja harus berakhir rusuh hanya karena sekedar headbanging atau moshing misalnya. Dan yang paling mengesankan adalah bagaimana Wacken yang sunyi serta musik metal yang gemuruh bisa saling berbagi, bekerja sama, dan saling menghormati.






Tuesday, April 14, 2009

Marx dan Hobbes di Tengah Kerumun Konser Wust el Balad

Salah satu band Cairo yang sempat membuat saya penasaran adalah Wust el Balad. Nama band ini seringkali muncul dalam jadwal agenda pertunjukan musik di beberapa tempat di Cairo. Lewat sebuah klipnya di salah satu saluran televisi musik lokal, saya mengerti kalau band ini telah berhasil menembus pasaran musik pop Mesir. Biasanya, pasar musik pop di televisi Mesir dan Arab pada umumnya diramaikan oleh para penyanyi solo. Namun kali ini, dengan balutan oriental fusion namun tetap ngepop, Wust el Balad mampu menarik minat para penikmat musik mainstream. Konsep band di dunia musik Arab, apapun itu genrenya, hanya bisa kita nikmati dalam versi audio atau live saja, Sulit sekali kita menikmati karyanya dalam bentuk klip di siaran televisi. Dengan prestasinya di televisi ini, plus omongan seorang teman yang menegaskan bahwa Wust el Balad adalah salah satu band representatif Cairo, saya semakin dibuat penasaran



Dan oktober lalu, tepatnya tanggal 24, saya akhirnya berkesempatan untuk menonton pertunjukan band ini secara live di Saqiat eL Sawy Culturewheel. Pada malam konser itu saya sempat dibuat khawatir ketinggalan pentas, karena sore sebelumnya Cairo diguyur oleh hujan lebat. Petangnya beberapa ruas jalan digenangi banjir sehingga menimbulkan kemacetan di mana-mana. Pukul 20.15, seperempat jam sebelum konser dimulai sesuai jadwal, saya bersama kawan Indonesia saya, Romi, telah berada di depan loket penjualan tiket. Kami membeli tiga karcis dengan harga total 75 pound Mesir, dua untuk kami, satu lagi untuk Joy yang masih dalam perjalanan. Melihat mengalirnya penonton, saya semakin cemas. Penjaga loket mengatakan kalau kursi telah penuh, dan tiket kami adalah tiket masuk tanpa jatah kursi. Agak kecewa sebenarnya. Tapi saya berpikir tak apalah apabila konser malam ini saya lewatkan sambil berdiri. Saat musik mulai terdengar dari panggung, Joy baru datang. Buru-buru kamu bertiga masuk ke arena.

Dan yang saya temukan waktu itu lebih mengagetkan dari apa yang saya bayangkan. Ternyata river hall (qa'at an nahr) yang menjadi lokasi acara telah dibuka penutupnya yang ada di bagian depan. Dan para penonton yang tak dapat masuk hall membanjir sampai ke taman yang berada di depan sebuah kafetaria. Saya agak kesal karena sebelumnya saya menduga bahwa penonton akan dibatasi. Namun hingga beberapa saat setelah konser dimulai, penonton masih berdatangan. Walhasil, kami bertiga, dengan bodi melayu, harus berjinjit-jinjit kaki di tengah kerumunan badan-badan Arab dan bule.

Saya merasa kurang nyaman dengan tempat semula, kemudian bilang ke kedua teman saya kalau saya mau mencari tempat yang lebih longgar. Namun sejauh saya berjalan mengitar, tak ada tempat yang lowong. Saya kembali ke tempat semula namun tak berhasil menemukan kedua teman saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari sendiri tempat menonton saya.

Saya benar-benar membuktikan bahwa Wust el Balad benar-benar sebuah grup musik berkelas. Penonton yang melimpah, hampir semuanya hafal lagu-lagu kepunyaan grup ini. Ada delapan orang punggawa Wust el Balad, yang mencolok di antaranya bagi saya adalah Hany Adel, vokalis sekaligus gitaris, Adham el Said pada vokal, dan Ahmad Omran si pemain oud. Lagu-lagu yang sebagian besar diciptakan oleh Hany Adel memuat nuansa beragam, dari blues, jazz, rock and roll hingga country. Adham el Said, pria yang menyandang cacat kaki, adalah sang penuang rasa oriental dari lagu-lagu malam itu dengan suara tinggi dan cengkok khas Arab yang begitu dikuasainya. Sementara Ahmad Omran benar-benar mencengangkan, karena memainkan semua interlude solo dari lagu dari awal sampai akhir, semua menggunakan oud. Saya bertanya-tanya, kenapa harus oud yang dibebani semua solo, padahal masih ada dua pemain gitar lagi yaitu Ismail Fawzy dan Asaan Nessim. Sementara itu tiga pemain Wust el Balad yang lain adalah Ahmed Omar pada bass, serta Mohammed ‘Mizo’ Gamal el Din dan Ehab ‘Bob” Abd el Hameed di bagian perkusi.

Semua lagu malam itu menggunakan bahasa Arab. Namun lagi-lagi Hany Adel bisa begitu cerdas menuangkannya dalam irama-irama barat. Ia bahkan menunjukkan kemampuannya dalam membunyikan beatbox khas music acapella dalam lagu Ya ‘Amm Sam. Nomor-nomor lain yang begitu rancak benar--benar mampu menggoyang seluruh ruangan. Sementara itu tema lagu yang maneka warna, cukup menyegarkan telinga saya yang terbiasa mendengarkan lagu pop Arab bertema cinta. Lagu yang sangat berkesan bagi saya malam itu adalah Segrat Gawava, yang dimulai dengan irama pelan, namun menghentak dalam bait reffrain. Pengaturan lampu yang tepat, menghadirkan susana tersendiri. Ketika ruangan gelap, tiba-tiba berubah benderang seiring alunan reffrain yang dipadu dengan goyangan penonton. Ruangan sebesar itu serasa bergetar saja dibuatnya.

Pasca jeda, penampilan dibuka lagi dengan sebuah lagu yang sentimentil dan dan relijius. Qul Li dimainkan dengan tanpa iringan perkusi plus sorot lampu redup yang memberikan hawa syahdu. Di lagu inilah Ahmed Omar mulai menunjukkan skill yang sebelumnya saya kira bisa-biasa saja. Dia memainkan gimbri sebuah alat musik petik tradisional yang tabung resonansinya berbentuk persegi panjang, biasa digunakan oleh kelompok sufi Gnawa dari Maroko. Di nomor Kan ‘Andina Salam bahkan seolah tak terima dengan perkiraan saya atasnya tadi. Sebuah interlude dipercayakan padanya dan diisi dengan solo bass yang penuh teknik, mulai slap hingga hammering. Cowok hitam keturunan Eritrea ini nampak tertawa puas di atas panggung.

Namun kenikmatan konser malam itu sempat terganggu oleh ngadatnya sebuah salon di dekat kerumunan tempat saya berada. Apabila dibesarkan volumenya, suaranya akan terasa sangat kencang, namun apabila dikecilkan, suara akan terdengar terlalu lirih. Daripada memekakkan telinga, akhirnya pantia memilih untuk mengecilkan suara salon. Sayang sekali, saya menjadi kurang puas mendengar petikan oud Ahad Omran. Suara oud yang dimainkan oleh satu-satunya personel Wust el Balad yang berlatar belakang pendidikan musik akademis ini terasa begitu saja tenggelam oleh suara-suara panggung yang lain.

Satu lagi yang bagi saya kurang bagi Wust el Balad, yaitu alat-alat perkusi yang hanya berupa perkusi tradisional Arab plus conga, tanpa menyertakan drum. Memang semua perkusi ini adalah elemen pengental dari rasa Arab band ini, namun saya yakin suara drum tidak akan mengalahkan porsi dari alat-alat perkusi itu. Bagi saya, lagu-lagu Wust el Balad yang berirama rancak, akan semakin mengegetarkan dengan tambahan instrumen drum.

Ada peristiwa menarik saat jeda konser. Waktu itu saya yang baru saja duduk di depan kafetaria tiba-tiba dipanggil oleh seseorang dalam bahasa Inggris. "Indonesian?" Tanya dia, dan saya jawab dengan kata yes. Sejurus kemudian, meluncur kata-kata dari mulutnya yang intinya seputar kekecewaan atas konser malam itu. Pertama dia kecewa dengan harga tiket yang mahal namun tidak disertai fasilitas kursi yang memadai. "Twenty five pounds is twenty five thousands in my country”, ujarnya. Ia juga mengkritik gaya para penonton yang terkesan western habis. Di mata dia para anak-anak muda ini tak punya masa depan yang cerah.

Setelah saya tahu jika ternyata dia berasal dari Yaman, saya baru mafhum. Pakainnya yang tidak terlalu trendy, kemudian sentimen dia terhadap anak-anak muda Mesir benar-benar meyakinkan saya bahwa dia adalah orang Yaman. Dia ternyata bisa menebak bahwa saya adalah orang Indonesia karena dia pernah punya seorang kawan akrab dari Indonesia.

Obrolan berlanjut, sesekali dengan bahasa Arab. Saya bisa memahami sentimen dia sebagai warga dari sebuah negara Arab yang cukup miskin. Saya memanasi saja obrolan kali itu dengan beberapa penilaian miring saya tentang orang Mesir, dan dia pun makin bersemangat. Dia mengaku sebagai seorang jurnalis, dan berencana meneruskan studi magisternya di Cairo. Malam itu, rencananya ia ingin menyaksikan sebuah konser di sebuah pusat kebudayaan. Namun nampaknya konser ini tidak seberbudaya yang ia harapkan.

Obrolan saya geser ke permasalahan kesulitan ekonomi negara masing-masing. Lalu kami mendiskusikan tentang pemikiran beberapa tokoh semisal Karl Marx dan Thomas Hobbes. Saya bertanya tentang komoditas utama perdagangan di Yaman. ia pun menjawab, "gad". Ia mengucapkan kata itu seraya menggelembungkan pipi kirinya. Saat itu saya telah tahu bahwa gad (tulisan aslinya qat, namun orang Yaman terbuasa membunyikan vocal q dengan suara g) adalah salah satu tanaman candu yang tidak memabukkan. Para pecandu biasa mengunyah tanaman ini dalam jumlah banyak hingga pipinya menggelembung. Saya lirik gigi-gigi pria ini, nampak bercak-bercak coklat. Rupanya orang ini pengunyah gad juga!

Malam itu konser ditutup dengan sebuah lagu berjudul sama dengan nama band yaitu Wust el Balad. Saya, Romi. dan Joy sudah tidak kuat menahan badan sedari tadi untuk tidak bergoyang. Akhirnya kami melompat-lompat, sembari meneriakkan kata-kata "wust el balad", kata-kata yang termuat dalam reffrain lagu. Dan si Yaman nampaknya tak kuat juga; akhirnya kami berempat pun bergoyang bersama. Ayo menari, lupakan Marx, lupakan gad, lupakan dollar yang menggila!




Sunday, April 12, 2009

Oud dan Gaza dalam konser " Au Francais” oleh Mohammad Abozekry


Karena ketertarikan terhadap musik Arab klasik, saya mulai menggemari sebuah alat musik khas timur tengah, oud. Alat musik petik tanpa fret dan berbentuk gembung ini lebih dikenal di Indonesia dengan nama gambus. Transmisi Arab-Islam ke Indonesia melalui jalur Yaman membawa pula aspek kesenian dan kebudayaan Arab ala Yaman ini. Di masa lalu ,alat musik petik gambus (berasal dari kata asli qanbus yang dibaca dengan dialek Arab teluk menjadi gambus) adalah representasi dari alat musik petik dari negeri Yaman. Tetapi alat musik ini lama-kelamaan digeser keberadaannya oleh oud yang penggunaanya lebih populer di negar-negara Timur Tengah lainnya. Dibanding dengan gambus, oud memiliki neck yang lebih sempit, tetapi mempunya tabung resonansi yang lebih tebal. Namun karena yang lebih dahulu dikenal adalah gambus, maka alat musik oud juga dikenal pula sebagai gambus di Indonesia.




Semenjak di
tanah air saya telah mengenal keberadaan oud ini, tetapi tidak disertai ketertarikan untuk mengetahui seluk beluknya lebih dalam. Baru ketika berada di Cairo inilah saya gemar menikmati permainan oud dalam berbagai gaya dan oleh berbagai pemain baik dari Timur Tengah, persia, Turki, Andalusia, atau negara-negara Eropa mediteran lainnya.

Di Mesir, oud jelas memiliki peran penting dalam sejarah dan perkembangan musiknya. Musik Arab di negeri ini baik dalam konsep klasik maupun modern tidak akan pernah menafikan keberadaan oud sebagai elemennya. Oud karya para perajin mesir juga merupakan salah satu dari karya terbaik di antara oud-oud bikinan negara-negara lain. Dan yang paling penting, Mesir juga memiliki bayt al oud arabi (rumah oud arab) sebagai cagar preservasi salah satu khazanah instrumen musik arab ini.

Bayt Oud Arabi
(Rumah Oud Arab) bertempat di sebuah rumah tua yang didirikan pada tahun 1731, yang dikenal dengan nama bayt Harawi. Ia terletak persis di belakang
komplek kampus di mana saya kuliah yaitu Universitas Al Azhar. Rumah ini menampung banyak murid dari berbagai negara yang berniat mempelajari seluk beluk alat musik oud. Saya bahkan sempat berniat untuk mendaftar menjadi salah satu murid dari institut musik ini, namun niat ini saya urungkan karena ongkos belajar yang masih terlampau tinggi bagi saya.Hal yang menarik bagi saya adalah bahwa institut ini dikelola di bawah supervisi Naser Shamma, seorang virtuoso oud dari Iraq yang sekarang berhijrah di Cairo karena alasan keamanan. Ia adalah salah satu sosok pemain oud kenamaan dan terkenal dengan inovasi teknik one-handed dalam permainan alat musik oud.

Selain
Naser Shamma, ada satu lagi sosok menarik dari Bayt Oud Arabi yaitu Mohammad Abozekry. Dia menjadi terkenal di dunia musik Arab karena dia mempelajari alat musik oud di bawah Asuhan Nasser Shamma pada usia 10 tahun. Dan hebatnya lagi, saat ini ketika dia baru berumur 15 tahun, ia sudah mendapatkan predikat sebagai pengajar. Konon dengan predikat ini ia dinobatkan sebagai instruktur oud termuda di dunia pada saat ini.

Dan pada kamis malam tanggal 15 januari lalu saya beruntung mendapatkan kesempata
n untuk menyaksikan penampilan sang guru termuda ini. Waktu itu ia tampil di ajang pertunjukan musik yang diadakan di CFCC (Centre Français de Culture et de Coopération), pusat kebudayaan Perancis di kota Cairo. Seperti biasanya CFCC memang selalu aktif menampilkan konser musika secara gratis di samping pertunjukan, pameran maupun even-even lainnya. Dan sesuai jadwal, konser malam ini adalah konser tunggal yang bakal menjadi ajang permainan 'habis-habisan' Abozekry.

Malam itu saya sempat duduk-duduk sebentar di lobi CFCC sembari menunggu pukul delapan malam datang, saat pertunjukan akan di mulai. Di salah satu kursi saya menemukan seorang remaja berwajah mirip Abozekry. Saya agak ragu-ragu apakah dia benar-benar Abozekry atau tidak. Pikir saya Abozekry tidak akan berwajah semuda ini saat berusia 15 tahun. Dan saya membiarkan keraguan itu dengan tanpa berusaha bertanya kepada anak muda ini, apakah dia benar Abozekry atau sekedar salah satu kerabatnya.

Ruangan pertunjukan malam itu benar-benar penuh oleh penonton, baik orang Perancis, Mesir atau dari negara-negara lain. Malam jumat adalah malam liburan, maka tak heran kalau penonton membludak bahkan sebagian dari mereka yang harus rela berdiri. Acara dikonsep dengan santai, dibuka oleh pembawa acara melalui dua bahasa, Arab dan perancis. Selepas pembukaan ini panggung sepenuhnya diserahkan kepda si empunya konser.

Dan yang ditungu-tunggu muncullah. Mohammad Abozekry ini ternyata memang bukan anak muda yang saya lihat di lobi tadi. Abozekry saat itu adalah sesosok yang telah nampak makin dewasa, sama sekali berbeda dengan sosok kecilnya sewaktu tampil di sebuah acara televisi yang pernah saya tonton. Ia membungkuk kepada penonton kemudian langsung membuka konser malam itu dengan sebuah taqsim (permainan tunggal)

Selepas nomor pertama ia mulai membuka komunikasi dengan penonton. Pertama kali ia menggunakan bahasa Arab, dan setelah kalimat Arab itu selesai, salah satu penonton dari Perancis berteriak, " au Francais!" Dan Abozekry pun berbicara menggunakan bahasa Perancis dengan fasihnya. Dan selanjutnya, dalam setiap kesempatan berbicara, ia selalu menggunakan dua bahasa yaitu Arab dan Perancis. Abozekry benar-benar menunjukkan bahwa dia memang telah siap menjadi seorang musisi profesional. Kemampuannya berkomunikasi dengan penonton sebagai salah satu ketrampilan seorang performer telah ia miliki, di samping ketrampilan permainan musik yang prima.

Ada dua belas nomor yang ia mainkan malam itu. Beberapa adalah karya musisi atau penyanyi lawas Arab seperti Muhammad Abdul Wahhab atau Fairuz. Beberapa komposisi lain adalah karya sang guru, Nasser Shamma, dan beberapa yang lain adalah gubahan orisinil Abozekry.

Saya benar-benar membuktikan kehebatan sang maestro muda di pertunjukan malam itu. Nomor-nomor taqsim yang ia mainkan menyertakan berbagai maqam (skala) mulai dari bayyati hingga hijaz. Sementara skala diatonik-kromatis yang dalam terma musik Arab dikenal sebagai skala ajam juga dengan apik ia mainkan, baik itu dalam tangga nada mayor maupun minor. Dalam satu nomor ia beranjak dari sebuah irama melankoli, sontak menuju nada lagu kebangsaan Mesir "Biladi, Bilady" yang berirama allegretto; sebuah kejutan yang memberikan efek sensasional bagi penonton.

Teknik-teknik permainan oud dalam aneka bentuknya disajikan dengan sangat renyah oleh Abozekry. Tenik slide, vibrato, tremolo sebagai menu wajib permainan oud jelas tidak ketinggalan. Lebih dari itu, teknik-teknik yang tak jamak ditemukan dalam permainan oud pada umumnya mampu mampu disuguhkan pula oleh Abozekry dan berhasil memukau penonton. Layaknya memainkan gitar, ia memetik oud dengan teknik harmoni juga dengan dinamik cepat ala teknik shredding pada gitar elektrik. Yang memukau saya secara pribadi adalah bagaimana Abozekry bisa memainkan chord pada permainan oud, bukan melulu melodi seperti yang sebelumya saya tahu. Sayang sekali, teknik one-handed inovasi Nasser Shamma yang begitu saya nantikan hanya sebentar sekali dimainkan oleh Abozekry.

Dan Abozekry tak selalu sendirian dalam konser ini. Ada Sharif serta Khalid yang masing-masing tampil sebagai pemain gitar dan pemain perkusi. Dengan porsi tepat, Sharif dan khalid tidak dimainkan pada nomor-nomor taqsim yang memang ditampilkan dalam rangka menonjolkan kekuatan permainan Abozekry. Sementara di beberapa nomor lain dua pemain tambahan ini tampil untuk membantu membangun suasana irama dari nomor yang ditampilkan. Salah satu nomor yang beriraama ala Spanyol menjadi begitu hidup dengan iringan gitar akustik Sharif. Sementara satu nomor lain yang berirama bossanova menjadi lengkap dengan pukulan conga yang disajikan oleh Khalid. Gitar dan perkusi juga begitu membantu pada saat sebuah irama pelan harus begitu kentara ketukannya, sebagaimana membantu pada saat irama cepat harus begitu terasa bersemangat.

Bagaimanapun sang maestro dalam kematangan permainannya malam itu masih begitu menampakkan sisi kepribadian belianya. Ia seringkali tersenyum-senyum sedikit malu pada setiap kesempatan berbicara. Dengan polosnya ia akan mengibas-ngibaskan telapak tangan kananya yang mungkin kelelahan menggenggam risha (batang pemetik oud) dalam setiap nomor. Ia juga tanpa ragu meminta penonton menunggu tatkala ia menyetem oud yang akan ia mainkan. Tetapi semua kepolosan ini malah menjadi daya tarik dan sumber kerenyahan konser. Komunikasi antara ia dan penonton menjadi begitu cair. Tetapi sayang sekali, mikrofon untuk Abozekry berbicara mengalami gangguan sehingga penonton harus begitu teliti mengamati setiap kata-kata yang meluncur dari mulut Abozekry. Dari awal hingga satu nomor sebelum terakhir mirofon yang tak beres ini menjadi pengganggu kenikmatan jalannya konser.

Hingga saat jeda sebelum nmor terakhir, Abozekry yang nampaknya sudah tidak tahan, meminta sang pengatur tata suara untuk mengeraskan volume mikrofon yang bermasalah itu. "Karena ini yang terakhir," tutur Abozekry disusul tawa para penonton. Selain ucapan terimakasih, Abozekry menjelaskan bahwa nomor terakhir adalah komposisi karyanya sendiri, yang ia persembahkan bagi para korban konflik Gaza, yang masih saja berlangsung hingga malam itu. Nomor terakhir ini berupa sebuah komposisi dengan perubahan tempo dari pelan menuju cepat, demikian berulang-ulang. Mungkin ini adalah empati terhadap perasaan para korban konflik Gaza yang begitu campur aduk; dari pasrah menuju kemarahan, kembali pasrah, lalu menuju kemarahan, demikian berulang-ulang. Dan mungkin juga kostum hitam-hitam lengkap dengan kufiyah (kain surban khas Palestina) yang dikenakan tiga pemanggung adalah wujud simpati dan duka mereka karena konflik tersebut.

Malam itu konser berakhir dengan tepuk tangan panjang para penonton dan berkali kali bungkuk badan dari pemanggung. Para penonton nampak puas sebagaimana puasnya sang musisi muda beserta keluarganya yang khusyuk menyimak konser sedari tadi di barisan depan. Dan seorang bocah mirip Abozekry yang saya lihat sebelum konser tadi ternyata adalah adik dari sang maestro. Mereka nampak berpelukan erat, nampak gembira dengan suksesnya konser malam itu.

Di luar, tak jauh dari gedung pertunjukan, saya melihat sebuah rumah sakit yang dipenuhi poster serta dipadati beberapa wartawan. Poster-poster itu berisi gambar-gambar tentang konflik Gaza serta bertuliskan kalimat li ajliki ya Ghazzah (karena engkau oh Gaza). Dan beberapa wartawan tersebut ternyata sedang mewawancarai seseorang yang saya pikir mungkin adalah salah satu dokter di rumah sakit itu.

Saya kira, simpati itu bisa berbeda-beda bentuknya.